Benarkah Tidur 7 Jam di Malam Hari Sudah Cukup? Ini Kata Dokter
– Apakah tidur 7 jam di malam hari sudah cukup? Selama ini, angka delapan jam kerap dianggap sebagai standar.
Padahal, para ahli menyebut kebutuhan tidur setiap orang tidak bisa disamaratakan, melainkan berada dalam rentang tertentu.
Sekitar 70 persen orang dewasa membutuhkan tidur antara tujuh hingga sembilan jam per malam untuk berfungsi optimal.
Baca juga: Tubuh Lemas tapi Susah Tidur? Ini 5 Tips Reset Jam Biologis
“Ketika kita bicara tentang jumlah tidur yang ideal, sebenarnya itu adalah sebuah rentang, bukan angka tunggal,” kata Shelby Harris, Psy.D., psikolog klinis yang fokus pada behavioral sleep medicine, dikutip Today, Kamis (29/1/2026).
Benarkah tidur 7 jam di malam hari sudah cukup?
Tidur 7 jam cukup untuk sebagian besar orang dewasa
Secara umum, tidur tujuh jam per malam sudah cukup bagi mayoritas orang dewasa yang sehat. Mereka bisa bangun dengan tubuh terasa segar, mampu berkonsentrasi, dan tidak merasa mengantuk berlebihan di siang hari.
Hal ini menegaskan bahwa mitos harus tidur delapan jam tidak selalu benar. Meski begitu, kebutuhan tidur tetap bersifat individual.
Menurut Dr. Bhanu Kolla, dokter spesialis tidur dan psikiater di Mayo Clinic, kebutuhan tidur seseorang adalah durasi yang secara alami dicapai tanpa alarm atau gangguan eksternal, sehingga tubuh merasa benar-benar pulih keesokan harinya.
“Kebutuhan tidur manusia membentuk kurva lonceng. Sebagian besar berada di tengah, antara tujuh hingga sembilan jam, tetapi ada juga yang butuh lebih sedikit atau lebih banyak,” ujar Kolla.
Bagaimana mengetahui kebutuhan tidur pribadi?
Seseorang yang tidur cukup biasanya bangun dengan perasaan segar, tidak mudah mengantuk di siang hari, bisa tidur dan bangun di jam yang relatif sama, serta tetap produktif.
Jika setelah tidur tujuh jam tubuh masih terasa lelah, sulit fokus, atau mudah mengantuk, kemungkinan besar durasi tidur tersebut belum mencukupi.
Baca juga: Stres Bikin Susah Tidur? Coba 2 Teknik Penenang Pikiran Ini
Selain durasi, kualitas tidur juga memegang peran besar. Harris menegaskan, tidur yang terganggu akibat stres, insomnia, mendengkur, atau sleep apnea bisa membuat seseorang tidak merasa segar meski durasinya sudah mencapai tujuh hingga sembilan jam.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tanda kualitas tidur yang buruk meliputi sering terbangun di malam hari, sulit bernapas saat tidur, atau tetap merasa lelah meski durasi tidur sudah cukup.
Apa dampak jika durasi tidur kurang dari kebutuhan tubuh?
Jika seseorang terus-menerus tidur lebih sedikit dari yang dibutuhkan tubuhnya, kondisi ini bisa berujung pada kurang tidur kronis.
“Tidur adalah fondasi dari hampir semua fungsi tubuh,” kata Harris.
Kurang tidur dapat menyebabkan kantuk berlebihan di siang hari, perubahan suasana hati, hingga mudah marah. Kolla menyebut, kurang tidur juga bisa membuat seseorang lebih murung dan kehilangan motivasi.
Dari sisi kognitif, ahli saraf dan dokter di Mount Sinai Integrative Sleep Center, Dr. Andrew Varga mengatakan, kurang tidur dapat menurunkan daya konsentrasi, memperlambat waktu reaksi, dan mengganggu memori kerja.
“Dampaknya bisa menyerupai kondisi seseorang yang berada di bawah pengaruh alkohol,” ujarnya.
Risiko kesehatan jangka panjang akibat kurang tidur
Dalam jangka panjang, kurang tidur dikaitkan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, hingga penyakit ginjal.
Kurang tidur juga memicu peradangan dalam tubuh, yang berperan dalam berbagai penyakit kronis.
Sistem imun pun ikut terdampak. Orang yang kurang tidur lebih rentan terserang infeksi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
“Tidur sangat penting bagi daya tahan tubuh,” ujar Kolla.
Selain itu, kurang tidur kronis dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, hingga Alzheimer.
Lebih jauh, kebutuhan tidur dipengaruhi oleh faktor genetik, kondisi kesehatan, usia, kebiasaan hidup, hingga kualitas tidur itu sendiri. Harris mengibaratkan durasi tidur seperti ukuran sepatu.
Baca juga: Ini yang Terjadi pada Tubuh jika Tidur 8 Jam Setiap Hari
“Semua orang punya ukuran berbeda, tetapi berada dalam rentang yang sama,” tuturnya.
Yang terpenting bukan sekadar mengejar durasi, melainkan mendengarkan sinyal tubuh. Jika tubuh terasa bugar, fokus terjaga, dan emosi stabil, kemungkinan besar durasi tidur yang dijalani sudah sesuai kebutuhan pribadi.
Tag: #benarkah #tidur #malam #hari #sudah #cukup #kata #dokter