Pidato Awal Tahun Menlu: Soroti Dunia yang Rapuh hingga Nervous di Hadapan Senior
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan paparan dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026). Dalam paparannya, Sugiono mengumumkan capaian diplomasi Indonesia sepanjang tahun 2025 salah satunya yaitu menegaskan peran aktif Indonesia dalam pembahasan pembentukan International Stabilization Force (ISF) sebagai langkah transitional untuk memastikan terwujudnya gencatan senjata permanen sekaligus membuka akses bantuan kemanusiaan di Gaza. ANTAR
05:34
15 Januari 2026

Pidato Awal Tahun Menlu: Soroti Dunia yang Rapuh hingga Nervous di Hadapan Senior

– Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyoroti sejumlah isu strategis global saat menyampaikan pidato dalam kegiatan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Dalam pidatonya, Sugiono menggambarkan kondisi dunia yang kian kompleks, ditandai oleh meningkatnya kompetisi global, situasi yang sulit diprediksi, serta peran aktor non-negara yang semakin memengaruhi arah dinamika internasional.

Selain itu, Sugiono juga menyinggung konflik Palestina–Israel yang hingga kini belum menunjukkan penyelesaian konkret di tengah minimnya langkah nyata dari komunitas internasional.

Di sisi lain, terdapat sejumlah momen menarik yang mewarnai pidato Sugiono, baik saat berlangsung maupun setelah acara.

Mulai dari ekspresi gugup di awal penyampaian, kelakar soal tiga wakil menteri yang disebutnya “masih belum cukup”, hingga momen bersalaman dengan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.

Tatanan dunia rapuh

Sugiono menilai, tatanan dunia saat ini berada dalam kondisi yang semakin rapuh.

Menurut Sugiono, hukum internasional yang selama ini menjadi penopang stabilitas kerap disalahgunakan melalui pendekatan a la carte atau dipilih sesuai kepentingan sendiri.

Ketika aturan yang telah disepakati dilanggar tanpa konsekuensi, yang runtuh bukan hanya satu ketentuan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan keseluruhan tatanan internasional.

“Di saat yang sama, dunia menyaksikan kembalinya fenomena ‘might makes right’ atau ‘siapa kuat, dia menang’,” kata dia.

Menurut dia, standar ganda yang dipraktikkan secara terbuka telah mengikis kepercayaan antarnegara.

Pada saat bersamaan, mekanisme tata kelola global kian tertinggal dari realitas geopolitik yang berkembang cepat, bahkan sejumlah negara kunci justru menarik diri dari tanggung jawab global.

Sugiono mengingatkan, situasi ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang runtuhnya Liga Bangsa-Bangsa yang berujung pada Perang Dunia ke-2.

Dunia, kata dia, kini bergerak menuju kompetisi yang lebih tajam dan fragmentasi yang lebih dalam.

Bakal terseret

Sugiono mengatakan, negara tanpa strategi akan terseret arus, sedangkan negara tanpa ketahanan akan menjadi obyek.

Sebab, selain negara, pihak non-negara seperti perusahaan besar, organisasi internasional, lembaga keuangan, hingga kelompok masyarakat, juga memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah dunia.

"Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi obyek," ucap Sugiono.

"Dan Indonesia tentu saja tidak boleh berada di posisi itu. Kita harus melihat dunia apa adanya. Keras, kompetitif, dan semakin tidak terprediksi," tegas dia.

Dengan begitu, Indonesia memerlukan diplomasi dan kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme untuk menghadapi situasi tersebut.

Indonesia, kata Sugiono, harus memiliki ketahanan untuk menahan tekanan, mengelola risiko, serta beradaptasi agar dapat bangkit lebih kuat.

Ketahanan tersebut bersifat dinamis, mengingat ancaman kini tidak lagi datang dalam bentuk tunggal dan krisis pun kerap terjadi secara bersamaan.

Kesadaran politik negara

Sugiono mengatakan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan wujud kesadaran politik negara bahwa pembangunan manusia merupakan fondasi utama kekuatan nasional Indonesia.

“Dan lebih dari sekadar kebijakan sosial, program Makan Bergizi Gratis adalah kesadaran politik bahwa pembangunan manusia menjadi tumpuan kekuatan nasional Indonesia,” kata Sugiono.

Sugiono menegaskan bahwa diplomasi Indonesia dijalankan sebagai instrumen strategis pembangunan nasional untuk mendukung ketahanan pangan dan energi, termasuk program MBG.

“Guna menunjang pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, Indonesia telah menggalang kerja sama dengan School Meals Coalition, badan-badan dunia terkait, serta negara-negara mitra,” ujar Sugiono.

Politikus Partai Gerindra itu mengeklaim, program MBG telah menjadi rujukan setelah berhasil menyediakan makanan bagi lebih dari 55 juta anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Krisis di Gaza

Sugiono menyoroti krisis di Gaza, Palestina, yang masih berlarut-larut tanpa adanya upaya nyata dari dunia untuk menghentikannya.

