Kasus Aurelie Moeremans Ungkap Bahaya Child Grooming, Ini Pola Pelaku
Grooming di usia 15 hingga mendapat ancaman, Aurelie Moeremans ungkap pilu masa lalu di buku 'Broken Strings'. Berani bersuara demi sesama.(Instagram @aurelie)
21:05
11 Januari 2026

Kasus Aurelie Moeremans Ungkap Bahaya Child Grooming, Ini Pola Pelaku

- Grooming, juga disebut child grooming, adalah proses manipulasi, yang mana seseorang membangun hubungan, rasa precaya, dan koneksi dengan seorang anak.

Aktris sekaligus penyanyi Indonesia Aurelie Moeremans, mengungkapkan bahwa ia merupakan korban child grooming ketika ia berusia 15 tahun, lewat buku berjudul Broken Strings.

Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa tujan child grooming adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak.

"Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak," jelas dia, dikutip dari Kompas.com, Minggu (11/1/2026).

Istilah child grooming sering berkaitan dengan tindakan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Kendati demikian, bagaimana para pelaku child grooming bekerja, agar orangtua lebih waspada terhadap keselamatan anak-anaknya?

Cara pelaku child grooming bekerja

Membangun relasi dengan korban

Child grooming termasuk sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual terhadap anak, dan kekeresan ini tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.

Dikutip berjudul "Perempuan: Perempuan dan Media Volume 2" yang dipublikasi oleh Women's Reproductive Health Center (WRHC), Minggu, pelaku akan melakukan berbagai cara untuk membangun relasi dengan korban.

Adapun, WRHC adalah pusat kajian kesehatan reproduksi perempuan Indonesia yang lahir dari kesadaran bahwa kesehatan perempuan adalah pondasi bagi lahirnya generasi yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

"Child grooming dilakukan dengan cara anak didekati, dibujuk dengan menggunakan berbagai teknik agar anak dapat diakses dan dikontrol untuk melakukan aktivitas seksual," tulis Novita Rina Antarsih, M.Biomed, dalam bab "Child Grooming" di buku tersebut.

Umumnya, para pelaku memiliki akses, waktu, dan keterampilan interpersonal, yang membuat mereka mampu membuat anak secara tidak sadar "bekerja sama" dengan para pelaku.

Mereka pun terampil dalam memilih, mengidentifikasi korban termasuk kebutuhannya, merayu korban yang rentan, mengendalikan korban, dan mengatur waktu yang dibutuhkan untuk mendekati korban.

Tidak dilakukan secara terang-terangan

Farraas melanjutkan, proses child grooming tidak dilakukan secara terang-terangan atau dengan paksaan fisik seperti penculikan.

Sebaliknya, pelaku menggunakan pendekatan halus seperti memberikan perhatian, menunjukkan rasa sayang, atau menciptakan situasi yang membuat anak merasa nyaman.

Sebab, para pelaku ingin meraih kepercayaan anak, sehingga mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.

"Seolah-olah ada intensi untuk sayang, padahal sebenarnya intensinya adalah memanfaatkan si anak tersebut," tutur Farraas.

Misalnya, pelaku sering memberikan perhatian melalui pesan teks, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering memuji, dan mengapresiasi.

Ketika kepercayaan sudah terbangun, pelaku dapat mulai membuat permintaan-permintaan, yang umumnya bernuansa seksua. Misalnya meminta foto, sampai mengarahkan anak untuk melakukan tindakan seksual.

Beraksi di dunia nyata

Dalam kasus Aurelie, proses grooming lebih banyak terjadi di dunia nyata dimulai sejak pertemuan di lokasi syuting iklan.

Lewat bukunya, perempuan berusia 32 tahun ini mengungkapkan bagaimana seorang laki-laki bernama Bobby, bukan nama sebenarnya, yang kala itu sudah berusia 29 tahun, mulai mendekatinya.

Sejak pertama kali saling kenal, Bobby mulai mengirimi Aurelie pesan-pesan lucu, menunggu Aurelie selesai syuting sampai esok pagi, bahkan mengantar Aurelie sekeluarga pulang.

Seiring berjalannya waktu, Aurelie mulai terjerat dan terjebak dalam manipulasi yang Bobby, seorang pria dewasa, lakukan.

Beraksi di dunia maya

Selain beraksi di dunia nyata seperti yang dialami Aurel, teknologi yang sudah semakin canggih juga seing dimanfaatkan oleh para predator anak-anak untuk menjaring korbannya.

"Software yang digunakan pelaku child grooming biasanya berupa aplikasi game online yang sering digunakan korban," tutur Novita.

Pelaku juga menggunakan situs web dari berbagai media sosial, dan aplikasi pesan untuk menghubungi korban.

"Pelaku menggunakannya untuk mempelajari mengenai anak-anak atau remaja, bagaimana mereka melalui profil online mereka, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjalin hubungan," lanjut dia.

Novita menjelaskan, pemanfaatan dunia maya memudahkan pelaku untuk menyembunyikan siapa mereka secara online, seperti berpura-pura menjadi anak kecil lalu berteman dengan target mereka.

Selanjutnya, ketika sudah mulai dekat di dunia maya, pelaku child grooming dan korban akan saling bertukar nomor telepon agar bisa melakukan video call dengan korban.

"Menyuruh korban melakukan hal-hal bersifat pornografi untuk direkam oleh tersangka, dan menggunakan rekaman tersebut untuk mengancam korban agar mau melakukan aksi serupa secara berulang kali," jelas Novita.

Memberi perhatian secara berlebihan

Sering kali, para pelaku child grooming memberikan perhatian secara berlebihan. Farraas mengungkapkan, tujuan awalnya adalah meraih kepercayaan anak, sehingga anak mungkin tidak menyadari bahwa ia sedang dimanipulasi.

"Seolah-olah ada intensi untuk sayang, padahal sebenarnya intensinya adalah memanfaatkan si anak tersebut," ucap Farraas.

Sebagai contoh, pelaku sering memberikan perhatian melalui pesan-pesan teks, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering memuji, dan mengapresiasi.

"Dia perhatian, dia memberi entah itu hadiah, uang atau pujian-pujian. Dibilang kayak paling cantik, paling ini, paling itu, luluh lah jadinya dan ngerasa enggak mungkin jahat," lanjut dia.

Ketika kepercayaan sudah terbangun, pelaku dapat mulai membuat permintaan-permintaan, yang umumnya bernuansa seksual.

Misalnya, meminta foto, hingga mengarahkan anak untuk melakukan tindakan seksual yang tidak sesuai usianya.

Tag:  #kasus #aurelie #moeremans #ungkap #bahaya #child #grooming #pola #pelaku

KOMENTAR