Sering Sembelit Saat Puasa? Ini Tips Mencegahnya
– Keluhan sembelit atau sulit buang air besar kerap dialami sebagian orang selama bulan puasa. Perubahan pola makan, minum, serta rutinitas harian membuat sistem pencernaan harus beradaptasi dalam waktu singkat.
Kondisi ini ditandai dengan frekuensi buang air besar yang berkurang, tinja menjadi lebih keras, hingga perut terasa penuh dan tidak nyaman. Meski terlihat sepele, sembelit dapat mengganggu kenyamanan saat menjalani ibadah puasa.
Faktor psikologis ikut berperan
Board of Medical Excellence Halodoc, dr Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan bahwa sembelit saat puasa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi psikologis hingga asupan yang dikonsumsi tubuh.
“Sembelit atau susah buang air besar itu bisa karena faktor psikologisnya juga. Misalnya pagi-pagi sudah puasa, itu suatu hal yang tidak biasa, dan itu bisa berpengaruh secara emosional,” ujar dr Irwan dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Perubahan rutinitas selama Ramadan membuat tubuh dan pikiran harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Kondisi ini dapat memengaruhi refleks alami tubuh dalam proses buang air besar.
Dokter Irwan menilai, tekanan emosional ringan yang muncul akibat perubahan rutinitas bisa menghambat kerja sistem pencernaan.
Ia menggambarkan kondisi tersebut serupa dengan situasi ketika seseorang berada di lingkungan baru, seperti saat bepergian.
“Misalnya kita liburan di tempat yang tidak biasa, kadang dua sampai tiga hari baru bisa buang air besar di sana,” katanya.
Menurut dr. Irwan, kondisi serupa juga dapat terjadi saat Ramadan karena perubahan rutinitas yang cukup signifikan.
Asupan serat sering terabaikan
Selain faktor psikologis, asupan yang dikonsumsi menjadi penyebab utama sembelit saat puasa.
Saat berbuka, banyak orang lebih fokus pada makanan yang terasa enak dan mengenyangkan, tetapi kurang memperhatikan kandungan serat.
Dokter Irwan menilai, kebiasaan tersebut membuat kebutuhan serat harian sering tidak terpenuhi. Padahal, serat memiliki peran penting dalam membantu proses usus bekerja.
“Karena lapar mata, semua makanan yang enak-enak disiapkan di meja. Tapi jarang yang menyiapkan sayur atau serat. Ususnya jadi lambat, akhirnya BAB-nya jadi susah,” tutur dr. Irwan.
Selain itu, dr. Irwan juga menyarankan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu manis saat berbuka puasa.
Atur pola minum 2-4-2 selama puasa
Di samping itu, dr. Irwan juga menyarankan agar asupan cairan selama puasa diatur dengan strategi sederhana agar tubuh tidak kekurangan cairan.
Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah membagi waktu minum secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur.
“Kita pakai teori 2-4-2 saja. Dua gelas pada saat buka, empat pada saat mau tidur, terus dua gelas pada saat sahur. Rata-rata sekitar 2 sampai 3 liter,” ujar Irwan.
Menurutnya, pembagian tersebut membantu tubuh memenuhi kebutuhan cairan tanpa harus minum dalam jumlah besar sekaligus.
Dengan cara ini, tubuh memiliki waktu lebih baik untuk menyerap cairan sehingga risiko dehidrasi, sembelit, hingga pusing saat puasa dapat ditekan.
Menurut dr. Irwan, kebiasaan minum yang teratur sama pentingnya dengan pemilihan makanan selama Ramadan agar fungsi pencernaan tetap berjalan optimal.