Rekam Jejak Kak Seto yang Ikut Terseret Isu Child Grooming Aurelie Moeremans
Nama Kak Seto turut menjadi sorotan publik seiring ramainya pembahasan buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Memoar tersebut mengungkap pengalaman Aurelie sebagai korban child grooming dan hubungan tidak sehat saat usia remaja.
Di tengah sorotan terhadap isi buku, perhatian publik kemudian bergeser pada rekam jejak Kak Seto yang terseret isu buku Aurelie Moeremans, khususnya terkait perannya sebagai "Sahabat Anak".
Isu ini bermula dari pengakuan keluarga Aurelie yang menyebut telah berulang kali meminta bantuan kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak.
Ayah Aurelie, Jean Marc Moeremans, mengungkap bahwa pihak keluarga sempat menghubungi Kak Seto melalui berbagai jalur, termasuk email, untuk melaporkan permasalahan yang menimpa putrinya.
Namun, menurut pengakuannya, upaya tersebut tidak mendapatkan respons atau tindak lanjut yang jelas. Ketiadaan respons inilah yang kemudian memicu kekecewaan dan mendorong keluarga Aurelie berbicara ke media.
Meski tidak dikaitkan langsung sebagai pelaku dalam isi buku, Kak Seto tetap menjadi sorotan publik sebagai figur perlindungan anak yang dinilai kurang terlihat dalam momen penting.
Dari sinilah publik mulai menelusuri kembali perjalanan panjang, peran, serta kontribusi Kak Seto di dunia anak-anak Indonesia. Berikut ulasan lengkapnya.
Profil Kak Seto
PerbesarKak Seto (Instagram/kaksetosahabatanak)Seto Mulyadi, atau yang lebih akrab disapa Kak Seto, lahir di Klaten pada 28 Agustus 1951. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang aktif dan tidak bisa diam.
Bahkan, ia sempat mengalami trauma akibat sering jatuh, namun memilih melatih mentalnya sendiri hingga berani menghadapi rasa takut tersebut.
Awalnya, Kak Seto bercita-cita menjadi dokter. Ia mencoba masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia, namun gagal di keduanya.
Kekecewaan itu membawanya hijrah ke Jakarta tanpa kepastian, bekerja serabutan sambil menunggu kesempatan berikutnya.
Takdirnya berubah ketika Pak Kasur menyarankan agar ia mengambil jalur psikologi, bidang yang kemudian menjadi jalan hidupnya.
Kak Seto menempuh pendidikan Sarjana, Magister, hingga Doktor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Gunadarma.
Latar belakang akademik inilah yang menguatkan posisinya sebagai salah satu psikolog anak paling dikenal di Indonesia.
Kiprah Panjang Kak Seto di Dunia Anak-anak
PerbesarKak Seto (Instagram/@kaksetosahabatanak)Perjalanan Kak Seto bersama dunia anak dimulai sejak 4 April 1970, saat ia diperkenalkan secara resmi oleh Pak Kasur sebagai "Kak Seto". Sebelumnya, ia memang telah menjadi guru taman kanak-kanak di sekolah yang dikelola Pak Kasur dan Bu Kasur.
Nama Kak Seto mulai dikenal luas ketika ia tampil di berbagai acara anak di televisi. Ia tidak hanya berperan sebagai pendongeng, tetapi juga sebagai figur pendidik yang mengajak anak belajar sambil bermain.
Karakter Si Komo yang ia ciptakan menjadi simbol pendekatan edukasi yang ramah anak. Pendekatan inilah yang membuatnya begitu lekat dengan citra "Sahabat Anak".
Selain tampil di media, Kak Seto juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia pernah terlibat dalam kampanye perdamaian di luar negeri sebagai pendongeng untuk anak-anak korban konflik.
Di Indonesia, ia dikenal aktif dalam trauma healing bagi anak-anak korban bencana dan tragedi. Kiprah inilah yang kemudian mengantarkannya memimpin lembaga perlindungan anak dan mendirikan Homeschooling Kak Seto, sebuah sekolah alternatif dengan pendekatan ramah anak dan fleksibel.
Posisi Kak Seto semakin strategis ketika ia dipercaya memimpin lembaga perlindungan anak, termasuk menjabat sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak dan kemudian dikenal sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).
Ia kerap tampil memberikan pandangan sebagai pakar psikologi anak, baik di media maupun dalam forum-forum kebijakan. Pendapatnya sering dijadikan rujukan dalam isu kekerasan terhadap anak, pengasuhan, hingga pendidikan karakter.
Seluruh rangkaian kiprah inilah yang membentuk citra Kak Seto sebagai tokoh sentral dalam isu anak di Indonesia.
Oleh karena itu, ketika namanya ikut terseret dalam konteks buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, publik tidak hanya melihatnya sebagai isu personal.
Terlepas dari kontribusi Kak Seto selama puluhan tahun, sorotan publik terhadap respons lembaga perlindungan anak menunjukkan pentingnya kehadiran yang cepat dan nyata saat keluarga korban membutuhkan pendampingan.
Kontributor : Dini Sukmaningtyas
Tag: #rekam #jejak #seto #yang #ikut #terseret #child #grooming #aurelie #moeremans