Kumo Dorong Digitalisasi Layanan Kesehatan di Seluruh APAC melalui Ekosistem Terintegrasi
– Sektor kesehatan di Asia Tenggara tengah beralih dari pencatatan manual ke sistem digital seiring berkembangnya kebijakan pemerintah, kebutuhan perawatan pasien, standar keamanan data, serta tuntutan efisiensi operasional.
Sejumlah fasilitas layanan kesehatan kini mulai mengadopsi rekam medis elektronik terintegrasi guna menjamin keamanan data pasien sekaligus meningkatkan kualitas layanan.
Transformasi ini juga mendorong klinik dan pusat kesehatan beradaptasi dengan sistem kerja yang semakin terdigitalisasi.
Di tengah dinamika tersebut, Kumo memperluas perannya sebagai penyedia solusi digital untuk operasional klinik dan pusat kesehatan di kawasan Asia Pasifik (APAC).
Setelah satu dekade beroperasi, platform software-as-a-service (SaaS) ini mengembangkan layanannya menjadi sistem terintegrasi yang mendukung berbagai kebutuhan operasional klinis.
Baca juga: Perkuat Digitalisasi Kesehatan, Data Academy dan LST UI Gelar Data Enthusiast Day 2024
Pendiri Kumo Kevin Nair mengatakan, fokus perusahaan sejak awal adalah tumbuh bersama pelanggan. Menurut dia, pendekatan berpusat pada pengguna menjadi kunci pengembangan produk Kumo.
“Tidak ada yang berubah sejak awal. Kumo akan terus berkembang, didorong oleh pendekatan kami yang berpusat pada pelanggan. Kami berupaya memantapkan diri sebagai penyedia teknologi terkemuka di industri ini,” ujar Nair dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Nair menambahkan, pihaknya bekerja sama erat dengan klien serta memperlakukan mereka sebagai mitra.
“Dengan mendengarkan masukan pengguna dan menyesuaikan pengembangan perangkat lunak, Kumo berupaya memastikan layanannya tetap relevan dengan kebutuhan klinik yang terus berubah,” kata Nair.
Saat ini, Kumo digunakan oleh lebih dari 2.500 klinik dengan sekitar 25.000 pengguna di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Indonesia.
Baca juga: Pyridam Farma Hadirkan Kompetisi Mahasiswa Bidang Digitalisasi Kesehatan
Layanan tersebut hadir melalui empat merek khusus, yakni Aoikumo, kumoDent, kumoVet, dan kumoDoc, yang menyasar klinik kecantikan dan pusat kesehatan, klinik gigi, klinik hewan serta layanan perawatan hewan, hingga praktik dokter umum.
Pengembangan ekosistem ini turut mendapat pengakuan melalui penghargaan MD Asia Pacific ICT Awards 2024. Kumo juga ditunjuk sebagai supporting partner dalam inisiatif “100 Go Digital” pada 2023 dan 2024.
Selain di fasilitas layanan kesehatan, platform ini juga digunakan di institusi pendidikan, seperti MAHSA University dan Penang International Dental College, untuk memperkenalkan teknologi kesehatan digital kepada mahasiswa.
Operasional klinik terintegrasi
Di sisi lain, adopsi sistem digital di sektor kesehatan kerap dihadapkan pada kompleksitas regulasi, perlindungan data, serta kewajiban penerapan Rekam Medis Elektronik (RME).
Tantangan tersebut menuntut efisiensi operasional yang lebih tinggi di tengah keterbatasan sumber daya di banyak klinik.
Baca juga: Rumah Sakit Didorong Lakukan Digitalisasi Kesehatan
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kumo mengintegrasikan berbagai proses operasional klinik, mulai dari pendaftaran pasien, pembayaran, hingga pelaporan kepada pemerintah, seperti integrasi dengan SATUSEHAT di Indonesia, dalam satu platform.
Sistem tersebut juga terhubung dengan layanan pihak ketiga, seperti WhatsApp, Google, LINE, dan Stripe, guna mendukung komunikasi, penjadwalan, serta pembayaran.
Selain itu, platform ini mendukung manajemen klaim pihak ketiga (third party administrator) serta pengelolaan faktur dan pembayaran secara terintegrasi.
Kumo juga menyediakan aplikasi khusus untuk dokter, pasien, dan perawat, sehingga memudahkan koordinasi perawatan di berbagai titik layanan sepanjang perjalanan pasien.
Dari sisi keamanan data, Kumo telah mengantongi sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi serta SIRIM UKAS.
Baca juga: Teknologi Kesehatan Ubah Lanskap Bisnis Rumah Sakit di Daerah
Platform ini juga terintegrasi dengan SNOMED CT untuk mendukung standar diagnosis pasien dan interoperabilitas data antarpenyedia layanan kesehatan.
Dalam pengembangannya, Kumo mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu klinik mengelola operasional secara lebih adaptif.
Dengan dukungan sistem terintegrasi, dokter dan pemilik klinik diharapkan dapat lebih fokus pada layanan dan pemulihan pasien. Sementara, proses administratif ditangani secara otomatis oleh sistem.
Nair menilai, ke depan, keberhasilan layanan kesehatan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya fitur aplikasi, melainkan oleh seberapa baik sistem saling terhubung.
“Dekade berikutnya dari perawatan rawat jalan tidak akan ditentukan oleh lebih banyak aplikasi dan fitur, melainkan oleh ekosistem klinis yang lebih terintegrasi, interoperabel, dan cerdas dengan AI yang berbasis nilai. Perubahan kecil dapat membawa perbedaan besar,” kata Nair.
Tag: #kumo #dorong #digitalisasi #layanan #kesehatan #seluruh #apac #melalui #ekosistem #terintegrasi