AllianzGI: Obligasi Indonesia Menarik Meski Risiko Global Meningkat
Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menilai pasar obligasi Indonesia masih menunjukkan daya tarik di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.
Dukungan likuiditas domestik serta permintaan investor institusi lokal yang solid dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas pasar obligasi.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Fixed Income Portfolio Manager AllianzGI Indonesia, Akuntino Mandhany, yang menyoroti kombinasi faktor domestik dan global yang membentuk dinamika pasar saat ini.
Baca juga: Geopolitik Bergejolak, Investor Lirik Obligasi dan Diversifikasi Aset
ilustrasi keuangan
“Faktor-faktor tersebut membantu menyerap pasokan obligasi dan meredam volatilitas di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung," kata Akuntino dalam siaran pers, Jumat (13/2/2026).
"Imbal hasil obligasi pemerintah telah bergerak menjauh dari level yang sebelumnya relatif mahal, sehingga meningkatkan daya tarik carry dan roll-down, khususnya di pasar yang cenderung bergerak dalam kisaran terbatas, bukan berbasis tren,” ujar dia.
Likuiditas domestik dan permintaan institusi
Menurut Akuntino, stabilitas pasar obligasi Indonesia tidak terlepas dari dukungan likuiditas domestik yang memadai.
Permintaan dari investor institusi lokal, termasuk dana pensiun, asuransi, dan perbankan, disebut berperan dalam menyerap pasokan surat utang, terutama di tengah arus informasi global yang padat dan potensi volatilitas eksternal.
Baca juga: Investasi Obligasi Trump Terungkap, Netflix dan Warner Bros Ikut Masuk Portofolio
Dalam konteks tersebut, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah dinilai telah mengalami penyesuaian dari level yang sebelumnya dianggap relatif mahal.
Pergeseran ini, menurutnya, membuka kembali peluang strategi carry, yakni memanfaatkan selisih imbal hasil, dan roll-down, yaitu potensi keuntungan dari pergerakan obligasi sepanjang kurva imbal hasil seiring mendekati jatuh tempo.
Ilustrasi keuangan.
Akuntino menilai pasar saat ini cenderung bergerak dalam kisaran terbatas (range-bound), bukan dalam tren naik atau turun yang kuat.
Kondisi seperti ini, menurut dia, memberikan ruang bagi pendekatan investasi yang lebih taktis dan selektif.
Baca juga: Obligasi dan Sukuk Ramai Masuk BEI Awal Januari 2026
Sensitivitas terhadap faktor eksternal
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar tetap sensitif terhadap sejumlah faktor eksternal.
Beberapa di antaranya adalah dinamika nilai tukar, sentimen risiko global, serta persepsi terhadap disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan, terutama setelah perkembangan terbaru dari lembaga pemeringkat.
“Arah kebijakan domestik masih mendukung pertumbuhan, dengan otoritas fiskal dan moneter yang tetap berfokus menjaga momentum dan stabilitas ekonomi. Namun, pasar tetap sensitif terhadap sejumlah faktor eksternal, seperti dinamika nilai tukar mata uang, sentimen risiko eksternal, serta persepsi terhadap disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan, terutama setelah perkembangan terbaru dari lembaga pemeringkat,” tutur Akuntino.
Dalam situasi tersebut, ia menekankan pentingnya pendekatan investasi yang disiplin di pasar pendapatan tetap.
Baca juga: 2026: Saham Blue Chip RI Bangkit, Obligasi Tak Lagi Bergantung Asing
“Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan pendapatan tetap yang selektif dan disiplin, dengan fokus pada peluang carry, pengelolaan durasi yang hati-hati, serta fleksibilitas dalam menghadapi periode volatilitas yang meningkat,” tambah dia.
Pengelolaan durasi, yang mencerminkan sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan suku bunga, menjadi salah satu aspek kunci dalam strategi yang diusulkan.
Dalam kondisi volatilitas global yang berpotensi meningkat, penyesuaian durasi secara hati-hati dinilai penting untuk menjaga profil risiko portofolio.
Lanskap global 2026: pasokan tinggi dan arus informasi padat
Ilustrasi keuangan, sektor keuangan.
Dari sisi global, AllianzGI menilai investor memasuki tahun 2026 dengan kombinasi pasokan penerbitan baru (new issuance) yang tinggi dan arus informasi yang padat.
Baca juga: Mandiri Sekuritas: Penerbitan Obligasi Korporasi di 2026 Masih Semarak
Agenda kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama menjadi salah satu fokus pasar.
Kebijakan bank sentral, mulai dari Federal Reserve AS, Bank of Japan, hingga Bank of Canada, disebut cenderung bergerak sesuai ekspektasi.
Dengan demikian, perhatian pasar lebih tertuju pada panduan kebijakan (forward guidance), proyeksi ekonomi, kinerja korporasi, dan dinamika geopolitik.
“Kami memperkirakan rentang skenario makro pada 2026 akan semakin menyempit. Skenario dasar kami mengarah pada lingkungan makro reflasi dengan kondisi keuangan yang tetap akomodatif, sehingga mendukung strategi carry di pasar,” ujar Tim Chief Investment Officer (CIO) AllianzGI, dikutip dari laporan Insights Fixed Income Forward: February 2026.
Baca juga: Imbal Hasil Menarik, Obligasi Indonesia Dinilai Semakin Kompetitif
Lingkungan reflasi yang dimaksud merujuk pada kondisi di mana pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak meningkat secara moderat, tanpa tekanan pengetatan kebijakan yang agresif.
Dalam konteks tersebut, strategi carry, alias memanfaatkan imbal hasil yang tersedia, dinilai tetap relevan.
