Mengapa Susu Formula Anak Tidak Boleh Melalui Proses Pengolahan Panjang?
- Air Susu Ibu (ASI) selalu menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Tak ada susu yang bisa menandingi kualitas ASI.
Namun tak bisa dipungkiri, ada kondisi tertentu, di mana susu formula dibutuhkan, misalnya anak usia di atas satu tahun yang membutuhkan asupan nutrisi tambahan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya atau ketika kondisi ibu tidak dapat menyusui.
Dalam memilih susu formula, selain kualitas nutrisi kandungannya, proses pengolahan dari bahan baku hingga menjadi produk siap konsumsi juga penting menjadi perhatian.
Baca juga: 3 Hal yang Wajib Dicek Orangtua Sebelum Memilih Susu Formula Anak
Ahli gizi Ratri Aryanti, S.Tr.Gz mengungkap, bahwa proses pengolahan susu formula yang terlalu panjang dapat memengaruhi kualitas nutrisi susu, terutama protein.
"Umumnya produk susu formula itu melalui beberapa tahap yang cukup panjang, dan tahapan yang panjang itu menggunakan proses pemanasan yang berulang. Nah, proses pemanasan yang berulang ini efeknya pada apa? Efeknya adalah pada kandungan proteinnya," ujar Ratri dalam acara Acekid Media Gathering di Hutan Kota Plataran, Jakarta, belum lama ini.
Secara ilmiah, semakin banyak tahapan pemanasan yang dilalui susu, semakin besar pula risiko perubahan pada struktur nutrisi alaminya.
Pada proses yang dikenal sebagai multi-step process atau long-step process, susu segar biasanya diolah menjadi bubuk terlebih dahulu untuk disimpan. Setelah itu, bubuk susu dicairkan kembali, dicampur dengan berbagai zat gizi tambahan, lalu dikeringkan lagi menjadi bubuk.
Padahal menurut Ratri, protein dalam susu merupakan salah satu zat gizi yang paling rentan terhadap pemanasan berulang.
"Protein itu adalah salah satu zat gizi yang sangat rentan dengan proses pemanasan. Sehingga kalau proses pemanasannya itu dilakukan berulang, maka protein dalam susu akan lebih rentan untuk rusak atau terjadi denaturasi," ujarnya.
Oleh sebab itu, proses produksi yang lebih sederhana seperti one-step process atau satu langkah pengolahan dinilai dapat membantu mempertahankan kualitas protein. Dalam metode ini, susu segar langsung diolah menjadi susu bubuk, tanpa melalui tahapan penyimpanan dan pengolahan ulang yang panjang.
"Dengan one-step process, maka proses pemanasan bisa diminimalisir, tidak terjadi secara berulang. Sehingga denaturasinya juga minim. Protein yang minim mengalami denaturasi atau mengalami proses pemanasan yang minim, akan membuat protein jadi lebih mudah untuk larut dan lebih mudah juga untuk dicerna atau diserap," jelas Ratri.
Perbedaan One-Step Process dan Long-Step Process
Dalam kesempatan yang sama, Marketing Director AceKid Indonesia, Lucky Zheng, menyoroti bahwa masih banyak produk susu di pasaran yang menggunakan bahan baku susu bubuk yang telah disimpan dalam waktu sangat lama sebelum diproses kembali menjadi produk akhir.
Baca juga: Mengapa ASI Lebih Baik dari Susu Formula? Dokter Anak Jelaskan Alasannya
"Langkah panjang adalah bubuk ke bubuk, tetapi satu langkah langsung dari susu segar ke susu bubuk. Ini adalah nutrisi alami," kata Lucky.
Ia menjelaskan bahwa pada proses pengolahan panjang, bahan baku susu bubuk diproduksi di satu lokasi, kemudian disimpan dalam jangka waktu lama sebelum dikirim ke pabrik lain untuk diformulasikan ulang.
Sementara pada one-step process, susu segar langsung diproses tidak lama setelah diperah dari sapi peternakan.
