Bukan Mitos Belaka! Imperial Fengshui Diyakini Masih Relevan Sejak Era Kekaisaran hingga Zaman Modern
Fengshui adalah sebuah filosofi dan praktik kuno dari Tiongkok yang bertujuan menciptakan keseimbangan dan harmoni antara individu dan lingkungan sekitarnya. Dalam pengembangannya seiring zaman, muncul sebuah gaya fengshui yang dipraktikkan oleh keluarga kerajaan Negeri Tirai Bambu di zaman dulu: Imperial Fengshui.
Dilansir dari berbagai sumber, fengshui ini diterapkan pada masa Dinasti Qing (1644-1912). Gaya ini berfokus pada penataan ruang dan lingkungan untuk meningkatkan kekuatan, kekuasaan, dan keberuntungan bagi keluarga kerajaan dan pejabat tinggi.
Penataan ruang ini mencakup interior istana, makam-makam kerajaan, serta ruang-ruang kekuasaan di istana-istana kerajaan seperti ruang tahta dan ruang pertemuan. Semua diterapkan dengan keyakinan bisa meningkatkan kekuasaan.
Hingga detik ini, banyak orang masih meyakini bahwa Imperial Fengshui masih tetap relevan, meski sudah bukan di era kerajaan. Lebih dari itu, praktik ini juga diyakini bukan dongeng belaka.
“Imperial Feng Shui bukan mitos. Ini adalah sistem strategis yang dahulu digunakan para kaisar untuk menjaga stabilitas kekuasaan, kesehatan, dan kemakmuran. Prinsip yang sama masih relevan hingga hari ini jika dipahami dengan benar,” ujar Founder Anggara Treasures, Rezza Anggara.
Rezza menyampaikan hal ini di sela-sela perayaan ulang tahun ke-2 Anggara Treasures pada Sabtu (7/2) lalu. Acara ini menjadi momentum refleksi perjalanan sekaligus penegasan posisi pihaknya sebagai pelopor pendekatan Imperial Fengshui modern di Indonesia.
Mengusung filosofi Rahasia Para Kaisar, Rezza menjelaskan, perayaan ini menyoroti bagaimana prinsip feng shui klasik yang dahulu digunakan dalam sistem kerajaan dapat diterjemahkan secara relevan untuk kehidupan personal maupun strategi bisnis masa kini.
Rezza melanjutkan, pihaknya menghadirkan pendekatan yang rasional dan terstruktur, sehingga feng shui tidak lagi dipandang sebagai kepercayaan semata, melainkan sebagai sistem pengelolaan energi yang dapat dipelajari dan diterapkan.
"Pendekatan utama yang diperkenalkan adalah reharmonisasi tanpa renovasi, yaitu optimalisasi energi tataruang tanpa perlu perubahan struktural besar yang mahal dan memakan waktu. Konsep ini menjadi solusi praktis bagi masyarakat modern yang menginginkan keseimbangan hidup, produktivitas, dan keberlanjutan tanpa harus melakukan renovasi fisik secara ekstrem," ujarnya.
Rezza menyampaikan bahwa dua tahun perjalanan ini bukan hanya tentang pertumbuhan bisnis. "Ini tentang konsistensi dalam membangun literasi publik terhadap fengshui berbasis sistem dan logika energi," ujarnya.
Tag: #bukan #mitos #belaka #imperial #fengshui #diyakini #masih #relevan #sejak #kekaisaran #hingga #zaman #modern