Otak Balas Otak, Sekjen Laskar Merah Putih Sebut Polisi Harus Mampu Berdialog Bahkan Berdebat dengan Demonstran
Sekjen Laskar Merah Putih Abdul Rachman Thaha. (Istimewa)
17:08
28 Februari 2026

Otak Balas Otak, Sekjen Laskar Merah Putih Sebut Polisi Harus Mampu Berdialog Bahkan Berdebat dengan Demonstran

–Romantisme masa silam tentang keperkasaan mahasiswa dalam pergerakan politik dan hukum nasional, tidak mungkin dihapus dalam hikayat negara Indonesia. Banyak tokoh pernah ambil bagian dalam berbagai organisasi dan aksi kemahasiswaan.

Menurut Sekjen Laskar Merah Putih Abdul Rachman Thaha menyatakan, sepanjang ingatannya, tidak pernah menyumpah serapahi polisi dengan kata-kata kotor. Juga mengacung-acungkan telunjuk tepat di depan wajah polisi.

”Saya tidak ingin berbantah-bantahan dengan adik-adik mahasiswa yang saat ini tengah mencoba menuliskan bab perjuangan saat berhadap-hadapan dengan polisi. Tapi mari kita beri identitas yang tidak bisa disanggah bahwa pergerakan mahasiswa harus seutuhnya berwatak intelektual. Termasuk dalam pemilihan kata dan tindak-tanduk di lapangan. Bahkan saat berhadapan dengan pihak yang dianggap musuh bebuyutan sekalipun,” ujar Abdul Rachman Thaha.

Menurut dia, sepatah kata kotor meluncur dari mulut mahasiswa, atau sejurus saja gestur tak sesuai mereka peragakan, itu akan menjadi pertaruhan sia-sia terhadap identitas mahasiswa. Terbukti pasca aksi demo mahasiswa, tayangan yang memperlihatkan kelakuan mereka langsung menjadi status whatsapp di banyak personel Polri.

”Pemasangan status whatsapp secara masif dan serentak seperti itu tentu bukan kebetulan. Pasti diorkestrasi. Dan terlihat nyata, perangai mahasiswa telah direkam lalu dimanfaatkan untuk menggilas mereka sendiri. Akibatnya, orang-orang kini abai terhadap isi aksi mahasiswa tersebut. Yang khalayak ingat ada mahasiswa berjaket almamater kuning yang kelakuannya bikin pening. Sudah, sebatas itu,” papar Abdul Rachman Thaha.

Pada sisi lain, dia menilai, cara polisi menangani aksi unjuk rasa mahasiwa tidak begitu intelek. Memakai kopiah haji dan sorban putih, Abdul Rachman Thaha mempertanyakan, apa pesan yang ingin polisi kirim dengan mengenakan atribut tambahan semacam itu?

”Mengangkat suasana Ramadhan, meneduhkan suasana? Menurut saya, mengada-ada saja. Warna putih bersih kopiah dan sorban polisi justru menunjukkan itu semua bukan perlengkapan yang mereka gunakan ibadah sehari-hari. Malah memancing para demonstran untuk lebih mengolok-olok polisi,” tandas Abdul Rachman Thaha.

Menurut dia, polisi jangan meniru para penjahat yang begitu diseret ke ruang pengadilan, langsung memakai symbol-simbol agama.

”Sok relijius. Pakai peci putih. Ingat Ryan, si penjagal dari Jombang. Tangannya bau amis darah. Tapi saat disidang, bisa-bisanya dia pakai gamis,” tutut Abdul Rachman Thaha.

Lalu, bagaimana sebaiknya cara polisi menghadapi demonstran mahasiswa? Menurut dia, di Jakarta setidaknya ada dua sekolah polisi. Sekolah Polwan dan Sekolah Ilmu Tinggi Kepolisian. Siswa dan mahasiswa dari kedua sekolah itu semestinya bisa Polri terjunkan untuk menjadi sekondan para demonstran.

”Siswa dan mahasiswa polisi bisa berdialog bahkan berdebat dengan demonstran yang juga sama-sama representasi kaum cerdik cendekia. Itu taktik jitu untuk menguras energi demonstran agar tidak anarkis. Kalau salah satu pihak main tangan, itu simbol kekalahan. Pihak tersebut boleh balik kanan,” ucap Abdul Rachman Thaha.

Dia menambahkan, pendekatan sedemikian rupa sekaligus ajang pembuktian bahwa Polri memang menempa insan-insan Tribrata menjadi kaum terdidik. Otaknya cerdas, komunikasinya bernas. Kalau lembaga pendidikan Polri punya kurikulum bagus, mahasiswa-mahasiswa Polri tidak akan kalah pamor dengan mahasiswa perguruan tinggi umum.

”Jadi, silakan mahasiswa umum turun ke jalan lagi. Mahasiswa polisi silakan persiapkan diri. Oke, gas!”ucap Abdul Rachman Thaha.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah

Tag:  #otak #balas #otak #sekjen #laskar #merah #putih #sebut #polisi #harus #mampu #berdialog #bahkan #berdebat #dengan #demonstran

KOMENTAR