"Dalam one step process, setelah susu diperah dari sapi, dalam waktu 2 jam langsung diolah di pabrik. Setelah itu langsung ke Indonesia. Jadi, kondisi susu masih segar, itu lebih alami. Inilah perbedaan susu bubuk one step dan long step," jelas Lucky.
Yang Harus Diperhatikan Saat Memilih Susu Formula
Selain memahami proses produksinya, Ratri mengingatkan, orangtua juga perlu teliti membaca label kemasan susu formula.
Ada sejumlah nutrisi penting yang perlu diperhatikan, sekaligus beberapa bahan tambahan yang sebaiknya dihindari.
Nutrisi penting yang perlu diperhatikan
Dikatakan Ratri, saat membaca informasi nilai gizi, pastikan susu formula mengandung zat gizi makro yang seimbang, yaitu kalori, protein, lemak, dan karbohidrat sesuai kebutuhan usia anak. Nutrisi ini menjadi sumber energi utama sekaligus fondasi pertumbuhan mereka.
Selain itu, perhatikan kandungan DHA dan AA yang berperan penting dalam perkembangan otak dan fungsi penglihatan anak, terutama pada masa golden age.
Ratri menegaskan bahwa bukan hanya jumlah DHA yang penting, tetapi juga keseimbangan antara DHA dan AA.
"Berbicara soal DHA dan AA, itu juga perlu seimbang rasionya. Jadi bukan jumlah DHA-nya lebih tinggi, tapi menurut para dokter anak, DHA dan AA itu perlu seimbang karena keduanya tidak bisa terpisahkan," jelasnya.
Kandungan nutrisi pendukung lain seperti Omega-3 dan Omega-6 juga tak kalah penting, karena berkontribusi terhadap tumbuh kembang anak.
Baca juga: Apa Itu DHA? Simak Manfaatnya untuk Anak Menurut Dokter
Kandungan yang sebaiknya dihindari
Sementara itu, di sisi lain ada beberapa bahan tambahan dalam susu formula yang perlu dicermati, seperti maltodekstrin, sirup jagung, sukrosa berlebih, serta perisa sintetik seperti vanili.
Bahan-bahan tersebut sering digunakan sebagai sumber karbohidrat olahan, pemanis tambahan, atau penguat rasa dan aroma.
Menurut Ratri, paparan rasa manis dan perisa yang berlebihan dapat memengaruhi preferensi rasa anak dalam jangka panjang.
"Sekarang banyak mulai orangtua yang mencari susu tanpa tambahan maltodekstrin. Apalagi anak-anak sekarang sudah terpapar banyak makanan manis. Ini harus diperhatikan juga berapa sih jumlah sukrosanya?” tutur Ratri.
Selain maltodekstrin, pemanis lain yang perlu menjadi perhatian adalah kandungan sirup jagung qtau perisa. Masalahnya, perisa bisa memengaruhi pola pengecap rasa seorang anak. Anak yang sering terpapar perisa, umumnya akan punya kebiasaan untuk mencari rasa seperti itu lagi.
Akibatnya, anak dapat menjadi lebih sulit menerima rasa alami dari makanan sehari-hari, karena terbiasa dengan rasa yang lebih kuat dan lebih manis.
Kebiasaan mengonsumsi produk dengan rasa yang terlalu kuat ini, tanpa disadari berpotensi memicu Gerakan Tutup Mulut (GTM), karena bisa membuat anak ketergantungan pada suatu rasa dan menyebabkan anak jadi lebih pilih-pilih makanan.
Oleh sebab itu, saat memilih susu formula, penting orang tua memerhatikan kandungan nutrisi, kualitas bahan baku, daftar komposisi secara menyeluruh, serta tak kalah penting proses pengolahannya. Dengan begitu, anak dapat memperoleh asupan gizi yang optimal tanpa mengganggu pembentukan pola makan sehat sejak dini.
Baca juga: Benarkah Kandungan DHA pada Susu Formula Bisa Meningkatkan IQ Anak?
Tag: #mengapa #susu #formula #anak #tidak #boleh #melalui #proses #pengolahan #panjang