Menjaga Kewarasan di Tengah Kelelahan Masyarakat
Perang Iran. Ilustrasi perang di Iran. Perang Iran. Ahli Ungkap Dampak Ekonomi di Tengah Kebuntuan Negosiasi Perang AS dan Iran (AFP/KAWNAT HAJU)
09:02
23 Mei 2026

Menjaga Kewarasan di Tengah Kelelahan Masyarakat

KITA sedang mengalami kelelahan besar. Kelelahan ini bukan kurang tidur atau terlalu banyak bekerja. Ia lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih sulit didari sekadar itu.

Kita terlihat baik-baik saja di luar, tetap bekerja, tetap tersenyum, dan tetap aktif di media sosial.

Namun, di dalam kita seperti ada tenaga yang perlahan habis tanpa tahu bagaimana mengisinya kembali.

Ketika teknologi semakin canggih, transportasi semakin cepat, makanan semakin mudah didapat, dan informasi tinggal disentuh lewat layar, tapi kita justru semakin sering merasa letih. Bukan letih badan semata, melainkan letih pikiran dan letih batin.

Dulu kita berburu informasi. Sekarang informasi memburu kita.

Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi

Baru bangun tidur, layar ponsel langsung menyambut dengan berita perang, pertengkaran politik, harga kebutuhan naik, bencana alam, sampai potongan video motivasi yang membuat kita merasa kurang sukses. 

Dalam sehari kita menerima informasi yang mungkin lebih banyak dibanding manusia abad lampau selama berbulan-bulan. Padahal, otak kita tidak berevolusi secepat teknologi informasi. 

Otak atau pikiran kita dirancang untuk mencerna informasi secara perlahan, dalam komunitas kecil, dengan ritme hidup yang lebih tenang. Tetapi kini kita dipaksa mengetahui segalanya sekaligus. 

Akibatnya muncul rasa penuh di kepala, tetapi kosong di jiwa kita. Banyak di antara kita tahu banyak hal, tetapi sulit memahami diri kita sendiri.

Belum selesai dengan banjir informasi, kita juga hidup dalam kelelahan konflik.

Dunia hari ini seperti tidak pernah berhenti bertengkar. Tokoh dunia terus membangkitkan permusuhan. Media sosial berubah menjadi arena saling menyerang. 

Perbedaan pendapat kecil sering berubah menjadi kebencian panjang. Bahkan kita sering lebih cepat marah daripada mendengar.

Yang melelahkan bukan hanya konflik besar antarnegara, tetapi juga konflik kecil yang terus menerus hadir dalam kehidupan sehari-hari kita.

Grup percakapan bisa panas karena pilihan politik. Pertemanan retak karena perbedaan pandangan. 

Dunia digital membuat kita hidup dalam suasana tegang tanpa jeda. Setiap hari ada kemarahan baru yang harus direspons, seolah kita dituntut terus siaga secara emosional.

Ada pula kelelahan ideologi. Dulu kita memiliki pegangan besar yang relatif jelas.

Ada keyakinan politik, keyakinan sosial, atau pandangan hidup yang memberi arah. Sekarang banyak orang justru hidup di tengah kebingungan nilai. 

Semua ideologi saling mengkritik. Semua merasa paling benar. Semua menawarkan janji besar, tetapi sering gagal memberi ketenangan nyata.

Akibatnya, masyarakat hidup dalam keraguan berkepanjangan. Mereka sulit percaya penuh kepada institusi, sulit percaya kepada politik, bahkan kadang sulit percaya kepada masa depan. 

Dunia terlalu cepat berubah sehingga banyak orang merasa pijakan hidupnya goyah. Nilai moral berubah cepat, standar sosial berubah cepat, dan kita dipaksa terus menyesuaikan diri agar tidak dianggap tertinggal.

Baca juga: Ekonomi Indonesia dari Sawah, Bukan Wall Street

Lebih kacau lagi tekanan ekonomi ikut memperberat keadaan. Biaya hidup naik, persaingan kerja makin keras, sementara tuntutan sosial terus meningkat. 

Banyak orang bekerja bukan lagi untuk hidup nyaman, tetapi sekadar bertahan. Ironisnya, meski bekerja lebih keras, rasa aman justru semakin sulit didapat.

Menjaga Tetap Waras

Saat ini kita hidup dalam paradoks. Saat ini kita memiliki lebih banyak pilihan hidup dibanding generasi sebelumnya, tetapi juga lebih banyak kecemasan. 

Rumah mahal, pendidikan mahal, kesehatan mahal, sementara media sosial terus mempertontonkan gaya hidup mewah yang membuat banyak orang merasa dirinya kurang berhasil.

Kita hidup dalam rasa takut yang diam-diam: takut gagal, takut miskin, takut kalah bersaing, takut tertinggal, bahkan takut dianggap tidak sukses oleh orang lain.

Tidak kalah parah adalah kelelahan spiritual. Banyak manusia modern kehilangan ruang hening dalam hidupnya.

Hari-hari dipenuhi target, layar, pekerjaan, dan distraksi tanpa akhir. 

Manusia terus terhubung ke dunia luar, tetapi perlahan terputus dari dunia batinnya sendiri.

Padahal, manusia bukan hanya makhluk ekonomi atau makhluk digital. Manusia juga membutuhkan makna. 

Baca juga: Bom Waktu di Bantar Gebang

Kita perlu merasa hidup bernilai dan memiliki arah. Ketika semua diukur hanya dengan produktivitas dan pencapaian, jiwa kita perlahan mengering.

Ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh gaji, hiburan, atau popularitas. 

Sebagai manusia modern, kita ini seperti berjalan cepat setiap hari, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana arah hidupnya dan seolah-olah tidak pernah sampai ditujuan.

Inilah wajah kelelahan besar manusia zaman sekarang. Bukan sekadar tubuh yang capai, tetapi pikiran yang penuh, emosi yang tegang, keyakinan yang goyah, ekonomi yang menekan, dan jiwa yang haus ketenangan.

Mungkin karena itulah kita diam-diam mulai merindukan hal-hal sederhana: percakapan yang tulus, hidup yang tidak terburu-buru, pekerjaan yang bermakna, hubungan yang hangat, dan waktu hening untuk kembali mendengar suara hatinya sendiri.

Menjadi manusia zaman kiwari itu memang tidak mudah.

Bukan karena kita sekarang kurang pintar, tetapi karena dunia berubah terlalu cepat melebihi kemampuan batin kita untuk mengikutinya.

Karena itu tantangan terbesar kita saat ini mungkin bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga kewarasan.

Tag:  #menjaga #kewarasan #tengah #kelelahan #masyarakat

KOMENTAR