Sekutu AS Ini Tak Mau Jauhi Iran, Didesak Trump Pilih Kubu
Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap Oman, salah satu sekutu lama Amerika Serikat di Timur Tengah, agar menjauh dari Iran.
Setelah berbulan-bulan mempertahankan posisi netral dalam konflik AS-Iran, Muscat kini menghadapi tuntutan untuk menentukan pihak.
Bahkan, Amerika Serikat disebut mendesak Oman untuk memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Baca juga: Trump Murka Oman Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal
Washington menilai pendekatan Oman terhadap Teheran bertentangan dengan kepentingan AS, menurut pejabat AS dan Arab yang dikutip The Wall Street Journal pada Senin (1/6/2026).
Sikap netral Oman mulai dipersoalkan AS
Sejak awal perang AS-Iran, Oman berusaha membuka jalur komunikasi dengan Teheran.
Menurut para pejabat Arab, langkah tersebut membantu negara-negara Teluk membuka kembali koridor penerbangan dan menjadi salah satu keberhasilan diplomatik yang dimungkinkan oleh posisi netral Muscat.
Namun, tiga bulan setelahnya, kebijakan yang sama justru memicu kecurigaan Washington.
Dua pejabat Arab mengatakan bahwa selama perang berlangsung, Oman berusaha menjaga keseimbangan antara AS sebagai sekutu lama dan Iran sebagai negara kuat di seberang Selat Hormuz. Strategi itu dilakukan untuk meningkatkan peluang terciptanya perdamaian jangka panjang.
Akan tetapi, posisi Oman sebagai negara Arab yang masih dapat diterima kedua pihak kini semakin terancam. Jika secara terbuka berpihak kepada AS, Oman berisiko menghadapi serangan seperti yang dialami sejumlah negara Teluk selama konflik.
"Oman telah membuka pintu bagi kritik dan sorotan yang tidak diinginkan terhadap negara yang selama ini bangga dengan kebijakan luar negerinya yang tidak memihak," kata Sanam Vakil, Direktur Timur Tengah di lembaga kajian Chatham House.
Menurutnya, ancaman dari pemerintahan Trump "menyoroti persepsi di sebagian kalangan Amerika bahwa Oman bersimpati kepada Iran."
Ancaman sanksi hingga serangan militer
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam Oman dengan sanksi bahkan serangan militer setelah Muscat dilaporkan akan mengenakan tarif terhadap kapal di Selat Hormuz.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump disebut mengancam Oman dengan sanksi bahkan serangan militer setelah penilaian intelijen baru menyimpulkan bahwa Muscat berencana bergabung dengan Iran untuk mengenakan pungutan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Menteri Informasi Oman Abdulla Al-Harrasi menolak mengomentari secara langsung tekanan AS agar negaranya memutus hubungan dengan Iran.
Namun, ia menegaskan, "Oman siap bekerja sama dengan Amerika Serikat dan seluruh mitra yang bertanggung jawab untuk mempromosikan stabilitas, mencegah gangguan, dan melindungi kepentingan strategis bersama kita."
Sementara itu, Gedung Putih ketika dimintai komentar mengenai posisi AS terhadap Oman merujuk pada pernyataan Trump dalam rapat kabinet pekan lalu.
Dalam kesempatan itu, Trump mengatakan bahwa dirinya mungkin memerintahkan serangan udara terhadap Oman jika negara tersebut mendukung rencana Iran memungut biaya dari kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan meski Muscat terus membantah memiliki rencana demikian.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengancam Oman dengan sanksi melalui media sosial jika negara itu mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di selat tersebut.
Sehari kemudian, Bessent mengatakan Duta Besar Oman untuk Washington, Talal Alrahbi, telah meyakinkannya bahwa Oman "tidak memiliki rencana untuk mengenakan pungutan."
