Bos Intelijen AS Mundur, Sempat Tentang Perang Iran
- Direktur Intelijen Nasional AS (DNI) Tulsi Gabbard resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (22/5/2026).
Mundurnya Gabbard menandai berakhirnya masa jabatan tokoh kontroversial yang belakangan ini dinilai berseberangan dengan Presiden AS Donald Trump, khususnya terkait kebijakan Perang Iran.
Mundurnya perempuan berusia 45 tahun ini menjadikannya menteri atau pejabat tinggi perempuan keempat yang meninggalkan kabinet Trump dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga: Laporan Intelijen Eropa Bocor, China Latih Ratusan Tentara Rusia untuk Perang Ukraina
Sebelumnya, Trump telah memecat Kepala Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem pada Maret dan Jaksa Agung Pam Bondi pada April, sebagaimana dilansir AFP.
Pada bulan yang sama, Menteri Tenaga Kerja AS Lori Chavez-DeRemer juga memilih mundur di tengah rentetan skandal.
Untuk sementara waktu, posisi Gabbard akan digantikan oleh wakilnya, Aaron Lukas, yang ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) DNI.
Melalui surat resmi yang diunggah di platform X, Gabbard mengungkapkan bahwa keputusan berat ini diambil demi merawat suaminya, Abraham Williams.
Baca juga: Jejak Operasi Intelijen China di AS, Awasi Para Diaspora
Sang suami yang berprofesi sebagai sinematografer asal Hawaii tersebut baru saja didiagnosis menderita jenis kanker tulang yang sangat langka.
"Dia menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan mendatang," tulis Gabbard dalam suratnya kepada Trump.
"Saat ini, saya harus melangkah mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan mendukungnya sepenuhnya melalui perjuangan ini," paparnya.
Merespons hal tersebut, Trump memberikan apresiasi.
Baca juga: Temuan Intelijen AS, Iran Masih Bisa Akses 30 dari 33 Lokasi Rudal di Hormuz
Dia memuji dedikasi Gabbard dalam memimpin jaringan 18 lembaga intelijen AS yang bertugas menyusun pengarahan briefing presiden.
"Tulsi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kami akan merindukannya," ungkap Trump melalui media sosial Truth Social.
Dia menambahkan bahwa keputusan Gabbard untuk mendampingi suaminya adalah hal yang sangat tepat.
Meskipun demikian, muncul spekulasi yang menyebutkan bahwa Gabbard sebenarnya dipaksa keluar dari posisinya.
Baca juga: Temuan Intelijen AS, Iran Masih Bisa Akses 30 dari 33 Lokasi Rudal di Hormuz
Kepala Staf Gabbard, Alexa Henning, menegaskan lewat akun X miliknya bahwa tudingan tersebut tidak benar.
"Suaminya, yang merupakan manusia yang benar-benar luar biasa, telah didiagnosis menderita kanker tulang langka," papar Henning.
Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle Gedung juga langsung membantah keras rumor tersebut.
"Segala anggapan bahwa Gedung Putih memaksanya mundur dengan memanfaatkan isu kesehatan suaminya adalah sebuah fitnah," kata Ingle.
Baca juga: AS Tiba-tiba Batasi Data Intelijen tentang Korut untuk Korsel, Ada Apa?
Retaknya hubungan
Meski alasan keluarga menjadi penyebab resmi, pengunduran diri Gabbard terjadi di tengah situasi politik yang merenggang antara dirinya dan Gedung Putih.
Sebagai mantan politikus Partai Demokrat, penunjukan Gabbard oleh Trump yang beraliran Republik memang sempat mengejutkan banyak pihak.
Hal itu terutama karena rekam jejak Gabbard yang vokal menentang intervensi militer luar negeri AS, termasuk penolakannya terhadap perang dengan Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, posisi Gabbard dilaporkan kian terpinggirkan saat Trump bergerak menuju konfrontasi militer dengan Iran.
Baca juga: Bocoran Nuklir Korut Picu Amarah AS, Hubungan Intelijen Seoul-Washington Retak
Dia dikabarkan tidak dilibatkan dalam pertemuan intensif Trump bersama para penasihat tinggi tepat sebelum serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Setelah perang pecah, Gabbard berulang kali mengeluarkan pernyataan yang kontradiktif atau enggan mendukung penuh justifikasi yang digaungkan pemerintahan Trump.
Gabbard menolak mendukung klaim Trump yang menyebut Iran sebagai ancaman mendesak bagi AS.
Dia juga menyatakan bahwa intelijen AS menyimpulkan Iran tidak membangun kembali kapasitas pengayaan nuklirnya yang telah dihancurkan oleh AS dan Israel tahun lalu.
Padahal, isu pembangunan kembali nuklir ini menjadi salah satu pembenaran utama Trump untuk mengobarkan perang.
Baca juga: AS Klaim Pertahanan Iran Sudah Lumpuh, tapi Laporan Intelijen Berkata Lain
Rekam jejak
Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.
Sejak awal penunjukannya, Gabbard memang kerap memicu skeptisisme di kalangan internal pemerintahan.
Dia dinilai sering mendukung teori konspirasi dan dituding menyebarkan propaganda Rusia, khususnya narasi palsu terkait perang Ukraina.
Gabbard juga sempat menuai kritik tajam atas pertemuan kontroversialnya dengan mantan pemimpin Suriah telah digulingkan, Bashar Al-Assad, pada tahun 2017.
Selain itu, pandangannya yang kritis terhadap pengawasan ketat pemerintah AS serta dukungannya kepada pembocor data NSA, Edward Snowden, membuatnya dipandang dengan penuh kecurigaan oleh sejumlah pihak.
Baca juga: Intelijen AS Sebut Iran Masih Simpan Banyak Rudal, Bunker Sulit Dilumpuhkan