Anak Gagal SNBT, Kenali Tanda Stres Terpendam
- Tidak semua anak yang gagal lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) mengekspresikan perasaannya. Mereka terlihat tegar, seolah menerima keadaan tanpa banyak bicara. Sikap terlampau tenang yang ditunjukkan anak pada masa krisis ini patut mendapat perhatian ekstra dari keluarga.
Menekan rasa sedih dan berpura-pura kuat demi menghindari ketidaknyamanan justru berisiko memicu masalah psikosomatis hingga gangguan kesehatan mental yang jauh lebih serius ke depannya.
Baca juga: Anak Gagal SNBT? Ini Cara Menyusun Ulang Rencana Masa Depan
Bahaya menghindari rasa kekecewaan saat gagal SNBT
Anak yang baru saja menghadapi kegagalan akademik umumnya merasakan tekanan. Tapi, ketidaksiapan menghadapi rasa kecewa membuat mereka memilih mengubur dalam-dalam perasaan tersebut.
Menanggapi hal ini, Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Alida Shally Maulinda, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa sikap denial dapat bermanifestasi menjadi serangkaian keluhan fisik.
"Nah, rasa kecewa ini tidak nyaman dirasakan, pikiran jadi penuh, perasaan tidak karuan, sering juga terasa di tubuh seperti sakit kepala atau sulit tidur," ungkap Alida saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Anak berisiko menutup diri
Alih-alih hilang secara alami, kebiasaan menekan perasaan tersebut ibarat menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja, dan berpotensi mengubah karakter dasar anak.
Baca juga: Anak Tak Lolos SNBT, Psikolog Ingatkan Orangtua untuk Tak Bereaksi Negatif
"Emosi yang dihindari biasanya akan terpendam sedikit demi sedikit, sehingga menimbulkan risiko lainnya, seperti mudah marah, sulit membuat keputusan, atau seperti sulit merasakan emosi apapun," tutur Alida.
Kondisi anak yang tengah memendam perasaan ini akan semakin parah jika orangtua justru merespons dengan omelan atau sindiran.
Psikolog Klinis Dewasa, Divani Aery Lovian, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa interaksi penuh tekanan dari keluarga makin membuat anak menutup diri.
"Jadi, anak bisa jadi cenderung menarik diri, memendam perasaan, menghindar, merasa gagal secara personal gitu," tutur Divani.
Baca juga: Ingin Hidup Selalu Berjalan Mudah Justru Bikin Kecewa, Ini Sebabnya
Ilustrasi sedih, ilustrasi menangis, ilustrasi depresi.
Memaksakan diri akibat rasa bersalah
Memendam stres usai gagal ujian juga dapat memunculkan pola pikir yang sangat membahayakan. Anak yang telanjur merasa bersalah dan menganggap dirinya sebagai beban berat bagi keluarga, akan mulai menuntut dirinya sendiri dengan ambisi tidak sehat.
Anak berpotensi menetapkan standar kesuksesan tinggi demi membayar rasa kecewa serta pengorbanan finansial orangtuanya.
"Tidak jarang, keberhasilan akhirnya diraih dengan cara apapun oleh anak," papar Alida.
Baca juga: 7 Sikap Orangtua yang Membantu Anak Lebih Tenang dan Percaya Diri
Dorongan ambisi yang berlandaskan rasa takut dan bersalah ini menurut dia sangat merugikan proses tumbuh kembang remaja.
Di titik ekstrem lainnya, besarnya tekanan batin dapat mematikan seluruh potensi yang dimiliki anak karena takut gagal lagi.
"Mungkin saja anak menjadi takut gagal sehingga takut mencoba lagi, menarik diri, serta kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu yang mendukung perkembangannya," terang Alida.
Pendampingan tepat dan bantuan psikolog
Dukungan keluarga sangat berperan membantu anak berdamai dengan gejolak batinnya. Validasi sederhana terhadap diri sendiri dapat membantu membuka "sumbatan emosi" tersebut secara perlahan.
"Sampaikan pada diri sendiri, 'Oh iya, aku kecewa ya' atau 'Iya, aku merasa kecewa', sehingga kita seperti mengakui dan menerima kehadiran perasaan tersebut dalam diri," ucap Alida.
Baca juga: Menunggui Anak di UTBK 2026 Jadi Bentuk Dukungan Mental Orangtua
Dalam fase pemulihan awal ini, anak tidak perlu dituntut untuk segera memikirkan rencana pendidikan selanjutnya.
Orangtua hanya perlu menyediakan ruang yang aman agar anak berani mengakui kerapuhan dirinya di rumah tanpa takut dihakimi atau dimarahi.
Akan tetapi, wasapai perubahan perilaku pada anak, misalnya gangguan tidur dan nafsu makan, atau anak menunjukkan tanda mengurung diri, langkah intervensi dari ahli kesehatan mental profesional harus segera dipertimbangkan.
"Jika diperlukan, psikolog juga dapat membantu anak untuk menghadapi kekecewaannya tanpa harus menunggu perasaan tersebut berlarut-larut hingga mengganggu anak dalam kesehariannya," pungkas Alida.
Baca juga: Anak Gagal UTBK, Orangtua Jangan Ungkap Kekecewaan di Media Sosial