Warning SBY: Ambisi AS hingga Potensi Perang Dunia Ketiga
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Senin (23/2/2026).(KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA)
08:50
24 Februari 2026

Warning SBY: Ambisi AS hingga Potensi Perang Dunia Ketiga

- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan dinamika geopolitik global yang kian kompleks, mulai dari ambisi Amerika Serikat (AS) untuk kembali menjadi kekuatan tunggal dunia hingga potensi meletusnya Perang Dunia Ketiga.

Peringatan itu disampaikan SBY saat memberikan kuliah geopolitik global di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Ambisi Unipolar Amerika

Dalam paparannya, SBY menyinggung posisi AS yang dinilainya ingin kembali menjadi kekuatan unipolar atau satu-satunya penguasa dunia.

“Amerika ingin kembali unipolar Amerika alone sebagai global leader, global corp, sebagai lone ranger," kata SBY di Gedung Lemhannas.

Ia mengawali penjelasan dengan menggambarkan tatanan global pada era Perang Dingin yang bersifat bipolar, terbagi antara Blok Barat dan Blok Timur.

Baca juga: SBY: Dulu Seolah Angkatan Darat Diutamakan, Kini Air Power Sangat Penting

Setelah Perang Dingin berakhir, menurut SBY, berkembang pandangan bahwa liberalisme akan berjaya, sementara komunisme dan otoritarianisme akan runtuh.

Namun, konfigurasi global tidak berhenti di situ. SBY menilai dunia kini semestinya bergerak menuju tatanan multipolar.

“Artinya apa? Sudah terjadi dan sekarang ini mestinya kembali ke multipolar, paling tidak Amerika, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, beberapa negara BRICS. Sadarilah kita hidup dalam tatanan multipolar," tutur Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.

Dalam konteks tersebut, SBY menekankan pentingnya Indonesia cermat memosisikan diri di tengah polarisasi global.

“Cara berpikir kita adalah kita harus kembali bisa menavigasi, bisa memosisikan kita, langkah kita dalam tatanan atau polarisasi atau polaritas global seperti sekarang ini," ungkapnya.

Sinyal Perang Dunia Ketiga

Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily mengungkapkan, dalam kuliahnya SBY juga menyinggung potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga, termasuk risiko eskalasi konflik berskala besar dan ancaman perang nuklir.

“Beliau (SBY) menyebutkan mungkin akan terjadi perang dunia ketiga karena beberapa potensi bagi terjadinya konflik di kawasan itu nyata, sinyalnya sudah sangat kuat," kata Ace ditemui usai kuliah umum.

Sejumlah kawasan disebut memiliki potensi eskalasi signifikan.

Di Asia, ketegangan di Laut China Selatan, Semenanjung Korea, hingga konflik China-Taiwan dinilai rawan memicu instabilitas.

Di Eropa, perang antara Rusia dan Ukraina disebut sebagai salah satu sumber ketidakstabilan global.

Sementara di Timur Tengah, konflik Palestina-Israel, ketegangan Israel-Iran, serta keterlibatan AS memperbesar risiko eskalasi.

Baca juga: SBY: Jika Ada Serangan Udara ke Jakarta, Apa yang Kita Lakukan?

SBY juga menyinggung isu Greenland dalam konteks dinamika geopolitik global.

“Berbagai potensi-potensi tersebut, berbagai konflik di tiga kawasan tersebut itu berpotensi bagi melahirkan terjadinya kemungkinan perang dunia ketiga," ujar Ace.

Karena itu, pesan utama SBY adalah pentingnya peran aktif Indonesia dalam mendorong diplomasi internasional, terutama dengan negara-negara besar seperti AS, China, dan Rusia.

Ace menilai Presiden Prabowo Subianto telah menjalankan langkah diplomasi tersebut dengan baik dan perlu terus diperkuat, sejalan dengan prinsip persahabatan dalam hubungan internasional.

Penguatan Daya Tangkal Nasional

Selain diplomasi, SBY menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan nasional melalui penguatan kemandirian ekonomi, ketahanan pangan dan energi, serta kualitas sumber daya manusia.

Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily (kiri) dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (kanan) di Gedung Lemhannas, Jakarta, Senin (23/2/2026).KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily (kiri) dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (kanan) di Gedung Lemhannas, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Indonesia, kata dia, juga harus memiliki daya tangkal (deterrent) yang kuat di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Termasuk di dalamnya adalah soal bagaimana kita bisa memastikan supaya kita juga memiliki deterrent daya tangkal yang kuat dan kewaspadaan di tengah situasi global saat ini seperti ini," ucap Ace mengutip SBY.

Pentingnya Kekuatan Udara

Dalam kuliah umumnya, SBY juga mengingatkan perubahan lanskap peperangan global.

Dunia kini memasuki era perang modern yang tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kekuatan darat.

Perang siber (cyber war), kecerdasan buatan (AI), robotik, serta strategi di luar pola pikir konvensional menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika pertahanan.

“Dunia AI, dunia robotik, dunia beyond conventional thinking, conventional warfare, kita harus siap. Jadi jangan takut," kata SBY.

Baca juga: SBY Tekankan Penguatan ASEAN di Tengah Dinamika Geopolitik Global

Ia menilai Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan doktrin lama yang menempatkan angkatan darat sebagai kekuatan utama.

Dalam konteks ancaman modern, kekuatan udara (air power) menjadi sangat menentukan.

“Dulu kan seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting," pesan SBY.

SBY bahkan melempar pertanyaan reflektif terkait kesiapan menghadapi serangan udara.

"Sekarang begitu ada air strike menghancurkan Jakarta, Pindad di Bandung, PAL di Surabaya, kota-kota yang lain apa yang kita lakukan? Hayo?" tanya SBY.

Menurut dia, doktrin pertahanan lama seperti pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Hankamrata) perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi militer yang memungkinkan serangan cepat langsung menyasar pusat pemerintahan dan obyek vital strategis.

“Jadi ini modern warfare, modern teknologi, modern doctrine, semuanya harus siap. Dan kalau hybrid intinya, tidak memilih. Semuanya harus siap dilakukan," tegasnya.

Baca juga: SBY Ajak Peserta Didik Lemhannas Kunjungi Museumnya di Pacitan

Perkuat ASEAN

SBY juga menekankan pentingnya penguatan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) sebagai kekuatan multilateral kawasan.

Menurut Ace, SBY memandang ASEAN memiliki posisi strategis dalam percaturan geopolitik global dan harus terus diperkuat sebagai basis diplomasi regional Indonesia.

“Pesan penting beliau adalah terus memperkuat ASEAN sebagai satu organisasi multilateral kawasan karena pada prinsipnya ASEAN adalah sebagai satu kekuatan yang sangat penting dalam konteks diplomasi geopolitik global," kata Ace.

Adapun kuliah umum tersebut diikuti peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVII, Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXIX, serta personel Lemhannas RI.

Tag:  #warning #ambisi #hingga #potensi #perang #dunia #ketiga

KOMENTAR