Dari Kemben hingga Cawat, Ini Cara Orang Jawa Kuno Berbusana
Jauh sebelum busana dijahit rapi seperti yang kita kenal sekarang, masyarakat Jawa Kuno telah memiliki sistem berpakaian yang sarat makna.
Kain bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol identitas, etika sosial, hingga penanda status dalam struktur masyarakat yang hierarkis.
Dalam peradaban Jawa Kuno, cara berkain mencerminkan posisi seseorang di dalam masyarakat.
Siapa yang boleh mengenakan jenis kain tertentu, bagaimana cara melilitnya, hingga berapa lapis kain yang digunakan, semua memiliki aturan tak tertulis yang dipahami bersama.
Dosen Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Suryo Bintoro, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa sejak abad ke-9 hingga ke-15, masyarakat Jawa telah mengenal stratifikasi sosial yang kuat.
Struktur tersebut terbagi atas raja, kerabat atau bangsawan, dan kawula atau rakyat biasa.
Pembagian ini tak hanya terlihat dalam sistem pemerintahan, tetapi juga tercermin jelas dalam budaya berpakaian.
Busana sebagai penanda kelas sosial
Suryo menjelaskan, masyarakat Jawa Kuno sudah memiliki kesadaran sosial yang tinggi terkait busana.
Golongan atas mengenakan kain dengan bentuk, lapisan, dan aksesori tertentu yang tidak bisa ditiru sembarangan oleh rakyat biasa.
“Cara berpakaian sudah terstratifikasi. Golongan atas, menengah, dan bawah memiliki ciri masing-masing. Rakyat biasa tidak mampu dan juga enggan menyamai busana kalangan elite,” ujarnya saat ditemui Kompas.com di sela acara Piknik Syeroe ’80 Nostalgia bersama Remen Jawi dan Swara Prambanan, beberapa waktu lalu.
Sikap “enggan menyamai” ini bukan semata karena keterbatasan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan etika sosial.
Masyarakat Jawa Kuno memahami batas kepantasan dalam berpakaian, sehingga tidak semua orang bebas meniru gaya busana bangsawan atau raja.
Belum mengenal jahitan, hanya kain yang dililit
Menariknya, pada masa itu masyarakat Jawa Kuno belum mengenal teknik menjahit seperti sekarang.
Busana sepenuhnya mengandalkan kain yang dililit, dilipat, atau diikat dengan teknik tertentu.
Relief-relief di Candi Borobudur dan Prambanan menjadi bukti visual praktik tersebut.
Banyak figur laki-laki dan perempuan digambarkan bertelanjang dada (topless), dengan kain yang menutup bagian tubuh bawah.
Kain yang digunakan pun beragam, baik dari segi ukuran maupun fungsi.
Ada kain panjang hingga mata kaki, ada pula kain pendek yang hanya menutup bagian tertentu.
Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan, jenis kelamin, dan status sosial pemakainya.
Ragam istilah kain dalam Jawa Kuno
Dalam berbagai prasasti dan naskah kuno, dikenal sejumlah istilah kain yang kini mulai jarang terdengar.
Beberapa di antaranya adalah tapih, sinjang, dan hules.
Hules, misalnya, merujuk pada kain besar yang digunakan untuk menutupi tubuh atau membungkus barang, mirip konsep “kemasan” tradisional pada masa itu.
Sementara itu, sinjang masih dikenal hingga kini, terutama dalam busana adat Jawa untuk acara tertentu.
Untuk bagian atas tubuh, dikenal istilah kalambi atau kelambi, yang kemudian berkembang menjadi bentuk penutup tubuh sederhana.
Dari kemben hingga cawat, busana Jawa Kuno bukan sekadar penutup tubuh, tetapi penanda status sosial dan etika masyarakatnya.
Perbedaan busana laki-laki dan perempuan
Cara berkain antara laki-laki dan perempuan juga dibedakan secara jelas.
Perempuan umumnya menggunakan kemben, nyamping, atau sinjang, sementara laki-laki mengenakan bubet, lancingan, hingga cawat atau kupina.
Cawat sendiri merupakan kain kecil yang dililit untuk menutup area vital.
Meski kini dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka, dalam konteks Jawa Kuno, cawat adalah bagian wajar dari busana sehari-hari, terutama bagi rakyat biasa atau pekerja.
“Cawat sudah disebut dalam catatan dan relief. Itu cara orang Jawa Kuno melindungi bagian sensitif tubuh sebelum mengenal pakaian berjahit,” kata Suryo.
Jejaknya masih terasa hingga kini
Meski zaman telah berubah, jejak peradaban kain Jawa Kuno masih dapat dirasakan hingga sekarang.
Teknik melilit kain, penggunaan sinjang, hingga konsep layering kain masih lestari dalam busana adat maupun tradisi di sejumlah daerah.
Bahkan, beberapa bentuk busana modern dinilai memiliki kemiripan dengan konsep berpakaian masa lalu, meski dengan fungsi dan estetika yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya berpakaian Jawa bersifat adaptif, namun tetap berakar pada nilai-nilai lama.
Lebih dari sekadar kain, busana dalam masyarakat Jawa Kuno adalah cermin tata sosial, etika, dan kesadaran akan posisi diri.
Dari kemben hingga cawat, setiap lilitan kain menyimpan cerita tentang bagaimana manusia Jawa memahami tubuh, lingkungan, dan tatanan hidup bersama.
Tag: #dari #kemben #hingga #cawat #cara #orang #jawa #kuno #berbusana