Donald Trump Bentak Netanyahu: Kamu Gila?
Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan sedang berada di titik nadir setelah sebuah percakapan telepon yang sangat panas terjadi antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan laporan dari Axios, Trump dikabarkan sangat geram hingga membentak Netanyahu karena aksi militer Israel yang terus melakukan eskalasi di Lebanon.
Trump menilai langkah nekat Israel tersebut telah merusak upaya negosiasi damai yang sedang dirintis antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam rekaman pembicaraan yang bocor, Trump bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan menyebut Netanyahu telah bertindak gila karena membahayakan stabilitas kawasan di saat kesepakatan diplomatik sedang diupayakan.
"Kamu gila? Kau akan dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” kata Trump.
Ketegangan ini muncul karena memo kesepakatan damai yang sedang digodok Washington dan Teheran secara eksplisit menuntut berakhirnya permusuhan di Lebanon.
Jika perang AS-Iran terus berlanjut, Iran mengancam tidak hanya akan meninggalkan meja perundingan, tetapi juga siap melakukan konfrontasi langsung.
Internet Iran Mulai Pulih
Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]Di tengah gejolak diplomatik tersebut, situasi internal Iran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski masih dalam kondisi rapuh.
Setelah mengalami pemutusan akses internet total selama kurang lebih tiga bulan sejak awal perang, otoritas Iran akhirnya mulai menyambungkan kembali akses internet ke publik.
Langkah ini mengakhiri masa kegelapan digital selama lebih dari 2.000 jam, yang tercatat sebagai pemadaman internet nasional terlama di dunia bagi negara dengan 90 juta penduduk.
Menurut Al Jazeera, meski sudah mulai berjalan, akses internet di Iran nyatanya belum benar-benar normal. Pemerintah setempat masih menerapkan pengawasan ketat dan memblokir jutaan halaman web serta aplikasi populer seperti Instagram, WhatsApp, dan YouTube.
Masyarakat pun harus berhadapan dengan koneksi yang lambat dan tidak stabil. Bahkan, muncul skema Internet Pro yang harganya tiga kali lipat lebih mahal hanya untuk mendapatkan akses yang sedikit lebih longgar, sebuah kebijakan yang memicu kritik tajam dari berbagai kalangan di Teheran.
Sektor Energi Mulai Jalan Lagi
Selain pulihnya akses komunikasi, sektor energi Iran juga mulai bangkit setelah sempat lumpuh akibat serangan udara.
Ladang gas South Pars, yang merupakan salah satu fasilitas energi paling vital di Iran, kini telah mengaktifkan kembali produksi di tiga platform lepas pantainya. Fasilitas ini sebelumnya sempat mengalami kerusakan akibat serangan Israel pada bulan Maret lalu yang memicu aksi balasan rudal dari pihak Iran.
Kepala Pars Oil and Gas Company menyatakan bahwa meskipun perbaikan permanen masih terus dilakukan di beberapa titik, aliran gas sudah mulai dialirkan ke unit pemrosesan lainnya di wilayah tersebut.
Pemulihan produksi di South Pars ini dianggap memiliki makna simbolis sekaligus praktis yang sangat besar bagi Iran untuk menunjukkan bahwa mereka mampu membangun kembali infrastruktur yang hancur.
Apalagi, fasilitas ini adalah sumber energi domestik utama bagi rakyat Iran yang sering kesulitan memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Kebangkitan produksi ini menjadi langkah krusial bagi Teheran untuk menunjukkan ketahanan ekonomi mereka di tengah blokade pelabuhan yang masih terus diberlakukan oleh pemerintahan Trump sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap Iran.