Oman terkejut dengan tekanan Washington
Menurut para pejabat Arab, para pejabat Oman terkejut dengan munculnya sikap permusuhan dari AS dan sedang mencari cara untuk meresponsnya.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah meluncurkan kampanye hubungan masyarakat untuk menunjukkan bahwa Oman justru aktif mendukung peningkatan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Upaya itu termasuk bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membujuk Iran agar mengizinkan kapal yang membawa bahan baku pupuk melintas dengan aman. Langkah tersebut ditujukan sebagai dukungan bagi negara-negara Afrika yang menghadapi krisis pangan.
Baca juga: Tak Gentar Ancaman AS, Iran dan Oman Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Sejak perang dimulai, Oman juga membantu kapal-kapal, termasuk kapal AS, melalui panduan navigasi, operasi pencarian dan penyelamatan, serta bantuan medis bagi awak kapal, menurut seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Al-Harrasi menegaskan, negaranya tetap berkomitmen menjaga kelancaran perdagangan dan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
"Setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi di perairan ini akan merugikan kepentingan seluruh komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat," ujarnya.
Hubungan dengan Iran picu kecurigaan negara Teluk
Oman disebut tidak mengecam Iran secara langsung setelah serangan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz maupun serangan rudal dan drone di kawasan.
Seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan, sikap itu sejalan dengan tradisi diplomatik Oman.
Ketika perang pecah, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan kepada media Oman bahwa konflik tersebut melemahkan kawasan dan mengisyaratkan negara-negara Arab Teluk perlu meninjau kembali hubungan keamanan mereka dengan AS.
Iran juga disebut mengarahkan daya tembak yang jauh lebih kecil ke Oman dibandingkan negara-negara tetangganya selama perang.
Pada Mei, Oman menjadi satu-satunya negara Teluk Persia yang menolak menandatangani pernyataan PBB yang dipimpin Uni Emirat Arab untuk mengecam langkah Iran mengenakan pungutan di Selat Hormuz.
Menurut para pejabat Arab, Oman juga membuat Uni Emirat Arab dan Arab Saudi kesal karena secara konsisten menolak ikut menandatangani pernyataan bersama yang mengecam serangan-serangan Iran.
Bahkan ketika drone Iran menghantam pelabuhan Oman sendiri, Muscat mengakui insiden tersebut tetapi tidak secara langsung menyalahkan Teheran.
Peran Oman sebagai mediator terancam
Selama puluhan tahun, Oman dikenal sebagai negara yang mampu menjadi jembatan komunikasi antara Washington dan Teheran.
Muscat pernah menjadi tuan rumah perundingan untuk mengakhiri perang Iran-Irak pada 1980-an dan memfasilitasi komunikasi rahasia antara Iran dan pemerintahan Barack Obama yang kemudian menghasilkan kesepakatan nuklir 2015.
Dalam beberapa waktu terakhir, Oman juga memediasi dua putaran perundingan nuklir antara Teheran dan Washington sebelum terganggu oleh serangan Israel dan AS terhadap Iran.
Namun menurut pejabat AS, ketidakpercayaan pemerintahan Trump terhadap Muscat mulai muncul sehari sebelum gelombang pertama serangan udara AS-Israel.
Saat itu, Menteri Luar Negeri Oman tampil di televisi AS dan mengatakan bahwa kesepakatan mengenai isu nuklir untuk mencegah konflik "sudah berada dalam jangkauan kita, jika kita memberi diplomasi ruang yang dibutuhkannya."
Pejabat AS membantah bahwa kesepakatan saat itu sudah hampir tercapai dan mengatakan Iran belum mengajukan tawaran serius untuk membatasi program nuklirnya.
Sejak saat itu, menurut para pejabat AS, pemerintahan Trump berupaya menyingkirkan Oman dari proses diplomatik apa pun, meski mereka menegaskan tidak ada rencana nyata untuk menyerang negara tersebut.
Baca juga: Trump Tiba-tiba Naik Darah dan Ancam Hancurkan Oman