“Dan Gaza adalah contoh dari kenyataan pahit tersebut,” ujar Sugiono.

Sugiono menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap konflik yang dialami oleh Palestina.

“Arahan beliau jelas, bahwa Indonesia tidak boleh diam ketika kemanusiaan dilanggar secara terang-terangan,” kata Sugiono.

Sejak awal, Indonesia memilih terlibat dalam berbagai upaya internasional untuk merespons krisis di Gaza.

Salah satunya dengan menjadi co-chair atau ketua bersama dalam working group, yakni kelompok kerja, yang menghasilkan New York Declaration atau Deklarasi New York.

Indonesia juga terlibat aktif dalam mendorong implementasi hasil Riyadh Summit, yakni Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Riyadh, yang membahas isu Palestina.

Dalam konteks tersebut, Indonesia disebut turut berperan aktif dalam pembahasan pembentukan International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional.

ISF dipandang sebagai langkah transisional atau sementara untuk memastikan terjadinya gencatan senjata permanen, sekaligus membuka akses bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di Gaza.

Tetapi, Indonesia konsisten dengan tujuan mewujudkan solusi dua negara untuk mengakhiri konflik di Gaza, yakni mewujudkan dua negara Palestina dan Israel yang sama-sama saling mengakui.

“Namun, ISF ini merupakan instrumen sementara. Perdamaian melalui solusi dua negara merupakan tetap merupakan tujuan akhir,” ujar dia.

“Karena bagi Indonesia, kemerdekaan kedaulatan Palestina adalah bagian dari amanat konstitusi yang harus kita perjuangkan,” tambah dia.

Baginya, Palestina adalah pengingat bahwa diplomasi tidak boleh kehilangan nuraninya.

Kelakar

Sugiono berkelakar bahwa jumlah wakil menteri di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) masih kurang meskipun ia memiliki tiga orang wakil menteri.

Awalnya, Sugiono mengucap terima kasih ke Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta yang mengawaki diplomasi Indonesia dengan negara-negara Islam sebelum menyinggung keberadaan tiga wakil menteri di Kemenlu.

"Ibu Retno, Pak Alwi, saya melaporkan... saya punya tiga wakil menteri. Terus terang saja, momen-momen seperti ini kita baru bisa ketemu," ujar Sugiono, dalam pidatonya, disambut dengan tepuk tangan hadirin.

Sugiono menuturkan, tiga wakil menterinya itu punya urusan dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga mereka jarang berkumpul.

Dia lantas bergurau bahwa ia masih memerlukan tambahan wakil menteri.

Namun, ia tidak tahu apakah permintaan itu bakal dipenuhi oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Dan sejujurnya saya merasa masih kurang tiga itu. Saya enggak tahu apakah kalau saya minta tambah diizinkan oleh Bapak Presiden," ucap Sugiono, lalu tersenyum.

Setelah kelakar ini, Sugiono melanjutkan pidatonya dengan menyinggung kiprah Anis Matta.

Gugup

Di tengah-tengah pidatonya ini, Sugiono juga mengaku gugup saat berpidato di depan dua mantan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dan Alwi Shihab.

Pengakuan ini disampaikan Sugiono setelah sempat terselip lidah saat menyebut kata 'perlindungan' dalam pidatonya.

"Bapak dan Ibu yang saya hormati, ketahanan nasional juga harus didukung dan diukur dari seberapa jauh negara hadir untuk melindungi warganya. Pelindungan, pelindungin, perlindungan warga negara Indonesia," ucap Sugiono.

Sugiono lalu menghentikan pidatonya dan menyampaikan permohonan maaf kepada hadirin.

"Maaf, ini PPTM saya yang kedua (setelah menjadi menteri), tapi tetap saja saya merasa nervous, apalagi ada senior-senior Menteri Luar Negeri di depan saya," kata Sugiono, sambil tersenyum.

Bersalaman dengan Dino Patti Djalal

Momen menarik juga terjadi dalam acara PPT 2026 ketika Sugiono menyalami mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal.

Diketahui, Dino Patti Djalal sebelumnya merupakan sosok yang melontarkan empat kritik terhadap kepemimpinan Sugiono di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Pada momen tersebut, terlihat Sugiono memakai setelan jas berwarna abu-abu dipadukan dengan kemeja putih dan peci hitam menyalami para tamu yang hadir dalam PPTM 2026.

Salah satu jajaran tamu yang ada dalam acara tersebut adalah Dino Patti Djalal yang mengenakan setelan jas berwarna hitam.

Tampak senyum terlihat di wajah Sugiono maupun Dino Patti Djalal dalam momen jabat tangan tersebut.

Sementara itu, dalam pidatonya, Sugiono mengaku berupaya menjaga Kemenlu tetap hangat dalam suasana kekeluargaan.

Tujuannya agar kementerian yang dipimpinnya menjadi rumah bersama bagi seluruh insan diplomasi Indonesia lintas negara.

Tag:  #pidato #awal #tahun #menlu #soroti #dunia #yang #rapuh #hingga #nervous #hadapan #senior

KOMENTAR