Cerita Eks Pengawas MA Menilai Integritas Hakim di Parkiran Mobil: Isinya Avanza, Innova, atau Jaguar?
Ketua Bidang Peningkatan Kapasitas Hakim Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia (RI), Setyawan Hartono, menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Inspektur Wilayah Badan Pengawasan Mahkamah Agung (MA) RI pada periode 2009–2014.
Tiap kali Setyawan menyambangi pengadilan, hal pertama yang dia lakukan adalah melihat parkiran mobil para hakim.
“Isinya parkiran itu apa? Apa mobil sekelas Avanza? Naik Innova? Atau mungkin yang bisa juga ada Jaguar di situ,” ujar dia dalam jumpa pers di Kantor Komisi Yudisial RI, Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025).
Menurutnya, kondisi parkiran pengadilan dapat mencerminkan integritas hakim melalui kendaraan yang digunakan.
Pasalnya, meskipun tunjangan hakim tergolong besar, hal tersebut tidak serta-merta menjadikan seorang hakim kaya.
Hanya saja, jika terdapat hakim dengan kekayaan mencolok, hal itu tidak langsung berarti yang bersangkutan bermasalah, bisa saja berasal dari latar belakang keluarga berada.
“Tapi (kondisi itu) sudah menjadi indikasi awal untuk kita pantau, kita verifikasi, apakah memang apa yang dimiliki itu diperoleh secara legal, secara halal atau mungkin karena perilakunya ya penyimpangan-penyimpangan sebagai hakim,” tutur dia.
Di sisi lain, Setyawan mengaku perasaannya berkecamuk saat melihat hakim yang terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Dalam konteks pencegahan ini ingin melakukan penetrasi dengan melakukan pengawasan dari dalam, dari dalam lembaga peradilan sendiri. Kami akan membangun komunitas atau grup Hakim Sahabat KY,” kata Setyawan.
“Jadi saya sebagai seorang hakim betul-betul sangat merasakan ketika ada hakim yang melakukan pelanggaran kode etik, lebih-lebih pelanggaran pidana. Kena OTT, rasanya kami semua jadi pesakitan itu. Sedih, malu, marah, begitu,” ucap dia melanjutkan.
Bukan hanya Setyawan, ia menyebutkan bahwa tidak sedikit hakim di Indonesia yang merasakan hal serupa.
Perasaan tersebut akan dimanfaatkan Setyawan untuk mendorong pengawasan antarsesama hakim melalui grup “Hakim Sahabat KY”.
“Jadi ini mungkin nanti, ya, itu kami akan bentuk bangun komunitas Hakim Sahabat KY melalui grup apakah WhatsApp atau apa,” jelas dia.
Syukur-syukur, kata Setyawan, mereka yang tergabung dalam “Hakim Sahabat KY” dapat menjadi whistleblower dengan memberikan informasi mengenai koleganya, sesama hakim, termasuk gaya hidup, perilaku sehari-hari, serta aset yang dimiliki.
Pasalnya, kepemilikan aset memiliki korelasi kuat dengan potensi terjadinya pelanggaran.
Terkait pembentukan “Hakim Sahabat KY”, Setyawan menilai secara psikologis program ini dapat menjadi tekanan bagi hakim yang berniat melakukan pelanggaran.
Sebab, mereka akan merasa khawatir karena di lingkungan sekitarnya terdapat Hakim Sahabat KY yang berpotensi melaporkan perilaku tidak pantas.
Sementara itu, terhadap hakim yang dicurigai, baik karena perilaku, gaya hidup, maupun kepemilikan aset, akan dilakukan pemantauan dalam penanganan perkara, terutama perkara-perkara yang berpotensi diperdagangkan dengan keuntungan besar.
Tag: #cerita #pengawas #menilai #integritas #hakim #parkiran #mobil #isinya #avanza #innova #atau #jaguar