Suku bunga global dan strategi yield curve
AllianzGI mencatat bahwa kebijakan moneter di negara maju kini berada di sekitar level netral. Artinya, suku bunga kebijakan telah mendekati tingkat yang tidak lagi secara aktif merangsang maupun menahan pertumbuhan ekonomi.
Dalam kondisi pasar yang cenderung bergerak dalam kisaran terbatas, AllianzGI tidak melihat peluang menarik untuk mengambil posisi long duration secara langsung di pasar suku bunga global.
Baca juga: Masih Menarik, Obligasi Jangka Pendek Lebih Diminati Investor
“Menurut kami, risiko arus repatriasi dana Jepang masih belum sepenuhnya tercermin di pasar, demikian pula dengan memburuknya keseimbangan fiskal di berbagai negara OECD. Oleh karena itu, kami melihat peluang pada strategi yield curve steepener,” lanjut Tim CIO AllianzGI.
Ilustrasi pasar keuangan.
Strategi yield curve steepener merujuk pada posisi investasi yang mengantisipasi pelebaran selisih imbal hasil antara obligasi jangka pendek dan jangka panjang.
Strategi ini umumnya diterapkan ketika investor memperkirakan imbal hasil jangka panjang akan naik lebih cepat dibandingkan imbal hasil jangka pendek, atau ketika kurva imbal hasil yang sebelumnya datar berpotensi kembali menanjak.
Risiko repatriasi dana Jepang yang disebutkan berkaitan dengan kemungkinan investor Jepang menarik kembali dana dari pasar global seiring perubahan kebijakan domestik.
Baca juga: Trump Borong Obligasi Senilai 82 Juta Dollar AS sejak Akhir Agustus
Sementara itu, memburuknya keseimbangan fiskal di sejumlah negara OECD menjadi perhatian karena dapat berdampak pada persepsi risiko dan premi imbal hasil.
Kredit global: kombinasi BBB dan BB
Untuk pasar kredit global, AllianzGI menilai lingkungan saat ini masih mendukung strategi credit carry. Imbal hasil nominal dinilai tetap menarik, sementara fundamental korporasi secara umum masih relatif solid.
Dalam konteks tersebut, kombinasi obligasi berperingkat BBB dan BB dipandang sebagai titik optimal antara potensi pendapatan dan pengelolaan risiko.
Obligasi BBB berada di kategori investment grade terendah, sedangkan BB termasuk dalam kategori high yield atau non-investment grade, namun masih di tingkat atas dalam spektrum risiko.
Baca juga: Tarif Perdagangan Naik, Pasar Obligasi Indonesia Tetap Prospektif
Pendekatan kombinasi ini mencirikan upaya mencari keseimbangan antara tambahan imbal hasil dan kualitas kredit, tanpa mengambil risiko yang terlalu agresif.
Peran high quality duration dan obligasi negara berkembang
Meskipun tidak mengambil posisi long duration secara agresif, AllianzGI tetap memandang high quality duration sebagai salah satu instrumen lindung nilai paling efektif dalam portofolio pendapatan tetap multisektor.
Ilustrasi investasi
High quality duration umumnya merujuk pada obligasi pemerintah atau instrumen berkualitas tinggi dengan durasi panjang, yang cenderung menguat ketika terjadi fase risk-off atau peningkatan aversi risiko di pasar.
“Kami menilai high quality duration sebagai salah satu instrumen lindung nilai paling efektif dalam portofolio pendapatan tetap multisektor, khususnya untuk menghadapi potensi fase risk-off,” tulis Tim CIO AllianzGI.
Baca juga: Saham Vs Obligasi: Mana yang Lebih Cocok untuk Investor Pemula?
Selain itu, obligasi pasar negara berkembang (emerging markets) juga dinilai tetap berperan sebagai diversifikator penting, terutama dalam lingkungan carry dengan dollar AS yang cenderung melemah secara struktural.
“Kami menilai obligasi pasar negara berkembang masih berperan sebagai diversifikator penting, khususnya dalam lingkungan carry dengan dollar AS yang cenderung melemah secara struktural. Meski valuasi tidak lagi murah, kinerja yang solid masih berpotensi berlanjut dengan pendekatan investasi yang semakin selektif,” tulis Tim CIO AllianzGI.
Penilaian tersebut menempatkan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam konteks strategi global yang lebih luas.
Daya tarik tidak semata berasal dari level imbal hasil, tetapi juga dari peran diversifikasi dalam portofolio global.
Baca juga: Investasi Obligasi Lokal Makin Menarik, Ini Sebab Investor Global Waspada AS
Indonesia dalam peta strategi global
Dalam lanskap yang digambarkan AllianzGI, pasar obligasi Indonesia berada di persimpangan antara dukungan domestik dan dinamika global.
Likuiditas dalam negeri dan permintaan institusi lokal disebut mampu meredam gejolak eksternal, sementara pergeseran imbal hasil membuka ruang strategi berbasis carry.
Namun, sensitivitas terhadap nilai tukar, sentimen risiko global, serta persepsi terhadap kebijakan fiskal dan moneter tetap menjadi faktor yang diperhitungkan.
Dengan latar belakang tersebut, AllianzGI menekankan pentingnya pendekatan yang selektif, disiplin, dan fleksibel dalam mengelola portofolio pendapatan tetap, baik di pasar domestik maupun global, seiring investor memasuki tahun 2026 dengan pasokan obligasi yang tinggi dan arus informasi yang kian kompleks.
Tag: #allianzgi #obligasi #indonesia #menarik #meski #risiko #global #meningkat