Belajar dari Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Alasan Anak Bertindak Ekstrem
Kasus pembunuhan ibu oleh anak di bawah umur yang terjadi di Medan, Sumatera Utara, mengundang keprihatinan publik.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin seorang anak bisa melakukan kekerasan ekstrem terhadap orang terdekatnya sendiri?
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog menjelaskan, dalam banyak kasus, kekerasan berat yang dilakukan anak bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan puncak dari rangkaian masalah psikologis dan lingkungan yang tidak tertangani sejak dini.
“Pada banyak kasus, kekerasan ekstrem yang dilakukan anak merupakan puncak dari masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan atau penanganan dini,” ujar Vera saat dihubungi Kompas.com, Rabu (31/12/2025).
Bukan terjadi seketika
Menurut Vera, perilaku kekerasan ekstrem pada anak umumnya merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor.
Salah satunya adalah belum matangnya kontrol impuls dan fungsi eksekutif anak, yakni kemampuan untuk menahan dorongan emosi dan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang diambil.
Selain itu, anak cenderung meniru pola penyelesaian konflik yang ia lihat di lingkungan terdekat, terutama di dalam keluarga.
“Jika di rumah kekerasan menjadi cara yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah, anak bisa menganggap kekerasan sebagai respons yang efektif,” jelasnya.
Akumulasi stres, trauma, serta rasa tidak berdaya yang dialami anak dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko terjadinya ledakan agresi dan perilaku berbahaya.
Peran besar konflik keluarga
Vera menyebut, terdapat sejumlah faktor keluarga yang sering ditemukan dalam kasus kekerasan yang dilakukan anak.
Di antaranya adalah konflik keluarga yang berlangsung kronis, pola komunikasi kasar, serta disiplin yang keras atau tidak konsisten.
Pengawasan orangtua yang lemah, batasan yang tidak jelas, hingga adanya riwayat kekerasan atau penelantaran di rumah juga menjadi faktor risiko yang signifikan.
Selain itu, masalah kesehatan mental orangtua serta tekanan ekonomi dapat memperburuk situasi emosional anak.
“Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan tanpa dukungan emosional yang memadai akan lebih rentan melampiaskan emosi secara destruktif,” kata Vera.
ilustrasi kekerasan pada anak.
Tidak selalu terkait gangguan kejiwaan
Vera menegaskan bahwa anak pelaku kekerasan tidak selalu memiliki gangguan kejiwaan.
Memang, ada anak dengan kondisi klinis tertentu, seperti gangguan perilaku, gangguan regulasi emosi, atau penyalahgunaan zat, yang meningkatkan risiko agresi.
Namun, dalam banyak kasus, kekerasan dipicu oleh akumulasi emosi negatif seperti marah, putus asa, atau rasa dipermalukan yang lama dipendam.
“Tekanan psikologis yang terus menumpuk tanpa ruang aman untuk mengekspresikan emosi dapat memicu tindakan ekstrem,” ujarnya.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai
Vera mengingatkan orangtua dan pendidik untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain ledakan marah yang makin sering dan berat, merusak barang, serta mengancam orang lain.
Penurunan empati secara drastis, sikap kejam terhadap hewan atau teman, obsesi pada tema kekerasan, hingga fantasi balas dendam juga menjadi sinyal risiko serius.
Selain itu, anak bisa menarik diri secara ekstrem, sulit fokus di sekolah, atau mulai membenarkan tindakan kekerasan melalui tulisan maupun unggahan di media sosial.
Riwayat kekerasan dalam rumah tangga yang tidak tertangani juga memperbesar potensi terjadinya kekerasan lanjutan.
Lingkungan emosional yang aman jadi kunci
Menurut Vera, lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam mencegah kekerasan pada anak.
Anak yang merasa tidak aman secara emosional, tidak diterima, dan tidak memiliki keterampilan mengelola emosi akan lebih mudah memilih kekerasan sebagai jalan keluar.
Sebaliknya, kehangatan emosional, batasan yang konsisten, serta pendampingan orangtua yang memadai merupakan faktor pelindung yang kuat.
Paparan konten kekerasan bukan satu-satunya penyebab
Terkait pengaruh gim, tontonan, atau media sosial yang mengandung unsur kekerasan, Vera menegaskan bahwa faktor tersebut bukan penyebab tunggal, tetapi dapat menjadi penguat.
“Paparan konten kekerasan dapat memperburuk kondisi bila anak sudah memiliki faktor risiko lain, seperti impulsivitas, trauma, konflik keluarga, dan kurangnya supervisi,” jelasnya.
Penanganan dan pencegahan
Jika anak menunjukkan perilaku agresif, langkah awal yang penting adalah mengamankan situasi.
Orangtua perlu memisahkan anak dari target kekerasan, menyingkirkan benda berbahaya, serta menurunkan stimulus yang memicu emosi.
Saat emosi anak memuncak, orangtua disarankan tidak merespons dengan teriakan atau adu kuasa.
“Tujuannya bukan untuk menang, tetapi untuk meredakan emosi anak,” kata Vera.
Setelah kondisi lebih tenang, orangtua dapat mengajak anak berbicara dengan lebih banyak mendengar, lalu bersama-sama mencari solusi.
Untuk pencegahan jangka panjang, Vera menyarankan orangtua melatih anak mengenali dan menyebutkan emosinya, mengajarkan respons alternatif yang sehat, menerapkan batasan konsisten dengan konsekuensi logis, serta memperkuat koneksi emosional melalui waktu bersama yang rutin.
Pengaturan penggunaan media dengan pendampingan juga menjadi langkah penting.
Tag: #belajar #dari #kasus #anak #bunuh #medan #psikolog #jelaskan #alasan #anak #bertindak #ekstrem