Komdis PSSI: Muhammad Hilmi, Pelaku Tendangan Kung Fu di Liga 4 Layak Dihukum Berat
Brutal di Liga 4! Muhammad Hilmi Tendang Dada Lawan, PS Putra Jaya Malah Bangga [Instagram PS Putrajaya]
11:48
6 Januari 2026

Komdis PSSI: Muhammad Hilmi, Pelaku Tendangan Kung Fu di Liga 4 Layak Dihukum Berat

Baca 10 detik
  • Pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi, melakukan tendangan brutal ke dada Firman Nugraha (Perseta 1970) pada Liga 4 Jatim, Senin (5/1/2026).
  • Ketua Komdis PSSI, Umar Husein, menegaskan tindakan tersebut tidak dapat ditoleransi dan menuntut penegakan Kode Disiplin tegas.
  • Komdis PSSI merekomendasikan hukuman terberat bagi pelaku, termasuk potensi larangan bermain sepak bola seumur hidup.

Insiden pelanggaran keras yang terjadi di kompetisi Liga 4 Jawa Timur berbuntut serius.

Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Umar Husein, akhirnya angkat bicara dan menegaskan bahwa tindakan brutal yang dilakukan pemain Putra Jaya Kabupaten Pasuruan, Muhammad Hilmi, tidak bisa ditoleransi.

Peristiwa tersebut terjadi dalam pertandingan Putra Jaya Kabupaten Pasuruan kontra Perseta 1970 Tulungagung yang digelar di Stadion Gelora Bangkalan, Senin (5/1/2026) pukul 13.00 WIB.

Laga ini merupakan bagian dari babak 32 besar Grup CC Liga 4 PSSI Jawa Timur. Pada pertandingan itu, Putra Jaya tampil dengan kostum kuning, sedangkan Perseta 1970 mengenakan jersey hijau.

Momen horor terjadi ketika pemain Perseta 1970, Firman Nugraha, berusaha merebut bola. Tanpa diduga, Muhammad Hilmi melakukan tendangan keras yang mengarah langsung ke dada Firman.

Pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi tendang dada pemain Perseta Pasuruan, Firman Nugraha (YouTube PSSI Jawa Timur) PerbesarPemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi tendang dada pemain Perseta Pasuruan, Firman Nugraha (YouTube PSSI Jawa Timur)

Kontak brutal tersebut membuat Firman terkapar di lapangan dan harus mendapat penanganan serius.

Wasit yang memimpin pertandingan langsung mengambil keputusan tegas dengan mengeluarkan kartu merah untuk Muhammad Hilmi bernomor punggung 23.

Situasi di lapangan sempat memanas karena pemain Perseta 1970 bereaksi keras atas pelanggaran tersebut.

Demi mencegah bentrokan lebih jauh, rekan setim Putra Jaya segera mengarahkan Hilmi meninggalkan lapangan.

Akibat insiden itu, Firman Nugraha harus dilarikan ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya aman setelah menerima tendangan berbahaya.

Kejadian ini pun langsung menjadi sorotan publik sepak bola Jawa Timur, terutama terkait jaminan keselamatan pemain di level kompetisi daerah.

“Ya, jadi isu tentang keselamatan atlet ini tidak hanya monopoli keluarga sepak bola. Jadi semua olahraga itu harus menjamin keselamatan atletnya,” kata Umar Husin dalam rilis yang diterima Suara.com, Selasa (6/1/2025).

“Jadi pertandingan bisa ditunda, bisa dibatalkan, bisa ditutup kalau mengancam keselamatan atlet dan pihak-pihak yang terlibat,” lanjutnya.

Dalam konteks sepak bola, Umar menegaskan bahwa aspek keselamatan juga diperkuat melalui Kode Disiplin.

Regulasi ini dirancang untuk mencegah terulangnya aksi-aksi brutal di lapangan hijau.

“Turunannya khusus sepak bola itu ada di Kode Disiplin gitu ya. Memang untuk mencegah berulangnya tindakan-tindakan brutal, memang harus ditegakkan secara tegas,” katanya.

“Artinya bagaimana sepak bola itu berkembang dengan sehat, dengan baik, dan tidak merugikan pihak lain."

“Nah, pihak-pihak yang mengancam atmosfer yang sehat ini, yang ini yang mesti ditertibkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Umar juga mengingatkan pentingnya peran panitia disiplin di seluruh level kompetisi. Ia meminta agar tidak ada keraguan dalam menjatuhkan hukuman kepada pelaku pelanggaran keras.

“Kami menghimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum,” ujarnya.

“Jadi itu penegasannya, agar Komdis di tingkat daerah ataupun Pandis itu bisa bertindak tegas tanpa ragu-ragu,” ia menambahkan.

Terkait langsung dengan kasus Muhammad Hilmi, Umar menilai sanksi berat sangat layak diberikan demi efek jera.

“Terkait kejadian tersebut kami rasa harus dihukum seberat-beratnya, seperti larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup,” pungkasnya.

Editor: Galih Prasetyo

Tag:  #komdis #pssi #muhammad #hilmi #pelaku #tendangan #kung #liga #layak #dihukum #berat

KOMENTAR