Studi Randstad: Gen Z Hanya Bertahan 1,1 Tahun di Pekerjaan Pertama
Ilustrasi Gen Z (iStock)
10:36
24 Februari 2026

Studi Randstad: Gen Z Hanya Bertahan 1,1 Tahun di Pekerjaan Pertama

Perubahan lanskap pasar tenaga kerja global semakin terasa bagi generasi termuda di dunia kerja.

Laporan dari Randstad berjudul The Gen Z Workplace Blueprint: Future Focused, Fast Moving memotret bagaimana Gen Z, yang lahir antara 1997 hingga 2007, membangun karier di tengah penurunan lowongan kerja entry-level, percepatan adopsi teknologi, dan perubahan ekspektasi terhadap pekerjaan.

Studi ini melibatkan 11.250 responden di 15 pasar global serta analisis lebih dari 126 juta lowongan pekerjaan di seluruh dunia.

Baca juga: Gen Z Jadi Akselerator Pertumbuhan E-wallet

Ilustrasi Gen Z.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi Gen Z.

Temuan-temuan di dalamnya menggambarkan dinamika awal karier Gen Z yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Rata-rata bertahan 1,1 tahun

Salah satu temuan utama laporan tersebut adalah durasi rata-rata Gen Z bertahan dalam satu pekerjaan pada lima tahun pertama kariernya hanya 1,1 tahun.

Angka ini jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Generasi milenial rata-rata bertahan 1,8 tahun, Gen X 2,8 tahun, dan Baby Boomers 2,9 tahun pada fase awal karier mereka.

Data ini menunjukkan mobilitas kerja generasi Z jauh lebih tinggi. Namun, laporan tersebut menekankan fenomena ini tidak serta-merta mencerminkan rendahnya loyalitas, melainkan berkaitan dengan aspirasi pertumbuhan.

Baca juga: Survei: 46 Persen Gen Z Pilih Stabilitas Finansial Ketimbang Cinta

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa generasi Z bergerak lebih cepat ketika mereka tidak melihat jalur perkembangan karier yang jelas.

Sekitar satu dari tiga pekerja Gen Z menyatakan berencana pindah pekerjaan dalam 12 bulan ke depan.

Alasan utamanya bukan hanya kompensasi, tetapi juga kurangnya perkembangan karier dan tujuan pekerjaan yang jelas.

Ilustrasi lowongan kerja. FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi lowongan kerja.

Lowongan kerja entry-level turun 29 persen

Mobilitas tinggi tersebut terjadi di tengah perubahan struktural pada pasar kerja.

Baca juga: Survei Ungkap, Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Kantor

Analisis terhadap 126 juta lowongan pekerjaan menunjukkan posisi entry-level (nol sampai 2 tahun pengalaman) mengalami penurunan 29 persen poin sejak Januari 2024.

Penurunan ini terjadi di berbagai sektor. Industri teknologi mencatat penurunan 35 persen, logistik 25 persen, dan keuangan 24 persen.

Artinya, pintu masuk ke dunia kerja formal semakin menyempit. Bagi Gen Z, akses terhadap pekerjaan pertama tidak lagi seluas generasi sebelumnya.

Laporan tersebut menunjukkan di banyak industri, pekerjaan awal yang sebelumnya menjadi batu loncatan karier kini berkurang, baik karena otomatisasi, restrukturisasi organisasi, maupun efisiensi berbasis teknologi.

Baca juga: Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres

Hanya 45 persen bekerja penuh waktu secara tradisional

Laporan itu juga mencatat bahwa hanya 45 persen Gen Z saat ini berada dalam pekerjaan penuh waktu tradisional.

Dari kelompok yang bekerja penuh waktu tersebut, 31 persen memilih mengombinasikan pekerjaan utama dengan pekerjaan lain atau side hustle.

Fenomena ini mencerminkan pendekatan karier yang lebih fleksibel. Side hustle atau pekerjaan sampingan tidak hanya dilihat sebagai tambahan penghasilan, tetapi juga sebagai cara membangun portofolio keterampilan dan memperluas jaringan profesional.

Pendekatan ini sejalan dengan karakter generasi Z yang tumbuh di era digital, di mana peluang kerja freelance, ekonomi kreator, dan ekonomi gig semakin mudah diakses.

Baca juga: Survei Deloitte: Biaya Hidup Jadi Sumber Stres Finansial Gen Z dan Milenial

Gaji, fleksibilitas, dan tujuan kerja

Ilustrasi pekerja.Dok. Freepik/lookstudio Ilustrasi pekerja.

Laporan Randstad menunjukkan, Gen Z memprioritaskan tiga hal utama dalam pekerjaan, yakni gaji, fleksibilitas, dan tujuan kerja (purpose).

Meskipun kompensasi alias gaji tetap menjadi faktor penting, fleksibilitas kerja dan makna pekerjaan memiliki bobot yang signifikan dalam pengambilan keputusan karier.

