Menhan Sebut TNI Berlakukan Meritokrasi, Penugasan Tak Pandang Senior atau Junior
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa pembinaan prajurit TNI kini menerapkan sistem meritokrasi.
Oleh sebab itu, penugasan tidak lagi didasarkan pada senioritas, melainkan pada kemampuan dan kinerja prajurit.
“Ini sudah dalam proses bahwa kita sekarang mengembangkan kepemimpinan personel itu menganut filosofi merit system,” kata Sjafrie saat mengunjungi Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 827/Mahakam Cakti Yudha, Muara Tae, Jempang, Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (13/1/2026).
“Dalam merit system itu, kita tidak melihat senior dan junior. Tapi kita melihat prestasi,” lanjut dia.
Sjafrie menjelaskan, setiap komandan memiliki tanggung jawab menyiapkan prajuritnya untuk berbagai penugasan, baik operasi maupun latihan, di dalam maupun luar negeri.
Ia menegaskan, prajurit yang dinilai memiliki kelayakan dan prestasi akan diberi kesempatan menjalankan tugas operasi maupun tugas pembinaan satuan, seperti latihan dan pendidikan.
“Semuanya berdasarkan siapa cepat, siapa merit. Ya, merit itu bukan kawin, tapi meritokrasi, berdasarkan prestasi,” ujar Sjafrie.
Sjafrie juga menekankan, usia tidak boleh menjadi hambatan dalam pengembangan karier prajurit.
Oleh karena itu, batalion diminta membina satuan di bawahnya secara berjenjang, dengan komandan batalion dibina oleh komandan brigade, dan komandan brigade dibina oleh Kodam.
“Kita tidak lagi secara konvensional, pakai normatif, tapi berdasarkan siapa punya peluang untuk bisa tampil berdasarkan kapabilitas dan juga berdasarkan kapasitasnya dia, maka dia akan didorong,” kata Sjafrie menegaskan.
Tag: #menhan #sebut #berlakukan #meritokrasi #penugasan #pandang #senior #atau #junior