5 Alasan Perselingkuhan Masih Bisa Dimaafkan Menurut Psikolog
Ilustrasi selingkuh.(Freepik)
21:05
13 Januari 2026

5 Alasan Perselingkuhan Masih Bisa Dimaafkan Menurut Psikolog

- Perselingkuhan sering dianggap sebagai akhir dari sebuah hubungan. Banyak orang meyakini bahwa sekali kepercayaan dikhianati, maka tak ada lagi ruang untuk memperbaiki. 

Namun, realitas hubungan tidak sesederhana itu. Dalam praktik psikologi, hubungan manusia dipenuhi lapisan emosi, sejarah panjang, dan pertimbangan hidup yang kompleks.

Meski tidak ada alasan yang membenarkan perselingkuhan, para terapis pasangan sepakat bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan.

Sebaliknya, bagi sebagian orang, memaafkan justru menjadi jalan untuk memperoleh kejelasan, ketenangan batin, dan bahkan pemulihan hubungan yang lebih sehat.

“Tidak ada alasan yang benar-benar baik untuk berselingkuh. Dalam lebih dari satu dekade praktik, saya belum pernah mendengar seseorang berkata, ‘Oh, itu alasan yang bagus’” kata terapis pasangan, Idit Sharoni, LMFT, dilansir dari SELF Magazine, Selasa (13/1/2026).

5 Alasan Memaafkan Perselingkuhan

Berikut psikolog beberkan lima alasan yang sering membuat perselingkuhan masih bisa dipertimbangkan untuk dimaafkan.

1. Pernikahan sudah terjalin lama dan penuh sejarah emosional

Hubungan jangka panjang menyimpan ikatan emosional yang jauh lebih dalam dibanding relasi yang masih seumur jagung. 

Ada sejarah panjang kebersamaan, mulai dari menghadapi duka, krisis kesehatan, hingga tantangan ekonomi.

“Jika kamu sudah menikah dalam waktu yang sangat lama, itu bukan keputusan sederhana untuk langsung mengakhiri hubungan. Ini bukan sakelar on-off,” kata Sharoni. 

Menurutnya, pengalaman hidup yang dilalui bersama tidak otomatis terhapus hanya karena satu peristiwa, meskipun peristiwa itu menyakitkan.

Bagi sebagian pasangan, perselingkuhan memang mengguncang fondasi hubungan, tetapi tidak serta-merta menghapus makna, dukungan, dan cinta yang pernah terbangun selama bertahun-tahun.

2. Ketergantungan finansial yang sulit dipisahkan

Faktor ekonomi kerap menjadi pertimbangan besar dalam keputusan bertahan atau berpisah. 

Terapis pasangan berbasis di Los Angeles, Lisa Chen, LMFT menjelaskan, banyak pasangan tetap bersama karena memisahkan hidup secara finansial bukan hal yang mudah.

“Saya bekerja dengan banyak pasangan yang memilih bertahan karena biaya untuk hidup terpisah sangat besar, mulai dari rumah, utang, hingga pengeluaran anak,” ujar Chen.

Selain itu, asuransi kesehatan, tanggungan pendidikan anak, atau hutang bersama juga menjadi realitas yang membuat seseorang berpikir ulang untuk mengakhiri hubungan secara tiba-tiba. 

Dalam kondisi ini, memaafkan bukan hanya soal emosi, tetapi juga soal keberlangsungan hidup.

3. Pasangan mengaku dengan jujur tanpa dipaksa

Kejujuran yang datang dari kesadaran sendiri sering kali menjadi titik awal pemulihan. 

Menurut Patrice Le Goy, PhD, LMFT, terapis pasangan lainnya, pengakuan tanpa tekanan menunjukkan tanggung jawab emosional.

“Orang cenderung lebih mudah memaafkan, jika pasangan datang dengan pengakuan dan permintaan maaf yang tulus,” ucap dia.

Menurut Le Goy, mengaku tanpa harus tertangkap basah mencerminkan kesiapan untuk bertanggung jawab, meskipun itu berisiko merusak hubungan. Transparansi ini menjadi fondasi penting untuk membangun kembali kepercayaan.

4. Memaafkan demi kesehatan mental diri sendiri

Memaafkan tidak selalu berarti bertahan dalam hubungan. Bagi sebagian orang, memaafkan adalah cara untuk melepaskan beban emosi agar tidak terus hidup dalam kemarahan dan luka.

“Ada anggapan bahwa memaafkan hanya karena ingin kembali bersama, padahal tidak selalu demikian,” kata Chen. 

“Banyak orang memaafkan demi kesehatan mentalnya sendiri, bukan demi mempertahankan hubungan,” tambah dia.

Ia menambahkan, jika seseorang terus memelihara dendam, kemarahan itu bisa membentuk hidupnya selama bertahun-tahun. 

Memaafkan menjadi cara untuk mengambil kembali kendali atas emosi dan masa depan pribadi.

5. Pasangan menunjukkan tanggung jawab dan perubahan nyata

Para psikolog sepakat bahwa memaafkan tidak akan sehat jika pasangan yang berselingkuh tidak benar-benar bertanggung jawab. 

Sharoni menekankan, pemulihan hanya mungkin terjadi jika ada penyesalan tulus dan komitmen untuk berubah.

Dalam praktiknya, ini berarti permintaan maaf tanpa pembelaan, kesiapan untuk bersikap terbuka, serta kemauan menjalani proses terapi. 

“Saya membantu pasangan merancang hubungan baru yang lebih sehat, dengan aturan dan batasan yang jelas agar perselingkuhan tidak terulang,” kata Sharoni.

Perubahan nyata bukan hanya janji, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari yang konsisten dan penuh tanggung jawab.

Pada akhirnya, memaafkan perselingkuhan bukanlah keputusan yang benar atau salah secara universal. 

Setiap orang memiliki batasan, nilai, dan kondisi hidup yang berbeda. Seperti ditegaskan para psikolog, memaafkan bukan kewajiban, melainkan pilihan personal. 

Yang terpenting adalah keputusan itu diambil dengan kesadaran penuh, demi kebaikan emosional dan masa depan diri sendiri.

 

Tag:  #alasan #perselingkuhan #masih #bisa #dimaafkan #menurut #psikolog

KOMENTAR