Pentingnya Menyamakan Ekspektasi Peran Sebelum Menikah Menurut Psikolog
Membangun rumah tangga adalah perjalanan untuk menyelaraskan dua kepribadian, termasuk soal ekspektasi bersama.
Tinggal bersama memberikan kesempatan bagi pasangan untuk mematangkan diri melalui pembagian peran yang jelas dan suportif.
Pentingnya komunikasi sebelum menikah
Komunikasi terbuka mengenai hal-hal praktis, mulai dari urusan konsumsi hingga pengeluaran, akan menjadi fondasi yang kuat bagi keharmonisan hubungan ke depannya.
Psikolog keluarga dan pernikahan Nadya Pramesrani, M.Psi., menjelaskan bahwa setiap individu tumbuh dari latar belakang lingkungan yang berbeda.
Karena itu, hal-hal yang dianggap wajar dapat bersifat subjektif bagi masing-masing orang.
"Pasangan berasal dari dua keluarga asal yang berbeda, sehingga apa yang dianggap wajar akan subjektif. Asumsi-asumsi yang tidak didiskusikan secara terbuka inilah yang sering menjadi sumber konflik," ungkap Nadya saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/1/2026).
Misalnya, seorang suami mungkin menganggap "mandiri" berarti masing-masing mengurus kebutuhan makan sendiri, sementara bagi istri, perhatian kecil seperti ditawari makanan adalah simbol kasih sayang dan perlindungan.
Tanpa komunikasi, perbedaan ini akan terbaca sebagai sikap egois.
Ilustrasi pasangan.
Menafkahi: bukan sekadar angka di rekening
Salah satu isu sensitif dalam pernikahan modern adalah konsep menafkahi.
Di era sekarang, peran suami sebagai satu-satunya penyedia dana (provider) mulai bergeser.
Namun, Nadya menyebut bahwa makna "menafkahi" jauh lebih luas dari sekadar finansial.
Menurut konsep keintiman dari Mark Schaefer & David Olson, ada enam aspek keintiman yang harus dipenuhi dalam keluarga:
- Keintiman eosional: rasa aman untuk bercerita terbuka.
- Keintiman intelektual: nyambung saat mengobrolkan visi masa depan.
- Keintiman rekreasional: menikmati waktu luang bersama.
- Keintiman keuangan: terbuka soal pengelolaan uang.
- Keintiman sksual: hubungan fisik yang memuaskan.
- Keintiman spiritual: kesamaan nilai hidup dan ibadah.
Istri bekerja atau di rumah? kesepakatan adalah kunci
Ketika seorang suami merasa keberatan jika istri "hanya" di rumah, atau istri merasa kurang diperhatikan secara batin, biasanya ada satu atau lebih aspek keintiman di atas yang sedang terganggu.
Nadya menegaskan bahwa tidak ada model peran yang salah.
Apakah pasangan memilih model konvensional (suami bekerja, istri di ranah domestik) atau model companionate (setara dan saling bertukar peran), keduanya sah-sah saja asalkan disepakati bersama.
"Prinsipnya sama seperti yaitu tentang kesepakatan bersama. Tidak ada yang salah atau kurang dengan menjadi ibu rumah tangga. Masing-masing punya kontribusinya sendiri terhadap kelangsungan keluarga yang bahagia menurut versi pasangan itu sendiri,"tegas Nadya.
Pesan untuk pasangan muda
Nadya berpesan bahwa pernikahan tidak hanya tentang menikmati masa-masa bahagia.
Tetapi juga tentang bagaimana pasangan saling mendukung dan bertumbuh bersama saat menghadapi berbagai tantangan hidup.
Pernikahan bukan semata soal apa yang saya inginkan atau apa yang dia inginkan, melainkan tentang apa yang kita tuju bersama.
Karena itu, penting bagi pasangan untuk membangun komunikasi, memastikan memiliki tujuan yang sejalan, serta mendiskusikan langkah-langkah yang bisa ditempuh bersama untuk mencapainya.
Tag: #pentingnya #menyamakan #ekspektasi #peran #sebelum #menikah #menurut #psikolog