6 Fakta Banjir Bandang Dahsyat yang Menerjang Sitaro di Awal 2026
- Banjir bandang terjadi di Kabupaten Sitaro pada Senin (5/1/2026) dini hari akibat hujan intensitas sangat tinggi selama lima jam.
- Data per Selasa (6/1/2026) mencatat 14 korban meninggal, 18 luka-luka, dan 4 orang masih hilang pasca bencana.
- Empat kecamatan terdampak parah, menyebabkan 21 rumah hanyut dan memaksa 444 warga mengungsi sementara.
Awal tahun 2026 disambut duka mendalam di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara.
Banjir bandang dahsyat menerjang pemukiman warga pada Senin (5/1/2026) dini hari setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.
Hingga kini tim SAR gabungan masih terus berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang hilang di tengah material lumpur dan bebatuan.
Berdasarkan data yang didapatkan dari BNPB, BPBD dan laporan lapangan, berikut adalah 5 fakta terkait bencana banjir bandang di Siau:
1. Dipicu Hujan Ekstrem
Bencana ini bermula dari hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur Pulau Siau sejak Senin (5/1/2026) pukul 02.00 WITA.
Hujan deras yang berlangsung selama lebih dari lima jam tersebut menyebabkan air sungai meluap drastis, membawa material tanah, batu besar, dan batang pohon dari perbukitan langsung menuju pemukiman warga di dataran rendah.
2. Jumlah Korban Jiwa Terus Bertambah
Dari data yang dihimpun, hingga Selasa (6/1/2026) jumlah korban terus bertambah sedikitnya 14 korban meninggal dunia.
Selain korban tewas, tercatat sekitar 18 orang mengalami luka-luka dan saat ini tengah menjalani perawatan medis.
Sementara itu, 4 orang lainnya dilaporkan masih hilang dan dalam proses pencarian oleh tim Basarnas.
3. 4 Kecamatan Terdampak Parah
Dampak dari bencana banjir bandang ini meluas hingga ke empat kecamatan di pulau Siau, diantaranya: Kecamatan Siau Timur, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kecamatan Siau Barat, Kecamatan Siau Barat Selatan.
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro, korban meninggal tersebar di empat kampung, yaitu Bahu, Peling, Laghaeng, dan Batusenggo. Sedangkan korban hilang berasal dari Bahu dan Laghaeng.
4. Kerusakan Rumah dan Fasilitas Umum
Tercatat ada 21 unit rumah yang hanyut atau hilang akibat banjir bandang tersebut. Tak hanya rumah, fasilitas umum ikut mengalami kerusakan.
Akses jalan utama di beberapa titik juga lumpuh total akibat tumpukan material tanah, batu, dan kayu.
5. Ratusan Warga Mengungsi di Titik-Titik Aman
Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 444 jiwa atau sekitar 143 Kepala Keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Para pengungsi kini tersebar di beberapa titik evakuasi utama, seperti Gedung GMIST Bethbara dan tempat yang sudah disediakan lainnya.
Pemerintah setempat juga menyediakan kebutuhan dasar seperti, perlengkapan tidur, pakaian anak, serta makanan siap saji.
6. Penetapan Status Tanggap Darurat
Merespon skala bencana yang masif, Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangi resmi menetapkan status tanggap darurat bencana Hidrometeorologi melalui surat keputusan nomor 1 tahun 2026.
Status ini berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 5 Januari hingga 18 Januari 2026, untuk mempercepat mobilisasi bantuan logistik dan pengerahan alat berat ke lokasi bencana.
Reporter: Tsabita Aulia
Tag: #fakta #banjir #bandang #dahsyat #yang #menerjang #sitaro #awal #2026