Angka Pernikahan di Indonesia Menurun, Apa Dampaknya? Ini Pandangan Sosiolog
- Penurunan angka pernikahan dalam beberapa tahun terakhir kerap memunculkan kekhawatiran akan dampak sosial jangka panjang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 jumlah pernikahan masih berada di angka sekitar 2,1 juta peristiwa. Sepuluh tahun kemudian, pada 2024, jumlah tersebut menyusut hingga mendekati 1,4 juta pernikahan.
Apakah menurunnya angka pernikahan sudah berdampak secara nyata, atau justru belum menjadi persoalan mendesak?
Baca juga: Semakin Banyak Perempuan Mandiri Finansial, Pernikahan Tak Lagi Dilakukan Terburu-buru
“Saya tidak bisa bilang dampaknya negatif, karena memang dalam kajian demografi, pendudukan kita masih surplus, grafik pertumbuhan penduduknya,” ujar dosen Program Studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si., dalam wawancara daring pada Jumat (6/2/2026).
Yuanita melanjutkan, selama jumlah penduduk masih bertambah dan tenaga kerja melimpah, dampaknya tidak serta-merta negatif.
Dosen program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si..
“Untuk meredam laju pertumbuhan penduduk kan pemerintah menyarankan, misalnya, membatasi jumlah anak. Maksimum dua anak,” kata dia.
Baca juga: Tren Pernikahan Turun, Cinta Tak Lagi Cukup Jadi Alasan Menikah?
Perihal menurunnya angka pernikahan di Indonesia dalam satu dekade, penundaan pernikahan justru, secara tidak langsung, berkontribusi terhadap pengendalian laju pertumbuhan penduduk, sesuatu yang sejak lama menjadi perhatian negara.
Surplus penduduk dan tenaga kerja
Yuanita mengungkapkan bahwa Indonesia masih berada pada fase yang mana jumlah tenaga kerja relatif lebih besar dibandingkan ketersediaan lapangan kerja.
“Nah kalau misalnya sebagian besar penduduk sudah sadar bahwa pilihan untuk menikah itu memberikan konsekuensi-konsekuensi, mungkin ke depannya, 10 tahun kemudian, demografinya sudah tidak surplus lagi, mungkin lebih stabil,” ujar dia.
Menurutnya, selama surplus tenaga kerja masih terjadi, penurunan angka pernikahan belum bisa disebut sebagai masalah sosial utama. Tantangan yang lebih nyata justru berada pada aspek ketenagakerjaan.
“Kalau misalnya surplus tenaga kerja, berarti tenaga kerja kita berlebih, dan itu juga ada dampak negatifnya. Jadi murah tenaga kerja kita dari Indonesia, karena banyak,” ucap Yuanita.
Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah
Ilustrasi pernikahan. Apa itu lavender marriage?
Dalam kacamata ini, dampak demografis dari menurunnya angka pernikahan belum terasa signifikan dibandingkan persoalan struktural lain, seperti pengangguran dan persaingan kerja.
Mengapa penurunan pernikahan belum jadi masalah sosial?
Jika berbicara dampak sosial, Yuanita menilai bahwa penurunan angka pernikahan belum bisa dikategorikan sebagai persoalan mendesak di Indonesia saat ini.
Baca juga: Menunda Menikah hingga di Atas 30 Tahun, Dokter Ingatkan Risiko Kehamilan Setelah Usia 35
Selama pertumbuhan penduduk masih positif, perubahan pola menikah lebih tepat dipahami sebagai transisi sosial.
“Belum bisa dikatakan, dalam saat ini ya, menjadi masalah sosial karena memang kita masih banyak penduduknya, karena memang masih surplus tenaga kerja,” kata Yuanita.
Ia menegaskan, kondisi Indonesia berbeda dengan negara-negara yang sudah mengalami penurunan jumlah penduduk secara signifikan.
Misalnya adalah Jepang yang demografi penduduknya sudah menurun, sehingga negara tersebut lebih didominasi oleh populasi lansia dibandingkan populasi usia produktif dan muda.
"Negara Jepang bukan surplus tenaga kerja, minus tenaga kerja. Untuk menduduki pekerjaan seperti pembantu rumah tangga, pengasuh lansia, administratif perkantoran, atau tukang bangunan, itu susah karena dia minus jumlah penduduknya. Dia 'mengimpor' dari Indonesia," ungkap Yuanita.
"Kondisi kita belum sampai kayak begitu. Sekarang saja banyak masyarakat yang belum dapat kerja. Rebutan pekerjaan. Itu permasalahan yang lebih terkini," lanjut dia.
Dengan kata lain saat ini, isu utama Indonesia masih berkutat pada pengelolaan jumlah penduduk yang besar.
Baca juga: Menyiapkan Tabungan untuk Menikah dengan Gaji UMR, Realistis atau Mustahil?
Tag: #angka #pernikahan #indonesia #menurun #dampaknya #pandangan #sosiolog