Pakar Perceraian Mengungkap Tiga Pola Sunyi yang Diam-Diam Membuat Seseorang Sulit Bahagia Setelah Perceraian
- Perceraian bukan hanya tentang berakhirnya sebuah ikatan, tetapi juga tentang runtuhnya gambaran hidup yang pernah dibayangkan bersama.
Banyak orang mengira kebahagiaan akan datang dengan sendirinya seiring waktu, namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Setelah perceraian, perasaan hampa, cemas, dan kehilangan arah kerap muncul diam-diam, bahkan ketika seseorang terlihat “baik-baik saja” dari luar.
Di titik inilah, pola-pola tertentu tanpa disadari justru menahan seseorang untuk benar-benar pulih dan menemukan kebahagiaan baru.
Dalam ulasan reflektif yang dimuat oleh YourTango dan ditulis oleh pakar perceraian Karen Finn, dijelaskan bahwa ada tiga pola umum yang sering menjebak seseorang setelah perceraian dan membuat proses bahagia terasa jauh lebih sulit dari seharusnya.
1. Terus memeriksa media sosial mantan pasangan
Dorongan untuk mengetahui kehidupan mantan adalah hal yang sangat manusiawi.
Namun ketika kebiasaan ini berubah menjadi rutinitas — membuka media sosial hanya untuk memastikan apakah ia terlihat bahagia, sudah berkencan lagi, atau menjalani hidup tanpa Anda — kendali atas emosi perlahan berpindah tangan.
Alih-alih fokus membangun kehidupan sendiri, energi justru habis untuk membandingkan diri dengan masa lalu.
Penelitian menunjukkan bahwa terus terpapar kehidupan mantan tidak memberi manfaat emosional apa pun, dan justru memperpanjang luka yang seharusnya mulai sembuh.
2. Menguntit mantan atau sengaja “bertemu tanpa sengaja”
Melewati rumah mantan, datang ke tempat favoritnya, atau berharap bertemu secara kebetulan sering dibungkus dengan alasan nostalgia.
Padahal, di balik itu sering tersembunyi keinginan untuk memastikan apakah mantan menderita, bahagia, atau masih memikirkan kita.
Pola ini membuat seseorang terjebak di jalan buntu emosional, karena hidupnya masih berputar di orbit orang yang sudah tidak lagi berjalan bersamanya.
Menahan diri dari dorongan ini adalah langkah kecil yang justru menandai awal penguasaan kembali atas hidup sendiri.
3. Menghindari kesedihan dengan mencari pengganti
Banyak orang ingin “cepat pulih” dengan segera membuka lembaran baru, berharap hubungan baru bisa menutup rasa kehilangan. Namun kesedihan bukan sesuatu yang bisa dilewati begitu saja.
Penelitian psikologis menunjukkan bahwa duka adalah proses alami yang tidak bisa dihindari, hanya bisa diterima atau ditolak.
Ketika seseorang berani duduk bersama rasa sedihnya, ia memberi ruang bagi penerimaan dan pembebasan emosional yang sejati. Justru dari proses inilah kebahagiaan yang lebih stabil bisa tumbuh.
Pada akhirnya, pilihan terbesar setelah perceraian bukanlah tentang masa lalu, melainkan tentang siapa yang akan memegang kendali atas masa depan.
Apakah luka perceraian yang terus memimpin langkah, atau diri Anda sendiri yang bangkit dengan kesadaran baru.
Harapan, meski sering datang bersamaan dengan kesedihan, adalah pendamping setia bagi mereka yang berani melepaskan pola lama dan memilih hidup yang lebih utuh ke depannya.
Tag: #pakar #perceraian #mengungkap #tiga #pola #sunyi #yang #diam #diam #membuat #seseorang #sulit #bahagia #setelah #perceraian