Basah Kuyup dan KRL Padat Bikin Stres? Psikiater Ungkap Cara Atasi “Burnout” di Jalan
Belakangan, hujan deras mengguyur sejumlah daerah di Indonesia dan kerap datang tanpa peringatan.
Kondisi ini tak jarang mengganggu aktivitas harian, mulai dari perjalanan yang tersendat hingga kepadatan transportasi publik.
Bagi sebagian orang, situasi tersebut bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga memicu stres dan kelelahan emosional di tengah rutinitas yang padat.
Psikiater RS Dr. Soeharto Heerdjan, dr. Hilda Marsela, Sp.KJ, menjelaskan bahwa perasaan tertekan, mudah marah, hingga kelelahan emosional yang muncul saat menghadapi kondisi ini berkaitan erat dengan psikologi manusia dalam mengelola rasa kendali.
Kehilangan rasa kendali
Menurut dr. Hilda, manusia secara psikologis merasa lebih aman ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana.
Ketika cuaca berubah tiba-tiba dan mengacaukan agenda, muncul perasaan kehilangan sense of control atau rasa kendali atas situasi.
“Cuaca yang berubah-ubah dan sulit diprediksi bisa membuat seseorang merasa kehilangan kendali. Dalam jangka pendek, hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman, cemas, hingga tertekan,” ujar dr. Hilda saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Kondisi ini kerap semakin berat bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.
Terjebak macet atau berdesakan di transportasi umum saat tubuh basah dan lelah menjadi pemicu stres yang nyata dan berulang.
Ilustrasi hujan deras. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut). Masyarakat diminta mewaspadai hujan dengan durasi panjang yang diprediksi terjadi pada Senin (12/1/2026).
Dampak biologis pada mood
Tak hanya dari sisi psikologis, cuaca ekstrem juga memengaruhi tubuh secara biologis.
Manusia adalah makhluk diurnal yang bergantung pada cahaya matahari untuk mengatur ritme sirkadian atau jam biologis.
Saat mendung atau hujan berkepanjangan, tubuh mengalami perubahan kimiawi yang dapat memengaruhi suasana hati, antara lain:
-
Melatonin dan serotonin
Minimnya paparan cahaya matahari meningkatkan produksi melatonin yang membuat tubuh mengantuk, sekaligus menurunkan serotonin yang berperan dalam menjaga perasaan bahagia dan stabil.
-
Penurunan vitamin D
Kurangnya sinar matahari juga berdampak pada produksi vitamin D.
“Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D berkaitan dengan gejala depresif, mudah lelah, dan penurunan mood,” jelas dr. Hilda.
-
Kelelahan adaptasi tubuh
Tubuh memiliki sistem adaptasi alami bernama homeostasis. Namun, perubahan cuaca yang terlalu cepat dan tidak menentu memaksa tubuh bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri, sehingga memicu kelelahan fisik dan mental.
Cara menjaga kesehatan mental di tengah cuaca buruk
Meski cuaca berada di luar kendali, respons terhadapnya masih bisa diatur.
Dokter Hilda membagikan beberapa langkah sederhana untuk membantu menjaga kewarasan di tengah kondisi yang menekan.
1. Lakukan teknik pernapasan sadar
Saat emosi mulai memuncak di tengah kemacetan atau KRL padat, fokuslah pada napas. Tarik napas perlahan, tahan sejenak, lalu hembuskan lebih lama.
“Durasi menghembuskan napas sebaiknya lebih panjang daripada menarik napas agar tubuh merasa lebih rileks,” saran dr. Hilda.
2. Jaga konsistensi jam tidur
Meski cuaca mendung membuat tubuh terasa lebih malas, usahakan tetap bangun dan tidur sesuai jadwal.
Konsistensi ini penting untuk menjaga ritme sirkadian tetap stabil.
3. Manfaatkan cahaya buatan
Jika sinar matahari minim, nyalakan lampu dengan pencahayaan cukup terang atau buka jendela.
Paparan cahaya membantu otak tetap memproduksi hormon yang mendukung suasana hati positif.
4. Alihkan perhatian secara positif
Mendengarkan musik, menonton konten ringan, atau merencanakan kegiatan menyenangkan dapat membantu mengalihkan fokus dari situasi yang menekan dan menurunkan ketegangan emosional.
5. Perhatikan asupan cairan dan makanan
Pastikan tubuh tetap terhidrasi, terutama saat cuaca panas. Namun, batasi konsumsi kafein berlebihan karena dapat meningkatkan rasa gelisah dan memperparah kecemasan pada sebagian orang.
Cuaca seperti hujan dan panas memang tidak bisa diatur.
Namun, seperti ditegaskan dr. Hilda, cara kita merespons situasi tersebut berada dalam kendali.
Menjaga kesehatan fisik dan mental menjadi kunci agar tubuh tetap tangguh menghadapi tekanan sehari-hari, termasuk stres di perjalanan.
Tag: #basah #kuyup #padat #bikin #stres #psikiater #ungkap #cara #atasi #burnout #jalan