Dalam Psikologi Keluarga, Lebih Baik Istri Bekerja atau Jadi IRT? Ini Penjelasan Pakar
Perdebatan mengenai posisi perempuan dalam rumah tangga seolah tidak pernah ada habisnya.
Di media sosial, tak jarang muncul perbandingan antara istri yang bekerja dengan istri yang sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga (IRT).
Sebagian memuji kemandirian istri bekerja, sementara yang lain mengagungkan pengabdian IRT.
Lalu, jika ditinjau dari perspektif psikologi keluarga, mana sebenarnya pilihan yang lebih baik dan lebih sehat bagi sebuah pernikahan?
Bukan status, tapi kesepakatan
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., menjelaskan bahwa kesehatan sebuah keluarga tidak bisa diukur dari status pekerjaan sang istri semata.
Menurutnya, setiap keluarga memiliki "resep" kebahagiaannya masing-masing.
"Model yang paling sehat adalah pilihan yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama, bukan pembagian peran yang didasarkan pada stereotipe gender lama," ujar Verauli saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/1/2026).
Artinya, keluarga dengan model tradisional, di mana suami menjadi penafkah tunggal dan istri fokus di rumah, bisa tetap sehat secara mental.
Begitu pula dengan model egalitarian, di mana suami dan istri berbagi peran dalam mencari nafkah sekaligus mengurus rumah tangga.
Kuncinya bukan pada 'apa' perannya, tapi pada 'bagaimana' peran itu disepakati.
Ilustrasi
Pilihan atas kesadaran diri, bukan paksaaan
Pilihan untuk menjadi IRT sering kali dipandang berisiko bagi kesehatan mental perempuan.
Namun, Verauli menegaskan bahwa menjadi IRT bisa sangat menyehatkan asalkan pilihannya lahir dari kesadaran diri, bukan paksaan atau tekanan sosial.
Masalah psikologis dalam rumah tangga biasanya mencuat bukan karena istri tidak memiliki penghasilan, melainkan karena hilangnya aspek-aspek penting dalam relasi.
"Masalah muncul ketika istri kehilangan identitas diri, kehilangan daya tawar, atau merasa tidak lagi berharga dalam relasi pernikahan tersebut," tambahnya.
Selama seorang IRT tetap merasa memiliki ruang untuk berkembang dan dihargai kontribusinya, kesehatan mental keluarga akan tetap terjaga.
Fondasi rasa aman emosional
Verauli menekankan bahwa kesepakatan mengenai peran ini adalah fondasi dari emotional safety (rasa aman emosional).
Tanpa adanya kesepakatan yang jelas, perbedaan ekspektasi antara suami dan istri bisa menumpuk menjadi kekecewaan yang berujung pada konflik berkepanjangan.
Kesepakatan ini pun tidak bersifat statis.
Pasangan muda masa kini diharapkan lebih fleksibel dan bersedia meninjau ulang peran mereka seiring perubahan kondisi, mulai dari faktor finansial, kehadiran buah hati, hingga kesehatan.
Fleksibilitas di tengah tekanan ekonomi
Di tengah tekanan ekonomi saat ini, fleksibilitas peran justru menjadi penyelamat.
Verauli mengatakan, ada penelitian yang menunjukkan bahwa pasangan yang mampu berbagi risiko ekonomi dan menghindari kekakuan peran gender (gender role rigidity) memiliki ketahanan pernikahan yang lebih kuat saat menghadapi krisis.
Alih-alih terpaku pada siapa yang harus mencari uang dan siapa yang harus mencuci piring, pasangan modern lebih didorong untuk mendefinisikan ulang kontribusi mereka secara kolektif.
Pesan untuk pasangan muda
Roslina Verauli mengingatkan pasangan muda agar tidak terjebak pada standar ideal masa lalu yang mungkin sudah tidak relevan.
"Pernikahan sehat di era modern dibangun atas kesepakatan berdua. Ini bukan tentang memenuhi standar lama, tapi tentang menciptakan sistem baru yang lebih realistis dan berwelas asih bagi suami, istri, dan anak-anak," pungkasnya.
Tag: #dalam #psikologi #keluarga #lebih #baik #istri #bekerja #atau #jadi #penjelasan #pakar