Gen Z cenderung mencari perusahaan yang menawarkan jalur perkembangan yang jelas, lingkungan kerja fleksibel, serta nilai perusahaan yang selaras dengan nilai pribadi mereka.

Dalam konteks ini, ketidakjelasan jenjang karier menjadi salah satu faktor utama yang mendorong niat pindah kerja.

Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja

Adopsi AI: 75 persen untuk upskilling

Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital, Gen Z menunjukkan tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) yang tinggi.

Menurut laporan tersebut, 75 persen Gen Z menggunakan AI untuk meningkatkan keterampilan (upskilling).

Selain itu, 55 persen memanfaatkannya untuk memecahkan masalah di tempat kerja, dan 50 persen menggunakan AI dalam proses pencarian kerja. Angka ini lebih tinggi dibanding generasi lainnya.

Namun, laporan tersebut juga mencatat adanya kesenjangan akses pelatihan. Pekerja pria dilaporkan lebih banyak menerima pelatihan AI dibanding pekerja perempuan.

Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos

Selain itu, pekerja white-collar memiliki akses lebih besar dibanding pekerja blue-collar.

Hal ini menunjukkan meskipun Gen Z relatif cepat mengadopsi teknologi, distribusi akses terhadap pelatihan formal belum merata.

Mobilitas sebagai respons atas perubahan

CEO Randstad Sander van ’t Noordende menyampaikan, Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi besar.

Ilustrasi bekerja di kantor. PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.

“Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi, bukan hanya menanggapi perubahan, tetapi juga mendorongnya. Mereka ambisius, mudah beradaptasi, dan mencari pertumbuhan," tutur van 't Noordende.

Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan

"Perusahaan yang ingin mempertahankan mereka harus memikirkan kembali cara mereka merancang karier awal dan membangun kepercayaan melalui tujuan dan kemajuan," imbuh dia.

Pernyataan tersebut menegaskan mobilitas Gen Z terjadi dalam konteks perubahan struktural yang lebih luas, termasuk transformasi digital, perubahan model bisnis, serta dinamika global pascapandemi.

Menurut laporan tersebut, perusahaan yang ingin mempertahankan talenta Gen Z perlu merancang ulang peran entry-level agar menjadi batu loncatan pertumbuhan yang nyata, bukan sekadar posisi administratif awal.

Tantangan awal karier

Dengan berkurangnya lowongan kerja entry-level dan meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan digital, generasi Z menghadapi tantangan ganda.

Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya

Di satu sisi, mereka dituntut memiliki kemampuan teknologi dan adaptasi tinggi. Di sisi lain, akses terhadap pengalaman kerja formal pertama menjadi lebih terbatas.

Laporan tersebut menunjukkan percepatan otomatisasi dan penggunaan AI berkontribusi terhadap penyusutan beberapa peran awal yang sebelumnya menjadi titik masuk karier.

Situasi ini mendorong Gen Z untuk lebih proaktif membangun kompetensi secara mandiri, termasuk melalui kursus daring, proyek independen, dan pengalaman kerja fleksibel.

Rekomendasi untuk pemberi kerja

Dalam laporan tersebut, Randstad mengidentifikasi beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan pemberi kerja atau perusahaan.

  • Mendesain ulang pekerjaan entry-level sebagai jalur perkembangan yang jelas.
  • Membangun kepercayaan melalui transparansi jalur karier dan tujuan organisasi.
  • Memastikan akses pelatihan, terutama dalam teknologi dan AI, tersedia secara merata.

Ilustrasi bekerja.PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.

Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi

Pendekatan ini dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antara ekspektasi generasi Z dan realitas pasar kerja.

Perubahan paradigma karier

Temuan dalam The Gen Z Workplace Blueprint menunjukkan pola karier Gen Z cenderung lebih dinamis dan non-linear dibanding generasi sebelumnya.

Durasi kerja yang lebih pendek, kecenderungan memiliki lebih dari satu sumber penghasilan, serta penggunaan AI dalam pengembangan diri menjadi ciri utama.

Namun, dinamika tersebut berlangsung di tengah pasar kerja yang mengalami kontraksi pada level awal, sehingga kompetisi untuk mendapatkan pengalaman pertama semakin ketat.

Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos

Laporan tersebut menekankan, perubahan ini bukan sekadar persoalan preferensi individu, melainkan hasil interaksi antara aspirasi generasi baru dan transformasi struktural pasar tenaga kerja global.

Dengan analisis berbasis jutaan data lowongan kerja dan ribuan responden lintas negara, Randstad memotret Gen Z sebagai tenaga kerja yang ambisius, adaptif, dan berorientasi pada pertumbuhan, di tengah lingkungan kerja yang terus berubah.

Tag:  #studi #randstad #hanya #bertahan #tahun #pekerjaan #pertama

KOMENTAR