Kenapa Korban Child Grooming Sulit Menolak? Ini Penjelasan Ahli
Child grooming tidak hanya berkaitan dengan kekerasan fisik, tetapi juga manipulasi psikologis yang membuat korban perlahan kehilangan kemampuan untuk menolak.
Pelaku kekerasan seksual sering kali merupakan orang-orang terdekat anak, entah teman, orangtua, tenaga pendidik, atau tokoh masyarakat.
Banyak korban baru menyadari bahwa dirinya mengalami grooming setelah proses tersebut berlangsung lama, bahkan ketika kekerasan sudah terjadi, karena hubungan yang dibangun pelaku terasa aman dan penuh perhatian.
Grooming membangun ikatan emosional terlebih dahulu
Jurnal Child Abuse & Neglect menjelaskan bahwa grooming merupakan proses bertahap yang bertujuan membangun kedekatan emosional sebelum eksploitasi terjadi.
Pelaku sering memposisikan diri sebagai orang yang selalu hadir, mendukung, dan memahami korban, terutama ketika anak sedang merasa kesepian atau menghadapi masalah.
Ikatan emosional ini membuat korban merasa bergantung, sehingga menolak pelaku terasa seperti kehilangan orang yang dianggap penting.
Pelanggaran batas terjadi secara perlahan
ilustrasi anak dan orang dewasa. Manipulasi emosional dalam grooming membuat korban perlahan kehilangan kemampuan untuk berkata tidak dan mencari bantuan.
Salah satu strategi utama dalam grooming adalah desensitisasi, yaitu membiasakan korban terhadap pelanggaran batas sedikit demi sedikit.
Psikolog klinis Jessica January Behr, seperti dikutip Today, menjelaskan bahwa pelaku biasanya memulai dari sentuhan ringan atau percakapan yang tampak wajar.
Seiring waktu, batas tersebut terus didorong hingga korban tidak lagi menyadari kapan situasi berubah menjadi tidak aman.
Rasa bersalah sengaja dibentuk
GoodRX menyebut bahwa pelaku grooming kerap menanamkan rasa bersalah pada korban.
Korban bisa dibuat merasa bahwa hubungan tersebut terjadi atas keinginan mereka sendiri, sehingga ketika merasa tidak nyaman, muncul anggapan bahwa merekalah yang salah.
Allure menambahkan bahwa pemberian perhatian dan hadiah juga dapat menciptakan rasa “utang”, yang membuat korban sulit menolak permintaan pelaku.
Kenapa korban sulit bercerita?
Dikutip dari Cleveland Clinic, pelaku grooming hampir selalu membangun hubungan berbasis rahasia sejak awal.
Psikolog anak Vanessa Jensen, PsyD, menjelaskan bahwa rahasia membuat korban merasa takut kehilangan kepercayaan pelaku jika mereka bercerita kepada orang lain.
Selain itu, pelaku sering menjauhkan korban dari keluarga dan teman, sehingga anak tidak memiliki ruang aman untuk berbagi cerita.
Banyak korban juga takut tidak dipercaya, terutama jika pelaku dikenal sebagai sosok baik atau dihormati.
Hubungan terasa normal di mata korban
Melansir Allure, grooming sering digambarkan sebagai proses yang lambat dan terencana, sehingga korban sering menganggap hubungan tersebut wajar.
Perasaan nyaman yang bercampur dengan kebingungan dan takut membuat korban sulit mengenali bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak korban baru berani berbicara setelah waktu yang lama.
Dampak jangka panjang bagi korban
Korban grooming berisiko mengalami trauma berkepanjangan, kesulitan mempercayai orang lain, serta masalah dalam membangun hubungan yang sehat.
Pengalaman dimanipulasi sejak dini juga dapat memengaruhi cara korban memahami batas dan persetujuan.
Peran orang dewasa sangat penting
Para ahli menegaskan bahwa kesulitan korban untuk menolak atau bercerita bukanlah tanda kelemahan.
Kondisi tersebut merupakan hasil dari manipulasi yang dilakukan secara sistematis dan berulang.
Karena itu, orang dewasa perlu menciptakan ruang aman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan merespons dengan empati ketika anak atau korban mulai berbagi cerita.
Memahami cara kerja child grooming menjadi langkah penting untuk memastikan korban tidak lagi merasa sendirian atau disalahkan.
Tag: #kenapa #korban #child #grooming #sulit #menolak #penjelasan #ahli