Studi Ungkap Orangtua Rentan Kehilangan Identitas Diri Setelah Punya Anak
- Di balik kebahagiaan membesarkan anak, banyak orangtua diam-diam merasakan perubahan besar dalam cara mereka memandang diri sendiri.
Sebuah survei terbaru dari Headway mengungkap, bahwa 49 persen orangtua merasa kehilangan identitas pribadinya setelah memiliki anak.
Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan waktu dan energi yang tersita, tetapi juga dengan bergesernya prioritas hidup, ambisi, hingga relasi sosial.
Para ahli menyebut fenomena ini sebagai hal yang wajar, tetapi tetap perlu disadari agar tidak berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan emosional orangtua.
Ketika peran sebagai orangtua mengalahkan ambisi pribadi
Disadur dari Parents, Selasa (20/1/2026), survei Headway menunjukkan bahwa lebih dari setengah orangtua mengaku menolak peluang karier setelah memiliki anak.
Sebanyak 57 persen orangtua mengatakan mereka pernah melewatkan kesempatan kerja karena tuntutan mengasuh anak, sementara 34 persen lainnya merasa ambisi pribadinya menurun sejak menjadi orangtua.
Psikolog klinis berlisensi dan profesor psikologi di Pepperdine University, Natasha Thapar-Olmos, PhD menjelaskan, perubahan ini berkaitan dengan mekanisme alami manusia.
“Ini adalah kebutuhan evolusioner untuk mengesampingkan kebutuhan diri demi anak. Proses menjadi orangtua memang mengubah prioritas hidup seseorang,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak orangtua menjadi kurang tertarik mengejar promosi atau jenjang karier tinggi karena tidak lagi ingin mengorbankan waktu bersama keluarga.
Rutinitas harian yang padat, kurang tidur, dan tanggung jawab domestik membuat fokus pada pengembangan diri terasa semakin sulit.
Psikolog berlisensi asal Florida, Stefanie Mazer, PsyD, juga menegaskan bahwa tuntutan pengasuhan sering membuat tujuan pribadi terasa sekunder atau bahkan egois.
Akibatnya, banyak orangtua tanpa sadar menaruh mimpi-mimpi lamanya di urutan terakhir.
Ibu lebih rentan merasakan kehilangan identitas
Meski dialami oleh banyak orangtua, perempuan, khususnya ibu, sering merasakan dampaknya lebih kuat.
“Ibu masih cenderung membuat lebih banyak pengorbanan dalam karier dan pertumbuhan pribadi dibanding ayah, meski kesenjangannya perlahan mulai menyempit,” kata Mazer.
Tekanan sosial juga memperberat situasi. Masyarakat kerap menilai negatif ketika seorang ibu memprioritaskan dirinya sendiri.
Sebaliknya, keputusan serupa pada laki-laki sering dianggap wajar. Kondisi ini membuat banyak ibu memendam keinginan untuk berkembang secara pribadi karena takut dicap tidak berdedikasi pada keluarga.
Faktor ekonomi turut berperan. Biaya pengasuhan anak yang tinggi membuat sebagian orangtua tidak punya pilihan selain menunda karier atau pendidikan lanjutan.
Menurut Thapar-Olmos, keluarga dengan pendapatan lebih tinggi cenderung lebih fleksibel karena mampu membayar bantuan tambahan, seperti pengasuh atau daycare.
Apa dampak psikologis yang mungkin dihadapi orangtua?
Kehilangan identitas tidak hanya berarti kehilangan waktu luang atau hobi, tetapi juga menyentuh aspek harga diri dan makna hidup.
“Waktu sosial, perjalanan, dan kebebasan karier penting karena menjaga koneksi seseorang dengan jati dirinya. Ketika itu memudar, dunia terasa menyempit,” jelas Mazer.
Survei juga menunjukkan bahwa 59 persen orangtua kehilangan kehidupan sosial, 38 persen merindukan hobi lama, dan 23 persen tidak punya waktu untuk perawatan diri.
Bahkan, 46 persen orangtua menyesal tidak mencapai lebih banyak pencapaian sebelum memiliki anak.
Menurut Thapar-Olmos, mengabaikan kebutuhan diri sendiri dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan burnout.
Burnout pada orangtua bisa muncul sebagai kelelahan emosional, perasaan terisolasi, hingga turunnya motivasi hidup.
Cara kecil untuk mulai menemukan diri kembali
Meski situasinya kompleks, para ahli sepakat bahwa pemulihan identitas bisa dimulai dari langkah kecil.
Thapar-Olmos menyarankan meluangkan waktu 15 menit sehari untuk melakukan hal yang dulu disukai, seperti bermain musik, membaca, atau sekadar menikmati musik favorit.
“Mulailah dari sesuatu yang sederhana. Itu membantu mengingatkan bahwa Anda adalah individu, bukan hanya orangtua,” imbaunya.
Mazer menambahkan, rasa bersalah sering menjadi penghalang terbesar.
“Banyak orangtua merasa bersalah saat menginginkan sesuatu untuk diri sendiri. Padahal, merawat diri bukan berarti mencintai anak lebih sedikit,” ujarnya.
Selain usaha pribadi, para ahli menilai perubahan sistemik juga penting, seperti jam kerja fleksibel, akses pengasuhan anak yang terjangkau, dan normalisasi bahwa menjadi orangtua adalah pekerjaan emosional yang berat.
Menemukan kembali identitas bukan berarti meninggalkan peran sebagai orangtua, melainkan mengintegrasikan peran tersebut dengan kebutuhan pribadi.
Melalui cara ini, para orangtua bisa hadir secara lebih utuh, baik bagi anak-anak maupun bagi dirinya sendiri.
Tag: #studi #ungkap #orangtua #rentan #kehilangan #identitas #diri #setelah #punya #anak