PLN Sebut Gangguan Listrik Sumatera Berbeda dari Dampak Bencana Aceh
Kondisi Kota Padangsidimpuan saat terjadi pemadaman listrik secara tiba-tiba (Blackout), Jumat (23/6/2026). Sudah lima jam, sejak padam pada pukul 18.45 – 01.00 WIB, listrik belum juga kunjung menyala. ORYZA PASARIBU/KOMPAS.COM(KOMPAS.COM/ORYZA PASARIBU)
10:16
23 Mei 2026

PLN Sebut Gangguan Listrik Sumatera Berbeda dari Dampak Bencana Aceh

 PT PLN (Persero) menyatakan mati listrik di sebagian besar wilayah Sumatera pada Jumat (22/5/2026) malam berbeda dari gangguan listrik setelah bencana di Aceh.

Sejumlah wilayah yang terdampak mati listrik antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Jambi.

“Ini kondisi yang sangat berbeda dalam bencana Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh pada waktu itu,” kata Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, dalam konferensi pers di Jakarta, sebagaimana dikutip dari YouTube Kompas TV, Sabtu (23/5/2026).

Baca juga: Sumatera Mati Listrik, PLN: Gangguan Cuaca, Lalu Pembangkit Padam

Darmawan mengatakan, saat banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, transmisi terputus dan menara listrik roboh.

Namun, gangguan listrik kali ini tidak disebabkan kerusakan infrastruktur pada menara maupun jaringan transmisi.

“Hari ini kami menyampaikan bahwa gardu induk dan sistem transmisi kami sudah pulih,” ujar Darmawan.

Berdasarkan identifikasi sementara, gangguan jaringan listrik dipicu cuaca buruk di wilayah Jambi.

PLN menemukan indikasi awal ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai terdampak cuaca buruk.

Akibatnya, sistem transmisi di titik tersebut keluar dari sistem kelistrikan Sumatera.

Terputusnya jaringan listrik membuat sejumlah pembangkit PLN mengalami kelebihan pasokan. Pada saat yang sama, pembangkit lain menanggung beban terlalu besar.

Baca juga: Listrik Sumbar Mulai Pulih, PLN Sebut 60 Persen Sistem Sudah Menyala

Darmawan menjelaskan, pembangkit yang mengalami kelebihan pasokan akan menghadapi kenaikan frekuensi dan tegangan.

“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau kalau dalam istilahnya di dari publik adalah pembangkitnya secara otomatis padam,” tutur Darmawan.

PLN menyatakan telah mengerahkan seluruh sumber daya untuk melakukan pemeriksaan pada gardu induk dan sistem transmisi.

“Alhamdulillah dalam waktu sekitar 2 jam, seluruh sistem gardu induk dan transmisi kami bisa kami pulihkan,” ujar Darmawan.

Meski gardu induk dan transmisi telah pulih, gangguan listrik tersebut membawa dampak berantai.

PLN kini sedang menghidupkan kembali sejumlah pembangkit yang sempat padam.

Setelah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) kembali menyala, PLN akan menyambungkannya ke sistem transmisi melalui gardu induk.

PLN juga perlu melakukan proses sinkronisasi.

Menurut Darmawan, proses menghidupkan, menyambungkan, dan menyinkronkan PLTA serta PLTG bisa berlangsung lebih cepat.

“Berkisar antara 5 sampai 15 jam,” kata dia.

Namun, proses menghidupkan kembali PLTU membutuhkan waktu lebih lama.

PLN harus memanaskan air hingga menjadi uap. Proses tersebut harus dilakukan satu per satu.

“Harus dinyalakan satu per satu, kemudian harus kami sambungkan dan kami sinkronkan, dan ini membutuhkan waktu,” kata Darmawan.

Sebelumnya, sebagian besar wilayah Sumatera mengalami mati listrik pada Jumat malam.

Gangguan jaringan listrik disebut terjadi sejak pukul 18.44 WIB.

PLN kemudian menerjunkan seluruh tim untuk memulihkan sistem kelistrikan Sumatera.

Tag:  #sebut #gangguan #listrik #sumatera #berbeda #dari #dampak #bencana #aceh

KOMENTAR