Tahun Ketiga Penyelenggaraan MotoGP Mandalika Indonesia, Dorna Keluhkan Harga Akomodasi yang Terlalu Tinggi
PERLEBAR JARAK: Jorge Martin (tengah) bersama timnya merayakan kemenangan pada balapan MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika Minggu (29/9). (BOBBY ARIFIN/JAWA POS)
16:59
30 September 2024

Tahun Ketiga Penyelenggaraan MotoGP Mandalika Indonesia, Dorna Keluhkan Harga Akomodasi yang Terlalu Tinggi

Upaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika terus dilakukan. Masalah akomodasi jadi salah satu perhatian.

RIZKA PERDANA PUTRA, Lombok Tengah

SUDAH tiga kali Hendri Jaya Putra, 36, menyaksikan balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika. Di tahun pertama dan kedua, dia mendapatkannya secara ’’gratis’’. Bekerja di sebuah sekolah di daerah Lombok Timur, dia mendapat satu jatah tiket nonton.

’’Tahun pertama dan kedua sepertinya panitia jual ke sekolah. Tapi tahun ini nggak ada, jadi saya beli sendiri,” ungkap Hendri kepada Jawa Pos di belakang tribun grandstand premium.

Hendri memang penggemar MotoGP. Karena itu, kesempatan untuk nonton langsung, apalagi dengan harga lebih murah, tidak dia sia-siakan. Dia mengaku mendapatkan tiket di zone C dengan harga sekitar Rp 200 ribu.

’’Harga normal sepertinya Rp 1,5 juta. Untung dapat harga lebih murah, jadi masih bisa merasakan sensasi nonton langsung, dengar suara (motor, Red) itu yang dikangenin,” tutur Hendri.

Menurutnya, animo penonton saat hari terakhir sebenarnya tidak jauh beda dengan tahun lalu. Meskipun, secara jumlah lebih banyak tahun pertama.

’’Kalau dibanding tahun lalu sepertinya lebih banyak sekarang, karena lebih seru. Mungkin karena Marquez sekarang sudah pindah (tim, Red) dan bisa lebih kompetitif. Jadi bisa narik penonton,” ujarnya.

Sementara itu, Joshua Mahawira Aswinabaya, 26, seorang agen travel di Ampenan, Mataram, menilai fasilitas MotoGP di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya tahun 2021. Terowongan sempat berlumpur karena hujan. ’’Sekarang sudah semen,” kata Joshua.

Lalu, dia juga melihat pembagian pintu masuk lebih terkoordinasi. Soal transportasi, dia juga tidak harus menunggu shuttle bus dalam waktu yang lama.

’’Dari parkiran nunggu cuma lima menit, kalau tahun lalu lebih banyak jalan kakinya, jadi memang perkembangannya nyicil,” imbuhnya.

Sebagai agen travel, Joshua juga melihat segmentasi penonton MotoGP Indonesia tahun ini semakin mengerucut. Tidak lagi didominasi oleh penonton umum.

’’Sekarang lebih terpetakan. Dulu asal punya tiket datang saja, kalau sekarang lebih tertata. Lebih banyak dari komunitas, tetapi jumlah permintaan relatif sama,” ungkap Joshua.

Meski begitu, penyelenggaraan tahun ketiga ini juga masih menyimpan sejumlah permasalahan. Seperti soal hosting fee yang belum terbayarkan sepenuhnya.

Lalu, satu hal yang sempat disebut-sebut jadi masalah adalah soal akomodasi. Hal itu diakui oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

’’Akomodasi kami sudah memberikan masukan, dan kebetulan diperkuat pandangan dari Dorna bahwa akomodasi di sini dikelola dengan harga terlalu tinggi,” kata Sandiaga, Jumat (27/9) lalu.

Chairman Indonesia MotoGP 2024 Troy Reza Warokka menilai, permasalahan hotel itu bisa jadi pembelajaran untuk tahun depan. Bahwa, semua pihak harus bekerja sama untuk memberikan harga yang kompetitif.

’’Supaya orang-orang datang ke sini, nonton dan stay. Bukan nonton pagi, pulang malam, langsung kembali. Jadi ya saya rasa semua ada proses,” tuturnya. 

Lebih lanjut, dia juga menyanggah bahwa MotoGP Mandalika tahun ini akan jadi keikutsertaan terakhir. Sebab, mereka masih punya ikatan kontrak 10 tahun dengan Dorna. (ka/c17/bas)

Editor: Dhimas Ginanjar

Tag:  #tahun #ketiga #penyelenggaraan #motogp #mandalika #indonesia #dorna #keluhkan #harga #akomodasi #yang #terlalu #tinggi

KOMENTAR