Psikolog Ungkap 6 Alasan Anak Perempuan Tertua Dianggap Pasangan Ideal
Ilustrasi kakak beradik.(Dok. Freepik/jcomp)
13:20
17 Januari 2026

Psikolog Ungkap 6 Alasan Anak Perempuan Tertua Dianggap Pasangan Ideal

- Anak perempuan tertua sering kali tumbuh dengan peran yang lebih besar dibanding saudara-saudaranya. 

Sejak kecil, mereka terbiasa memikul tanggung jawab, menjadi penengah konflik, sekaligus sosok yang diandalkan keluarga. 

Fenomena ini dikenal sebagai eldest daughter syndrome, istilah populer yang menggambarkan bagaimana tekanan menjadi anak pertama membentuk karakter, emosi, dan cara mereka berelasi dengan orang lain.

“Jalan pintas budaya untuk menggambarkan tekanan anak perempuan tertua agar selalu unggul, kuat, dan terlihat mampu mengurus segalanya,” kata Psikoterapis dan konselor pasangan Benu Lahiry, LMFT, dikutip SELF Magazine, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, tekanan tersebut memang melelahkan, tetapi juga melahirkan kualitas emosional yang membuat mereka menonjol sebagai pasangan dan sahabat.

6 alasan mengapa anak perempuan tertua dianggap pasangan yang ideal

Berikut 6 alasan mengapa anak perempuan tertua kerap dinilai sebagai sosok yang hangat, bisa diandalkan, dan penuh empati dalam hubungan.

1. Terbiasa bertanggung jawab dan bisa diandalkan

Sejak kecil, anak perempuan tertua sering diminta membantu mengurus adik, menjaga rumah, atau memastikan semuanya berjalan baik. 

Psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD mengatakan, hal ini membentuk sifat konsisten mereka dalam menepati janji, menjaga komitmen, dan hadir ketika dibutuhkan.

“Mereka biasanya tumbuh menjadi pemimpin alami yang punya naluri merawat orang lain,” ujar dia.

Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga bertindak. Sebagai pasangan atau sahabat, kehadiran mereka memberi rasa aman karena orang tahu mereka tidak mudah menghilang saat situasi sulit.

2. Pandai mengelola konflik dan menjadi penengah

Menjadi anak tertua berarti terbiasa berada di antara dua dunia, sebagai teladan bagi orangtua dan sebagai kakak yang dekat dengan adik. Posisi ini mengajarkan mereka cara menyeimbangkan kepentingan banyak pihak.

Menurut Lahiry, pengalaman ini membentuk kemampuan anak perempuan tertua dalam mengelola konflik. 

“Mereka belajar memahami sudut pandang yang berbeda tanpa langsung menghakimi,” jelasnya.

Dalam hubungan, keterampilan ini membuat mereka mampu meredakan pertengkaran, menjaga komunikasi tetap sehat, dan tidak mudah terpancing emosi.

3. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi

Anak perempuan tertua dikenal peka membaca situasi. Mereka cepat menyadari perubahan suasana hati orang terdekat, bahkan sebelum diungkapkan secara verbal.

“Pengalaman mengantisipasi kebutuhan orang lain sejak kecil membuat mereka sangat empatik dan observatif,” ungkap Lahiry.

Sebagai sahabat, mereka tahu kapan harus mendengar dan kapan harus memberi saran. Sebagai pasangan, mereka cenderung penuh perhatian dan memahami bahasa emosi pasangannya.

4. Terorganisasi dan punya inisiatif

Dalam pertemanan, anak perempuan tertua sering menjadi sosok yang merencanakan pertemuan, mengatur jadwal, atau memastikan semua orang terakomodasi. 

Romanoff menjelaskan, kebiasaan ini terbentuk karena sejak kecil mereka terbiasa mengambil alih ketika situasi membutuhkan struktur.

Sifat terorganisasi ini membuat hubungan terasa lebih stabil. Mereka tidak hanya menunggu keadaan membaik, tetapi berinisiatif menciptakan solusi.

5. Setia dan berkomitmen

Karena terbiasa memegang peran penting dalam keluarga, anak perempuan tertua umumnya memandang hubungan sebagai sesuatu yang harus dijaga. Mereka tidak mudah menyerah dan berusaha bertahan saat hubungan diuji.

Komitmen ini membuat mereka menjadi pasangan yang serius, serta sahabat yang tidak pergi ketika situasi berubah sulit.

6. Penuh perhatian, meski sering mengabaikan diri sendiri

Di balik semua kelebihan itu, ada sisi rapuh yang kerap tak terlihat. Anak perempuan tertua sering lupa merawat diri, karena terlalu sibuk merawat orang lain.

“Ketika kompetensi menjadi seluruh identitas, kelelahan tidak bisa dihindari,” tutur Lahiry.

Itulah sebabnya, mereka layak mendapat dukungan balik. Gestur sederhana seperti membantu merencanakan sesuatu atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus bisa menjadi bentuk apresiasi besar.

Anak perempuan tertua memang memikul beban emosional sejak dini, tetapi dari sanalah lahir kedewasaan, empati, dan kekuatan karakter. 

Tak heran jika mereka kerap menjadi pasangan yang stabil dan sahabat yang setia, sosok yang membuat orang lain merasa aman, dipahami, dan tidak sendirian.

Tag:  #psikolog #ungkap #alasan #anak #perempuan #tertua #dianggap #pasangan #ideal

KOMENTAR