Ambisi PSI Bangun Kandang Gajah di Basis Partai Lain, dari Jawa Tengah hingga Sulawesi
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep melantik anak Rusdi Masse, Muammar Ferirae Gandi Rusdi (paling kanan) sebagai Ketua DPW PSI Sulsel di Hotel Claro, Makassar, Rabu (28/1/2026). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)
12:22
30 Januari 2026

Ambisi PSI Bangun Kandang Gajah di Basis Partai Lain, dari Jawa Tengah hingga Sulawesi

Meski tak masuk parlemen pada Pemilu 2024, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai mencoba mengganggu dominasi partai yang duduk di Senayan.

Hal ini terlihat dari ambisi partai berlambang gajah tersebut untuk mendominasi wilayah menjadi ceruk suara partai politik lainnya.

Pada awal Januari 2026, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menegaskan, Jawa Tengah yang dikenal sebagai "kandang banteng" ingin dia ubah menjadi kandang gajah.

Secara terbuka, putra bungsu Presiden Ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) tersebut menantang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

"2029, pemilu selanjutnya, Jawa Tengah, (jadi) Kandang Gajah!," pekiknya disambut dengan tepuk tangan para kader PSI, Kamis (8/1/2026).

PSI saat ini berada di urutan ke-8 dalam perolehan suara pemilihan DPRD Provinsi Jawa Barat.

Baca juga: Ramai Kader Nasdem Loncat ke PSI dan Ambisi Jadikan Sulawesi Kandang Gajah

Jumlah suara terbanyak masih dikangkangi PDI-P dengan 5,2 juta suara, jika dibandingkan dengan PSI yang hanya memperoleh 478.063 suara, kekuatan PDI-P masih sangat besar.

PSI masih harus melangkahi Partai Nasdem di Jateng yang memperoleh suara 775.889, kemudian PAN di urutan ke-6 dengan 840.817 suara.

Partai besar lainnya juga masih mendominasi Jawa Tengah.

Misalnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 3,03 juta suara, kemudian Gerindra 2,59 suara, dan Golkar 2,2 juta suara.

Kemudian disusul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 1,6 juta suara, Partai Demokrat 1,1 juta suara, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1 juta suara.

Ambisi Gajah di Ceruk Nasdem

Dua pekan setelahnya, ambisi tersebut kembali diungkapkan oleh Ketua Harian PSI Ahmad Ali.

Kali ini bukan hanya Jawa Tengah, tetapi juga wilayah Sulawesi secara keseluruhan.

Kali ini argumentasi Ali didasarkan oleh sosok Rusdi Masse Mappasessu, politikus senior yang dinilai menjadi penentu Nasdem memenangkan pemilihan legislatif 2024 di Sulawesi Selatan.

Baca juga: Keyakinan Kaesang PSI Akan Jadi Partai Sangat Besar dan Misteri Mr J

"Bergabungnya dia ini momentum besar bagi PSI di Sulawesi. Saya berani mengatakan bahwa dengan kehadiran Pak Rusdi, insya Allah Sulawesi secara keseluruhan ini akan menjadi Kandang Gajah di Indonesia," ujar Ali di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (29/1/2026).

Ali menekankan, klaimnya mengenai Kandang Gajah ini bukanlah sekadar pepesan kosong.

Sebab, ketika Ali dan Rusdi Masse masih di Nasdem dulu, mereka berhasil mengalahkan Golkar di Sulsel.

Padahal, Golkar selama ini selalu menjadi juara di Sulsel.

"Kami pernah bersama-sama berjuang dalam satu partai, partai sebelumnya, di mana kita tahu, sejak bangsa ini merdeka, sampai dengan kami bergabung di Partai Nasdem, belum pernah terkalahkan namanya Partai Golkar," jelasnya.

Dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sulawesi Selatan nomor 740 Tahun 2024 dijelaskan, perolehan suara Partai Nasdem saat itu menjadi yang tertinggi dengan 887.682.

Suara tersebut mengalahkan dominasi Golkar yang hanya mendapat 770.454 suara.

Baca juga: Mengenal Rusdi Masse, Sosok yang Disebut Jokowi-nya Sulsel oleh PSI

Golkar bahkan kalah oleh Gerindra dengan jumlah suara 812.563.

Sedangkan PSI saat itu berada di papan bawah dengan hanya 40.201 suara.

PSI berada di posisi 13 dari 18 partai politik yang berkontestasi.

Tapi Ahmad Ali yakin, Rusdi sudah punya rencana untuk memberikan kemenangan PSI pada peleg 2029.

