BGN Paparkan Mekanisme Pelaksanaan MBG Selama Ramadan
Kepala BGN, Dadan Hindayana. (Suara.com/Adiyoga)
07:32
10 Februari 2026

BGN Paparkan Mekanisme Pelaksanaan MBG Selama Ramadan

Baca 10 detik
  • Kepala BGN Dadan Hindayana memaparkan empat mekanisme khusus program Makan Bergizi Gratis selama Ramadan.
  • Anak sekolah di daerah puasa menerima makanan tahan lama untuk berbuka, berbeda dengan wilayah tidak puasa.
  • Pelayanan bagi ibu hamil, menyusui, balita, dan pesantren menyesuaikan waktu distribusi menjelang berbuka puasa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memaparkan mekanisme pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan.

Dadan menjelaskan bahwa instansinya telah mengembangkan empat mekanisme khusus guna menyesuaikan kebutuhan penerima manfaat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Mekanisme pertama menyasar anak sekolah di wilayah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa di bulan tersebut.

BGN memastikan bahwa jenis makanan yang dibagikan kepada kelompok ini memiliki ketahanan yang lebih lama dibandingkan menu biasanya.

"Yang pertama, untuk anak sekolah yang mayoritas di daerah puasa, itu makanannya akan berupa makanan yang tahan lama ya, yang untuk dibawa pulang dan untuk dikonsumsi saat buka," tutur Dadan di Balai Kota Jakarta, Senin (9/2/2026).

Sementara itu, mekanisme kedua diberlakukan bagi anak sekolah yang berada di wilayah dengan penduduk mayoritas tidak berpuasa.

Penyaluran makanan di kawasan tersebut tetap berjalan sesuai jadwal reguler tanpa ada perubahan waktu pelayanan.

"Untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanannya normal ya. Seperti biasa, makan di jam biasa karena mayoritas tidak puasa," ucap Dadan.

Mekanisme ketiga mengatur tentang pelayanan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak balita.

Dadan menegaskan bahwa kelompok tersebut juga tetap mendapatkan pelayanan normal sebagaimana hari-hari di luar bulan Ramadan.

"Untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, itu pelayanannya juga normal," katanya.

Adapun mekanisme terakhir ditujukan khusus bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di lingkungan pondok pesantren.

Pelaksanaan pemberian makan di pesantren tetap normal secara kuantitas, namun terdapat pergeseran waktu distribusi menjadi sore hari.

"Untuk SPPG yang ada di dalam pesantren dan penerima manfaatnya juga di pesantren, maka pelayanan normal tetapi waktunya digeser ke sore hari menjelang buka puasa," jelas Dadan.

Mengenai jenis menu yang nantinya akan dibawa pulang oleh para siswa, BGN telah menetapkan standar komoditas yang akan dibagikan.

Beberapa jenis makanan yang dipilih meliputi protein hewani yang diawetkan secara tradisional serta kudapan khas daerah.

"Terkait dengan menu yang untuk dibawa pulang, itu kami sudah tetapkan lebih banyak dengan contohnya kurma, telur rebus atau telur asin, telur pindang. Kemudian ada abon, buah, susu, dan penganan-penganan lokal yang saya kira secara tradisional banyak disajikan di bulan Ramadan, yang tahan lama," paparnya.

Dadan juga menekankan bahwa pihaknya berkomitmen untuk meminimalisir penggunaan produk dari korporasi skala besar dalam program ini.

Kebijakan tersebut diambil untuk memperluas keterlibatan pelaku usaha kecil di daerah dalam penyediaan menu Ramadan.

"Kami hindarkan semaksimal produk-produk perusahaan besar. Sesekali boleh, tapi tidak setiap hari. Jadi kami ingin mendorong agar UMKM terlibat banyak di dalam proses penyediaan menu di saat Ramadan ini," pungkasnya. 

Editor: Vania Rossa

Tag:  #paparkan #mekanisme #pelaksanaan #selama #ramadan

KOMENTAR