Kisah Martina Dampingi Anak Jalani Pengobatan Skoliosis di Tengah Keterbatasan
Ilustrasi anak sakit (Dok. Mayapada)
15:05
13 Februari 2026

Kisah Martina Dampingi Anak Jalani Pengobatan Skoliosis di Tengah Keterbatasan

– Hari Valentine kerap identik dengan bunga, cokelat, dan perayaan romantis.

Namun bagi Martina, kasih sayang justru hadir dalam bentuk yang jauh lebih dalam, yaitu mendampingi anaknya yang sakit, jauh dari rumah, dengan segala keterbatasan yang ada.

Martina berasal dari Lampung. Tahun lalu, anaknya didiagnosis skoliosis dan harus menjalani pengobatan lanjutan di RSUP Fatmawati, Jakarta. Jarak yang jauh serta padatnya jadwal pengobatan membuatnya dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah.

Baca juga: Menjadi Ibu Butuh Persiapan Fisik dan Mental yang Utuh

“Awalnya sempat terpikir apakah saya harus mengontrak atau ngekos. Tapi karena keterbatasan dana yang saya miliki, saya bingung harus bagaimana,” ujar Martina saat bercerita di Rumah Singgah Kemanggisan, Jakarta Barat, Selasa (10/2/2026).

Ia sempat menginap di penginapan dan bolak-balik dari Lampung ke Jakarta demi mendampingi sang anak. 

Namun, kondisi tersebut makin tidak memungkinkan seiring intensitas pengobatan yang kian padat.

Baca juga: Merasa Sedih Sekaligus Bahagia, Kompleksnya Perasaan Seorang Ibu

Hampir Terpisah karena Keterbatasan

Di tengah jadwal pengobatan yang kian padat, Martina dan keluarganya sempat kebingungan mencari tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit. 

Keterbatasan biaya membuat pilihan mereka semakin sempit, bahkan hampir memaksa Martina dan anaknya untuk terpisah selama masa pengobatan berlangsung. 

Jarak, waktu, dan kondisi finansial menjadi tantangan yang harus dihadapi bersamaan, di saat yang sama Martina tetap ingin berada di sisi anaknya.

“Kami sempat kebingungan untuk mencari tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit. Keterbatasan biaya hampir membuat kami terpisah,” tutur Martina.

Hingga akhirnya, melalui rujukan dari pihak rumah sakit, Martina dan anaknya dapat tinggal di Rumah Singgah Lebak Bulus sehingga ia bisa terus mendampingi sang anak selama menjalani pengobatan.

Baca juga: Dukungan Sesama Ibu, Cara Membantu Ibu Baru Lalui Masa Awal Motherhood

Menguatkan dan Dikuatkan

Sejak Oktober 2025, Martina dan anaknya menetap di Jakarta. Hari-hari Martina diisi dengan rutinitas sederhana, seperti menemani kontrol, memastikan anaknya cukup istirahat, dan menjaga kondisi mental sang anak agar tetap kuat.

Kasih sayang, bagi Martina, hadir lewat kehadiran yang konsisten. Ia memilih tetap berada di sisi anaknya, meski harus jauh dari rumah dan menjalani hari-hari yang tidak mudah.

Di tengah perjuangannya, Martina juga bertemu dengan orangtua lain yang menghadapi situasi serupa di rumah singgah. Tanpa banyak kata, mereka saling memahami dan menguatkan.

Baca juga: Mengenal Body Neutrality, Menerima Tubuh dengan Kasih Sayang

Martina mengatakan bahwa mereka sering berbagi cerita meski terbalut rasa lelah dan kekhawatiran.

“Rumah singgah ini sering digambarkan seperti keluarga. Jadi di dalamnya ketemu dengan keluarga dan pasien yang nasibnya sama. Kami jadi sering berbagi, selalu menguatkan,” cerita Martina.

Kebersamaan itu membuat Martina merasa tidak sendirian. Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, kasih sayang tumbuh lewat empati, perhatian kecil, dan keberanian untuk terus bertahan demi anak yang dicintai.

Baca juga: Cara Menunjukkan Kasih Sayang pada Anak, Termasuk Menyempatkan Berdiskusi

Kasih Sayang dalam Bentuk Kehadiran

Di tengah keterbatasan, Martina membalut kasih sayang untuk anaknya dengan cara menemani sang anak untuk pulih dari skoliosis.RMHC Di tengah keterbatasan, Martina membalut kasih sayang untuk anaknya dengan cara menemani sang anak untuk pulih dari skoliosis.

Menurut Martina, berada dekat dengan anak selama masa pengobatan menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang paling nyata. 

Di tengah proses medis yang panjang dan melelahkan, ia menyadari bahwa kehadiran keluarga menjadi sumber ketenangan tersendiri bagi anaknya.

Ia menilai, kesempatan untuk selalu berada di sisi anak selama menjalani pengobatan membuatnya lebih mampu menjaga kondisi fisik dan mental sang anak. 

Kedekatan tersebut memberi rasa aman, terutama ketika anak harus menghadapi berbagai prosedur medis jauh dari rumah.

Baca juga: Peran Ganda Ibu Bekerja, Psikolog Tekankan Pentingnya Dukungan Keluarga

“Kebersamaan itu penting sekali. Anak jadi lebih tenang karena saya selalu ada di dekatnya. Ini sangat membantu menjaga kondisi mentalnya selama menjalani pengobatan,” ujarnya.

Dalam refleksinya, Martina melihat bahwa kasih sayang tidak selalu ditunjukkan lewat kata-kata atau perayaan. Kasih sayang hadir melalui pilihan untuk tetap tinggal, mendampingi, dan bertahan bersama anak di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.

Di momen Valentine, kisah Martina menjadi pengingat bahwa kasih sayang bisa berwujud sederhana, tetapi bermakna mendalam, seperti kehadiran yang konsisten, perhatian sehari-hari, dan komitmen untuk terus menemani, apa pun keadaannya.

Tag:  #kisah #martina #dampingi #anak #jalani #pengobatan #skoliosis #tengah #keterbatasan

KOMENTAR