Sebelum Memutuskan Balik dengan Mantan, Ada 7 Pertanyaan Penting yang Sering Diabaikan Banyak Orang
- Putus cinta bukan hanya soal kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan rutinitas, kenyamanan, dan kebiasaan yang pernah terasa akrab.
Wajar jika setelah berpisah Anda mulai merindukan kehadiran mantan—entah karena kesepian, perubahan sikapnya yang terlihat lebih dewasa, atau sekadar memori indah yang kembali muncul.
Namun, kembali menjalin hubungan tanpa refleksi mendalam bisa membuat Anda terjebak dalam pola yang sama.
Psikologi menekankan pentingnya evaluasi sebelum mengambil keputusan emosional seperti ini.
Dilansir dari artikel YourTango, membahas tujuh pertanyaan krusial yang sering diabaikan orang sebelum kembali bersama mantan. Berikut penjelasannya.
1. “Mengapa hubungan itu berakhir pada percobaan pertama?”
Sering kali Anda dan mantan memiliki versi cerita yang berbeda tentang alasan putus. Tanpa kesepahaman, luka lama bisa muncul kembali.
Penelitian dari Susan Sprecher dari Illinois State University menunjukkan bahwa meski mantan pasangan biasanya sepakat tentang siapa yang bertanggung jawab atas perpisahan, tingkat penderitaan emosional yang dirasakan bisa sangat berbeda.
Artinya, dua orang bisa mengalami kejadian yang sama tetapi memaknainya secara berbeda. Membicarakan kedua sudut pandang ini sangat penting sebelum mencoba lagi.
2. “Seperti apa hubungan ideal menurutmu?”
Pertanyaan ini membantu melihat apakah visi Anda dan mantan benar-benar selaras.
Studi longitudinal selama tiga tahun menemukan bahwa semakin dekat pasangan dengan standar ideal masing-masing, semakin tinggi kepuasan hubungan mereka—meski pada titik tertentu, “cukup baik” sudah memadai.
Diskusi terbuka tentang ekspektasi bisa mencegah kekecewaan tersembunyi yang perlahan merusak hubungan.
3. “Apa yang kamu pelajari selama kita berpisah?”
Waktu terpisah bisa menjadi ruang refleksi atau justru pelarian.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang benar-benar memahami alasan putusnya hubungan cenderung mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah serta memiliki kualitas hubungan yang lebih baik di masa depan.
Jika tidak ada pembelajaran nyata, kemungkinan besar pola lama akan terulang.
4. “Adakah hal yang ingin kamu lakukan berbeda kali ini?”
Hubungan yang sehat menuntut tanggung jawab bersama.
Riset psikologi menemukan bahwa individu yang mengakui peran mereka dalam perpisahan cenderung mengalami pertumbuhan pribadi lebih besar dibanding mereka yang sepenuhnya menyalahkan pasangan.
Kesadaran ini menciptakan rasa kendali dan kesiapan untuk berubah.
5. “Masalah apa saja yang belum terselesaikan?”
Tidak semua konflik bisa benar-benar dihapus.
John Gottman, psikolog hubungan ternama, menemukan bahwa sekitar 69% konflik dalam hubungan bersifat permanen—berakar pada perbedaan kepribadian atau kebutuhan mendasar.
Pasangan yang bertahan bukanlah yang bebas konflik, melainkan yang mampu membicarakan perbedaan tanpa menyimpan dendam.
6. “Bagaimana hidupmu berubah sejak kita putus?”
Perubahan hidup setelah perpisahan bisa sangat signifikan.
Mungkin ia lebih menghargai Anda sekarang, atau justru menemukan kenyamanan dalam kesendirian.
Pertanyaan ini membantu Anda memahami apakah keputusan untuk kembali didasari pertumbuhan nyata atau hanya rasa kehilangan sesaat.
7. “Apakah kamu benar-benar terbuka untuk menjalin hubungan kembali?”
Ini pertanyaan paling sederhana sekaligus paling menentukan. Jika jawabannya tidak, maka tidak ada fondasi untuk melangkah lebih jauh.
Kembali bersama mantan hanya bisa berhasil jika kedua belah pihak sama-sama bersedia berkomitmen dan berusaha.
Pada akhirnya, kembali bersama mantan bukan berarti Anda lemah atau kesepian. Terkadang waktu memang belum tepat, dan hubungan bisa memiliki peluang kedua.
Namun tanpa refleksi yang jujur melalui pertanyaan-pertanyaan ini, Anda berisiko mengulang luka yang sama. Keputusan terbaik bukanlah yang paling cepat, tetapi yang paling sadar.
Tag: #sebelum #memutuskan #balik #dengan #mantan #pertanyaan #penting #yang #sering #diabaikan #banyak #orang