AS-Iran Dekati Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
09:52
23 Mei 2026

AS-Iran Dekati Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan

- Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menunjukkan sinyal positif dalam upaya mengakhiri konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Kendati demikian, dua negara tersebut masih berselisih dalam sejumlah isu utama, terutama terkait stok uranium Iran yang diperkaya serta pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (23/5/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio mengatakan terdapat "tanda-tanda baik" menuju kesepakatan damai.

Namun, ia menegaskan kesepakatan sulit terwujud apabila Iran tetap berupaya mengendalikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz secara permanen.

Baca juga: AS dan Sekutu Siapkan Rencana B jika Iran Tolak Buka Selat Hormuz

"Tidak ada pihak di dunia yang mendukung sistem tarif atau pungutan di jalur itu. Itu tidak bisa diterima," kata Rubio.

Rubio juga menegaskan Presiden AS, Donald Trump memiliki opsi lain apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan yang dianggap memadai, meski tidak menjelaskan langkah yang dimaksud.

Pernyataan Rubio muncul setelah Iran mengisyaratkan proposal terbaru dari Amerika Serikat telah membawa kedua pihak lebih dekat menuju kesepakatan damai.

Media semi-resmi Iran, Iranian Students' News Agency (ISNA), melaporkan proposal Washington telah mempersempit sejumlah perbedaan posisi. Namun, menurut Iran, kemajuan lebih lanjut bergantung pada berakhirnya ancaman perang dari pihak Amerika Serikat.

Iran saat ini disebut masih meninjau usulan terbaru Washington. Pembahasan berlangsung dengan mengacu pada kerangka 14 poin yang sebelumnya diajukan Teheran.

Baca juga: Uni Eropa Paksa Iran Buka Selat Hormuz, Siapkan Sanksi Baru

Selat Hormuz jadi titik krusial

Pembicaraan damai dalam beberapa pekan terakhir berjalan lambat. Kedua pihak masih berada dalam situasi gencatan senjata yang rapuh.

Iran tetap membatasi akses Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Ketegangan juga meningkat setelah muncul laporan mengenai pembicaraan Iran dan Oman terkait kemungkinan pembangunan sistem pembayaran untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump menolak gagasan tersebut dan menegaskan jalur laut internasional itu harus tetap terbuka.

"Kami ingin jalur itu tetap terbuka dan bebas. Kami tidak ingin ada pungutan. Itu jalur perairan internasional," kata Trump kepada wartawan.

Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan gas alam cair dunia biasanya melewati jalur tersebut. Namun, aktivitas pengiriman hampir berhenti sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026.

Baca juga: UEA Sebut Peluang AS dan Iran untuk Sepakat soal Selat Hormuz 50:50

Persoalan uranium belum terselesaikan

Selain Selat Hormuz, isu uranium Iran yang diperkaya masih menjadi penghalang utama dalam negosiasi.

Pemerintah Amerika Serikat mendorong Iran menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya karena khawatir material tersebut dapat digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.

Sebaliknya, Iran menolak tuntutan tersebut. Teheran menegaskan program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan damai.

Sumber Iran yang dikutip Reuters menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan arahan agar uranium dengan tingkat pengayaan mendekati kategori senjata tidak dikirim ke luar negeri.

Baca juga: Ada Negosiasi Mendadak dengan Iran, Trump Batal Hadiri Pernikahan Putranya

Di tengah proses negosiasi, militer Amerika Serikat melalui Central Command (CENTCOM) menyatakan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln tetap berada dalam kondisi siaga tinggi di Laut Arab sambil menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir dilaporkan mengunjungi Teheran pada Kamis sebagai bagian dari upaya mediasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Iran.

Tag:  #iran #dekati #kesepakatan #damai #selat #hormuz #jadi #batu #sandungan

KOMENTAR