8 Alasan Ilmiah Seseorang Berselingkuh Menurut Psikologi: Kerap Diabaikan?
- Secara psikologis, perselingkuhan dipicu oleh berbagai faktor dan jarang karena alasan tunggal.
- 8 alasan utama termasuk kemarahan terpendam, harga diri yang rendah, dan pengabaian emosional oleh pasangan.
- Solusi utama adalah komunikasi yang jujur dan terbuka, sebab banyak perselingkuhan berakar dari masalah emosional yang tidak tersampaikan.
Perselingkuhan menjadi salah satu penyebab utama retaknya hubungan, baik dalam pacaran maupun pernikahan. Banyak orang bertanya-tanya, mengapa seseorang yang sudah memiliki pasangan tetap memilih untuk berselingkuh. Padahal, setiap hubungan dibangun atas dasar kepercayaan dan komitmen.
Melansir dari laman Brides, secara psikologis, perselingkuhan tidak selalu terjadi karena satu faktor tunggal. Ada berbagai alasan emosional, mental, hingga situasional yang mendorong seseorang untuk melanggar kesetiaan dalam hubungan. Faktor-faktor ini sering kali saling berkaitan dan berkembang seiring waktu.
Berdasarkan berbagai kajian psikologi hubungan, terdapat beberapa alasan utama mengapa orang melakukan perselingkuhan. Berikut penjelasan lengkapnya.
Perbesarilustrasi selingkuh (pixabay)1. Kemarahan yang Terpendam
Salah satu alasan seseorang berselingkuh adalah kemarahan terhadap pasangan. Perasaan marah yang tidak tersampaikan dapat berubah menjadi tindakan impulsif.
Alih-alih membicarakan masalah secara terbuka, sebagian orang memilih mencari pelampiasan dengan orang lain.
Perselingkuhan dijadikan bentuk balas dendam atas luka emosional yang dirasakan.
2. Harga Diri yang Rendah
Rendahnya rasa percaya diri juga menjadi faktor kuat terjadinya perselingkuhan. Individu dengan self-esteem rendah sering membutuhkan validasi dari luar.
Perhatian dari orang lain dapat memberi dorongan kepercayaan diri sementara. Namun, dalam jangka panjang, perselingkuhan justru memperburuk perasaan bersalah.
3. Kurangnya Rasa Cinta dalam Hubungan
Ketika rasa cinta mulai memudar, sebagian orang merasa kehilangan koneksi emosional. Hal ini bisa terjadi setelah fase awal hubungan yang penuh euforia berakhir.
Alih-alih menerima perubahan alami dalam hubungan, beberapa orang mencari kembali perasaan jatuh cinta tersebut melalui hubungan dengan orang lain.
4. Komitmen yang Lemah
Komitmen menjadi fondasi utama dalam hubungan jangka panjang. Ketika seseorang tidak sepenuhnya berkomitmen, godaan dari luar menjadi lebih sulit dihindari.
Kurangnya komitmen membuat seseorang lebih mudah membuka peluang untuk menjalin hubungan lain tanpa mempertimbangkan dampaknya.
5. Kebutuhan akan Variasi dan Sensasi Baru
Hubungan yang sudah berjalan lama terkadang terasa monoton. Rutinitas yang berulang bisa memicu rasa bosan jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang sehat.
Sebagian orang mencari variasi dan sensasi baru melalui perselingkuhan, meskipun hal ini bukan solusi yang sehat bagi hubungan.
6. Pengabaian Emosional
Setiap individu memiliki kebutuhan emosional yang perlu dipenuhi dalam hubungan. Ketika seseorang merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau tidak dipahami, rasa kesepian bisa muncul.
Pengabaian emosional sering mendorong seseorang mencari kenyamanan dari pihak lain yang dianggap lebih perhatian.
7. Ketidakpuasan Seksual
Kebutuhan fisik juga memegang peran penting dalam hubungan. Ketika salah satu pihak merasa tidak puas secara seksual, masalah ini dapat memicu konflik tersembunyi.
Jika tidak dibicarakan secara terbuka, ketidakpuasan tersebut bisa mendorong seseorang mencari pemenuhan di luar hubungan.
8. Faktor Situasi dan Kesempatan
Dalam beberapa kasus, perselingkuhan terjadi bukan karena niat awal, tetapi karena situasi yang memungkinkan.
Lingkungan tertentu dapat memperbesar peluang terjadinya hubungan terlarang. Kurangnya batasan pribadi dan hubungan jarak jauh dapat memperbesar risiko perselingkuhan.
Tag: #alasan #ilmiah #seseorang #berselingkuh #menurut #psikologi #kerap #diabaikan