Dari Jake Paul vs Anthony Joshua: Tinju dan Ketakutan yang Tak Bisa Disembunyikan
Mari kita bicara soal tunangan bintang seluncur cepat dunia, Jutta Leerdam. Ya, pria itu adalah Jake Paul, figur kontroversial yang baru saja babak belur di Miami dalam sebuah “pertarungan tinju” yang, sejujurnya, lebih mirip tontonan rekayasa ketimbang duel sejati.
Lihat saja momen ketika Anthony Joshua menghentikan laga. Satu pukulan telak, rahang Jake Paul patah di dua titik. Tatapan matanya? Itu wajah ketakutan yang sesungguhnya. Sepersekian detik sebelum tubuhnya ambruk, Paul tampak linglung, tak lagi tahu harus ke mana.
Jake Paul adalah YouTuber sekaligus influencer Amerika yang kini bercita-cita menjadi petinju serius. Harus diakui, ia promotor ulung. Bahkan jika suatu hari ia ikut lomba balap gerobak sabun kelas berat, jutaan orang tetap akan menonton. Dalam konteks itu, Paul sukses besar. Dari laga ini saja, ia dikabarkan mengantongi sekitar 70 juta euro.
Masalahnya, tinju bukan sekadar hiburan. Ini olahraga keras dan berbahaya. Karena itu pula Paul sangat selektif memilih lawan dalam “kehidupan tinju”-nya yang serba diatur. Ia pernah menang angka atas Mike Tyson—mantan juara dunia yang kala itu sudah berusia 58 tahun. Kali ini, ia menghadapi Anthony Joshua, 36 tahun, mantan juara dunia yang masih petinju tulen.
"Laga ini terasa seperti parodi," tulis jurnalis Belanda Willem Vissers. Bukan hanya karena Paul sejatinya berada di kelas yang lebih ringan dan sepanjang pertandingan cenderung menghindar. Jika Joshua benar-benar berniat, pertarungan ini bisa berakhir jauh lebih cepat dan lebih brutal. Tapi petinju Inggris itu tidak melakukannya. "Ia seperti kucing yang bermain dengan tikus. Mengontrol, menahan diri, dan membiarkan lawannya tetap “utuh”. Sikap yang bisa disebut sportif. Dan mungkin juga demi Jutta Leerdam," tulis Willem lagi.
Netflix tentu bersorak. Jutaan pasang mata terpaku. Serial hebat saja tak lagi cukup bagi platform streaming. Mereka ingin sesuatu yang nyata: terjadi langsung, tanpa sutradara, tanpa naskah. Olahraga adalah jawabannya. Dan ketika hak siar sudah habis dibagi, mereka pun menciptakan acaranya sendiri.
Hari ini tinju, besok mungkin kejuaraan balap karung internasional di bulan. Atau lompat galah melintasi sungai penuh piranha. "Dunia tinju, dengan federasi yang ruwet dan struktur yang gelap, adalah lahan subur bagi pertarungan-pertarungan “imajiner” semacam ini. Tinggal buat poster megah, beri label “pertarungan abad ini”, uang pun mengalir," lanjut Willem.
Inilah benturan dua dunia. Dunia lama tinju: keras, penuh pengorbanan, melawan dunia baru olahraga yang sepenuhnya dikomersialkan. Dunia influencer yang tak ditempa bertahun-tahun di sasana, tetapi piawai menjual citra. Jake Paul pun rela wajahnya dihantam demi puluhan juta. Dan untuk sesaat, kita melihat sesuatu yang jarang terlihat: ketakutan telanjang di mata seorang petarung.
Biasanya, petinju bersembunyi di balik guard. Kali ini tidak. Di sudut ring, tanpa perlindungan, matanya seolah memohon belas kasihan.
Usai laga, Paul kembali menjadi pebisnis. Ia memamerkan wajah berlumuran darah dan foto rontgen rahangnya di media sosial. Lengkap dengan musik Jaws. Hiu dengan rahang legendaris. Ironis.
Inilah potret kemunduran olahraga elite yang paling gamblang. Berakar pada satu kesalahan mendasar: tinju bukan lelucon.
Tag: #dari #jake #paul #anthony #joshua #tinju #ketakutan #yang #bisa #disembunyikan