7 Kebiasaan Toxic yang Diam-diam Merenggut Kebahagiaan
Ilustrasi seseorang merasa stres akibat doomscrolling di media sosial.(Freepik)
14:30
28 Januari 2026

7 Kebiasaan Toxic yang Diam-diam Merenggut Kebahagiaan

– Kebiasaan toxic sering kali terasa normal karena sudah dilakukan bertahun-tahun, padahal dampaknya besar terhadap kesehatan mental, fisik, dan kualitas hidup.

Mengubah kebiasaan memang tidak harus drastis dalam waktu yang cepat. Kunci utamanya adalah kesadaran, konsistensi, dan belas kasih pada diri sendiri. 

Proses melepas satu kebiasaan bisa memakan waktu 30 hingga 60 hari, sehingga wajar jika perubahan terasa tidak instan.

Mengapa kebiasaan kecil bisa berdampak besar?

Kebiasaan adalah fondasi dari rutinitas hidup. Ketika satu kebiasaan tidak sehat terus diulang, efeknya menumpuk.  Bukan hanya memengaruhi energi harian, tetapi juga cara kita memandang diri sendiri, orang lain, dan masa depan.

Baca juga: Hati-hati, Sering Scrolling Media Sosial Bisa Picu Mimpi Buruk

Psikiater dari Mindpath Health, Dr. Zishan Khan, MD menjelaskan, banyak kebiasaan toxic bekerja secara halus. 

“Kebiasaan tertentu bisa memicu stres, kelelahan mental, hingga gangguan suasana hati tanpa kita sadari,” ujarnya, seperti disadur Real Simple, Rabu (28/1/2026).

Berikut tujuh kebiasaan toxic yang bisa merenggut kebahagiaan kamu.

7 Kebiasaan toxic yang bisa merenggut kebahagiaan kamu

1. Scrolling sebelum tidur

Kebiasaan membuka media sosial atau menonton video pendek sebelum tidur kerap dianggap cara relaksasi.

“Scrolling tanpa henti sering kali menstimulasi otak secara berlebihan sehingga membuat kita lebih sulit untuk benar-benar beristirahat,” tutur Khan.

Paparan cahaya layar juga menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh terasa lelah keesokan hari. 

Khan menyarankan untuk berhenti menggunakan layar 30–60 menit sebelum tidur dan menggantinya dengan aktivitas menenangkan seperti membaca, menulis jurnal, atau meditasi ringan.

Baca juga: 10 Cara Memutus Pola Toxic Hubungan agar Tidak Semakin Parah

Pakar mengungkap bahwa pusing ternyata juga bisa menjadi salah satu gejala dari gangguan irama jantung atau aritmia.
Pexels/Picas Joe Pakar mengungkap bahwa pusing ternyata juga bisa menjadi salah satu gejala dari gangguan irama jantung atau aritmia.

2. Mengabaikan aktivitas fisik

Rutinitas yang padat sering dijadikan alasan untuk tidak bergerak. Padahal, gaya hidup sedentari berkontribusi pada stres, suasana hati buruk, serta masalah kesehatan fisik.

“Kebiasaan minim gerak bisa memicu stres, mood negatif, dan gangguan kesehatan,” kata Khan.

Aktivitas fisik tidak selalu berarti olahraga berat. Jalan kaki singkat, peregangan ringan, atau yoga sudah cukup untuk membantu tubuh dan pikiran kembali segar.

Baca juga: 6 Cara Menghadapi Bos yang Toxic agar Kesehatan Mental Tetap Terjaga

3. Melewatkan waktu istirahat saat bekerja

Bekerja tanpa jeda sering dianggap sebagai tanda produktivitas. Padahal, menurut terapis dan pekerja sosial klinis berlisensi, Kiana Shelton, LCSW, sesibuk apapun, waktu istiahat harus diutamakan.

Bahkan lima menit untuk menjauh dari layar, minum air, atau menarik napas dalam-dalam bisa membantu otak memulihkan fokus dan emosi.

4. Belanja impulsif

Belanja tanpa rencana sering menjadi pelarian dari stres. Namun efeknya justru berbalik. 

“Impulse buying bisa memicu stres finansial dan menumpuk barang yang membuat mental semakin penuh,” jelas Khan.

Ia menyarankan menerapkan aturan 24 jam sebelum membeli barang non-esensial. Waktu tunggu ini membantu kita mengevaluasi apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat.

Baca juga: 3 Cara Mendisiplinkan Anak yang Bermasalah, Orangtua Wajib Tahu

5. Tidak menetapkan batasan 

Sering berkata “ya” pada semua permintaan bisa membuat seseorang kelelahan secara emosional. 

“Overcommitting dapat memicu burnout, rasa kesal, dan hubungan yang tegang,” tutur Khan.

Menetapkan batas bukan berarti egois, melainkan bentuk penghargaan terhadap kapasitas diri.  Dengan komunikasi yang tegas dan jujur, energi bisa dialokasikan untuk hal-hal yang sejalan dengan nilai dan tujuan hidup.

6. Terlalu lama menatap layar atau doomscrolling

Kebiasaan terus-menerus menatap layar, apalagi untuk membaca berita negatif, membuat pikiran sulit lepas dari kecemasan.

“Paparan layar berlebihan tidak hanya menyebabkan kelelahan mata, tetapi juga membuat kita terputus dari momen saat ini,” tegas Khan.

Ia menyarankan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek sejauh 20 kaki, serta menjadwalkan waktu bebas layar untuk kegiatan yang lebih menenangkan.

Baca juga: Ramai di Media Sosial, Ini Manfaat ‘Color Walking’ untuk Kesehatan Mental

7. Mengabaikan self-care

Kebiasaan mengabaikan self-care sering muncul saat seseorang terlalu sibuk mengurus orang lain.

“Ketika kita mengabaikan self-care, kita membuat orang lain menjadi ‘pencuri kebahagiaan’ tanpa sengaja,” ujar Shelton.

Self-care tidak harus mahal atau rumit. Lima menit refleksi, menulis hal positif, memasak makanan favorit, atau meluangkan waktu untuk hobi sederhana sudah cukup untuk mengisi ulang energi emosional.

Menghapus kebiasaan toxic bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang konsistensi. Perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus akan menciptakan dampak besar. 

Dengan lebih sadar pada rutinitas harian, kebahagiaan tidak lagi terasa sebagai tujuan yang jauh, melainkan sebagai proses yang tumbuh perlahan dari kebiasaan-kebiasaan sehat.

Baca juga: 6 Kebiasaan Kecil yang Bisa Bikin Hubungan Lebih Bahagia, Termasuk Membatasi Penggunaan Ponsel

Tag:  #kebiasaan #toxic #yang #diam #diam #merenggut #kebahagiaan

KOMENTAR