Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia
Infertilitas (Shutterstock)
08:00
3 Juni 2026

Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia

Di balik meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan reproduksi, masih ada berbagai tantangan yang membuat sebagian pasangan harus berjuang lebih panjang untuk mendapatkan keturunan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas dari Bocah Indonesia, dr. Steven Aristida, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, melihat perubahan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Jika dahulu banyak pasangan datang berobat setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan hamil, kini semakin banyak yang memilih memeriksakan diri lebih awal untuk mengetahui kondisi kesuburan mereka.

"Kesadaran untuk diagnosis sebenarnya meningkat. Orang makin berani memeriksa diri, mengetahui ada atau tidaknya gangguan fertilitas. Namun sebagian pasangan masih menunda memulai program hamil karena mempertimbangkan kondisi ekonomi," ujarnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin memahami pentingnya kesehatan reproduksi. Pemeriksaan fertilitas tidak lagi dianggap sebagai langkah terakhir ketika semua upaya gagal, melainkan bagian dari perencanaan keluarga yang lebih matang.

Meski demikian, masalah infertilitas masih menjadi tantangan yang cukup besar. Menurut dr. Steven, gangguan kesuburan dapat berasal dari berbagai faktor, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Pada perempuan, kondisi yang sering ditemukan antara lain polycystic ovarian morphology syndrome (PCOM/PMOS), endometriosis, hingga keguguran berulang atau recurrent pregnancy loss. Sementara itu, faktor kesuburan pria ternyata menyumbang porsi yang tidak sedikit.

"Male factor menempati sekitar 30 persen dari keseluruhan kasus infertilitas. Jadi bukan hanya persoalan perempuan," katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus mematahkan anggapan lama yang selama bertahun-tahun melekat di masyarakat bahwa kesulitan memiliki anak selalu berasal dari pihak perempuan. Kini semakin banyak laki-laki yang bersedia menjalani pemeriksaan fertilitas sebagai bagian dari evaluasi pasangan.

Perkembangan ilmu reproduksi juga membuat pemeriksaan kesuburan pria menjadi lebih komprehensif. Tidak hanya menghitung jumlah sperma, dokter kini mengevaluasi empat parameter utama, yakni konsentrasi sperma, motilitas atau kemampuan bergerak, morfologi atau bentuk sperma, serta DNA Fragmentation Index (DFI) yang menggambarkan kualitas materi genetik sperma.

Menurut dr. Steven, DFI menjadi salah satu parameter penting yang sering luput dari perhatian masyarakat.

"DFI yang tinggi dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko keguguran, bahkan ketika kehamilan sudah berhasil terjadi," jelasnya.

Selain masalah kesuburan, dokter juga menyoroti tingginya kasus keguguran berulang yang tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga mental. Secara medis, kondisi ini ditetapkan ketika seorang perempuan mengalami dua kali keguguran atau lebih, tanpa memandang jarak waktu kejadiannya.

"Kondisi ini tidak hanya soal kegagalan kehamilan, tetapi juga dapat menurunkan mental pasangan karena mengalami kehilangan berulang," ujar dr. Steven.

Karena itu, penanganan kasus keguguran berulang tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemeriksaan harus mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi rahim dan endometrium, kualitas sel telur, faktor pembekuan darah, gangguan autoimun, hingga faktor pria termasuk pemeriksaan DFI.

Di sisi lain, masih banyak perempuan yang menganggap nyeri haid berat sebagai hal yang normal. Padahal, menurut dr. Steven, nyeri menstruasi yang sampai mengganggu aktivitas sekolah, pekerjaan, maupun kehidupan sosial seharusnya tidak diabaikan.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya endometriosis, gangguan yang kerap terlambat terdiagnosis karena pasien terbiasa menahan rasa sakit selama bertahun-tahun.

"Banyak pasien endometriosis baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun menahan nyeri. Padahal diagnosis dini penting agar fungsi reproduksi tetap terjaga," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan warna darah menstruasi maupun munculnya gumpalan darah tidak otomatis menandakan adanya penyakit atau infertilitas. Penilaian medis tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya, termasuk melalui pemeriksaan ultrasonografi transvaginal.

Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi semakin penting karena faktor usia memiliki pengaruh besar terhadap kesuburan. 

Pasangan berusia di bawah 35 tahun dianjurkan berkonsultasi apabila belum memperoleh kehamilan setelah 12 bulan berhubungan rutin tanpa kontrasepsi. Sementara bagi pasangan berusia di atas 35 tahun, evaluasi sebaiknya dilakukan setelah enam bulan.

"Cadangan sel telur perempuan menurun seiring usia, terutama setelah 35 tahun. Kualitas sperma juga berubah dengan pertambahan umur," jelas dr. Steven.

Selain pemeriksaan medis, gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan reproduksi. Pola makan yang mengutamakan makanan segar dan minim proses dinilai lebih baik dibanding konsumsi makanan cepat saji atau makanan olahan yang tinggi bahan tambahan. 

Pendekatan pola makan antiinflamasi pun semakin banyak direkomendasikan untuk mendukung kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

Berbagai isu mengenai kesehatan reproduksi dan infertilitas tersebut menjadi salah satu fokus dalam perayaan tujuh tahun Bocah Indonesia melalui acara bertajuk "7 Wonders: The Journey Beyond Limits" yang dihadiri lebih dari 500 pasangan pejuang garis dua di Jakarta.

Di tengah perkembangan teknologi reproduksi yang semakin maju, Founder dan CEO Bocah Indonesia, dr. Pandji Sadar, MBBS, AMPH, menilai bahwa perjalanan menuju kehamilan bukan semata-mata persoalan tindakan medis.

"Setiap pasangan memiliki perjalanan berbeda. Karena itu kami ingin menghadirkan layanan fertilitas yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga personal dalam pendampingannya," ujarnya.

Pandangan tersebut mencerminkan realitas yang dihadapi banyak pasangan. Program kehamilan sering kali bukan hanya soal prosedur medis, melainkan juga perjalanan emosional yang membutuhkan dukungan, informasi yang tepat, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Melalui forum seperti ini, pasangan tidak hanya memperoleh edukasi mengenai promil alami, inseminasi buatan (IUI), maupun bayi tabung (IVF), tetapi juga ruang untuk berbagi pengalaman dengan pasangan lain yang sedang menjalani perjuangan serupa.

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi menjadi sinyal positif. Semakin dini gangguan fertilitas dikenali, semakin besar peluang pasangan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

Di saat yang sama, pemahaman bahwa infertilitas dapat melibatkan faktor perempuan maupun laki-laki diharapkan mampu mengurangi stigma yang selama ini masih melekat di masyarakat.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya tentang mempersiapkan kehamilan, tetapi juga tentang memahami tubuh, mengenali tanda-tanda gangguan sejak dini, dan mengambil langkah yang tepat sebelum kesempatan itu semakin menyempit oleh waktu.

Editor: Dinda Rachmawati

Tag:  #bukan #cuma #perempuan #faktor #pria #capai #persen #kasus #infertilitas #indonesia

KOMENTAR