"Sehingga keyakinan itu, pengalaman itu, menambah keyakinan saya bahwa insya Allah sejarah itu kami akan ulangi. Dan bahkan mungkin tidak hanya di Sulawesi, kami tahu cara untuk memenangkan partai ini di Indonesia," imbuh Ali.

Bandwagon Effect Nama Jokowi

Direktur Eksekutif Charta Politica, Yunarto Wijaya mengatakan, apa yang dilakukan PSI saat ini tak lain sebagai upaya untuk membuktikan bahwa mereka siap bertarung di level atas.

Dia menyebutnya sebagai teori perilaku pemilihnya yang bisa disebut sebagai bandwagon effect, atau efek jawara.

Baca juga: Sosok Misterius Mr J Diungkap Ketika Struktur PSI Sudah Terbentuk

Dikutip dari laman Universitas Pendidikan Nasional, Bandwagon Effect adalah konsep psikososial ketika individu cenderung mengikuti tren yang sedang populer karena banyak yang melakukannya.

Istilah “bandwagon” sendiri berasal dari dunia politik Amerika Serikat pada abad ke-19, saat para kandidat menggunakan kereta musik (bandwagon) untuk menarik perhatian massa selama kampanye.

Orang-orang pun mulai ikut “naik ke atas kereta” secara simbolis, mengikuti arus dukungan yang sudah besar.

Dalam konteks PSI, Yunarto mengatakan, PSI semakin mempertegas bahwa partai ini adalah partainya Jokowi dengan menggambarkan Kaesang sebagai anak Jokowi.

"Dan itu, dan bukan tidak mungkin, dalam acara-acara besar Jokowi akan mulai dilibatkan secara langsung. Dan suka atau tidak ya Jokowi memang masih menjadi magnet ya, terutama di daerah-daerah tertentu seperti di Jawa Tengah salah satunya. Itu memang menurut saya menjadi sebuah kekuatan tersendiri," kata Yunarto.

Baca juga: Alasan Rusdi Masse Gabung PSI Usai Tinggalkan Nasdem

Hal ini yang membuat PSI dinilai percaya diri bisa membuat kandang-kandang gajah di wilayah partai lain.

"Bedol desa" kader parpol lain

Strategi lain yang dijalankan PSI, kata Yunarto, adalah "bedol desa" kader partai lain yang terlihat cukup masif, khususnya kader partai Nasdem.

Istilah "bedol desa" sendiri adalah jenis transmigrasi atau pemindahan penduduk satu desa atau daerah secara bersama-sama.

"Di sisi lain ada penguatan juga secara infrastruktur dengan istilah pembajakan atau apa ya, bedol desa tanda kutip dengan mengambil beberapa tokoh yang memang kuat di daerahnya," tutur Yunarto.

Strategi ini sudah terbukti dengan dimasukannya Ahmad Ali langsung menjadi ketua harian, ditambah dengan Rusdi Masse yang baru masuk PSI.

Seperti diketahui, kedua kader Partai Nasdem ini adalah jangkar kekuatan electoral di Sulawesi yang kini berpindah ke PSI.

Yunarto mengatakan, perpindahan elite Partai Nasdem di Sulawesi ini tidak bisa dipandang sebagai perpindahan individu saja.

Baca juga: Rusdi Masse Gabung PSI, Ahmad Ali: Seluruh Sulawesi Jadi Kandang Gajah

Dia meyakini, perpindahan Ahmad Ali dan Rusdi Masse bisa menjadi gelombang perpindahan pengurus Nasdem dan partai lainnya untuk mengikuti langkah mereka berdua ke PSI.

Pengamat Politik Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin mengatakan, rasa percaya diri PSI didasari dari jaringan dan logistik dari kader-kader partai yang dibajak oleh PSI.

Namun dia mengatakan, rasa percaya diri tersebut harus bisa dibuktikan oleh Rusdi Masse dan Ahmad Ali pada Pemilu 2029 nanti.

"Karena bagaimana pun, Nasdem tidak akan tinggal diam, Nasdem akan terus bergerak melawan PSI, partai lain juga sama," ujarnya kepada Kompas.com.

Dia juga meyakini, masuknya para tokoh parpol lain ke PSI didasari dari pengaruh Jokowi yang masih besar di partai tersebut.

Peran Jokowi cukup besar dalam pembajakan kader partai lain tersebut, termasuk ambisi membuat kandang gajah di wilayah lain.

"Karena Jokowi selain tokoh PSI di belakang layar, dia juga mentor untuk mereka semua. Jokowi kan punya pengalaman jadi presiden, pernah mengatur koalisi juga," tandasnya.

Tag:  #ambisi #bangun #kandang #gajah #basis #partai #lain #dari #jawa #tengah #hingga #sulawesi

KOMENTAR