Sama-sama Bikin Orang Merasa Bersalah, Ketahui Perbedaan Gaslighting dan Guilt Tripping
- Ada beberapa perilaku yang berada di bawah kategori manipulasi, misalnya saja gaslighting dan guilt tripping, yang mana dua istilah itu sedang sering digunakan dalam obrolan sehari-hari.
Menurut pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi. Psikolog, keduanya sama-sama bertujuan untuk membuat orang lain merasa bersalah.
“Gaslighting dan guilt tripping memang agak-agak mirip, yang membedakan adalah tujuannya,” ujar psikolog klinis ini saat dihubungi pada Selasa (16/12/2025).
Perbedaan gaslighting dan guilt tripping
Gaslighting dan tujuannya
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang dapat membuat orang lain merasa bersalah, bahkan sampai meragukan diri sendiri.
“Gaslighting tujuannya adalah supaya orang lain jadi yang mengambil tanggung jawab atas terjadinya permasalahan tersebut, walaupun sebetulnya yang membuat masalah itu adalah diri sendiri, tapi justru melimpahkannya ke orang lain,” terang Fitri.
Lebih lanjut, psikolog Niro Feliciano, LCSW, dalam pemberitaan Kompas.com pada Rabu (17/9/2025) menuturkan, pelaku gaslighting sering berbohong dan meragukan realitas korban, sehingga korban mulai mempertanyakan pengalaman dan persepsi mereka.
Inilah mengapa korban bisa meragukan diri sendiri lantaran mereka meragukan ingatan, kewarasan, dan kemampuan untuk membedakan fakta.
Mereka bisa mengalami ketidakamanan yang mendalam, penurunan rasa percaya diri, dan mulai bergantung pada pelaku untuk mengonfirmasi persepsi mereka sendiri.
“Jadi, gaslighting itu supaya bikin orang lain merasa bersalah dan berasa bertanggung jawab terhadap situasi atau masalah yang lagi dihadapi,” sambung Fitri.
Guilt tripping dan tujuannya
Sementara itu, guilt tripping atau guilt trip menurut kamus Bahasa Inggris Merriam-Webster, Rabu (17/12/2025), adalah upaya seseorang untuk membuat orang lain merasa bersalah.
Bisa pula diartikan sebagai upaya memanipulasi orang lain untuk menimbulkan perasaan bersalah pada mereka, atau perasaan bersalah yang timbul akibat perilaku orang lain.
“Guilt tripping juga tujuannya untuk bikin orang lain merasa bersalah, tapi ditambah dengan supaya orang itu bisa melakukan apapun yang si pelaku mau,” tutur Fitri.
Sebagai contoh, A dan B adalah sepasang kekasih. A menginginkan sesuatu, tetapi B masih ragu. Namun, A mengatakan, “Kalau kamu sayang sama aku, kamu seharusnya mau melakukan ini”.
Lantaran B merasa tertekan dan terbebani, ditambah dengan perasaan bersalah karena mengira penolakannya menandakan bahwa dirinya tidak menyayangi A, si B akhirnya menyetujui keinginan A.
“Jadi, gaslighting itu membuat orang merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab. Kalau guilt tripping, membuat orang merasa bersalah supaya menuruti keinginan dari si pelaku,” terang Fitri.
Sama-sama bentuk manipulasi
Fitri menerangkan, baik gaslighting maupun guilt tripping, dan bahkan perilaku playing victim, adalah perilaku yang berada di bawah payung manipulasi.
Ketiganya memiliki benang merah berupa perilaku untuk memengaruhi orang lain. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan. Mengapa seseorang memiliki sifat manipulatif?
Pola asuh
Fitri menerangkan, salah satu penyebab seseorang memiliki sifat manipulatif yang bisa membuat mereka melakukan gaslighting, guilt tripping, atau playing victim, adalah pola asuh.
“Misalnya karena ada perilaku kompetitif di dalam keluarga itu, seperti sibling rivalry atau persaingan kakak-adik,” ucap dia.
Keluarga yang “memelihara” persaingan antara kakak dan adik, bisa membuat salah satu pihak terbiasa dengan tidak mendapatkan perhatian atau sesuatu yang diinginkan.
Alhasil, ia mengembangkan perilaku manipulatif di luar lingkup keluarga untuk mendapatkan apa yang tidak bisa didapatkan dari keluarganya.
“Misalnya ketika dia ingin diterima di dalam suatu kelompok tertentu, dan ternyata dia sulit untuk diterima, dia berusaha untuk memainkan kata-kata untuk memanipulasi, sehingga dia bisa diterima di kelompok tersebut,” jelas Fitri.
Pekerjaan
Cara manusia berperilaku sangat dipengaruhi dari apa yang dilihat dan dipelajari dari lingkungan sekitar, salah satunya lingkungan pekerjaan.
Perihal manipulatif, tidak dapat dipungkiri bahwa sifat ini bisa saja “dipelajari” oleh seseorang yang pekerjaannya berkaitan dengan “memanipulasi” orang lain, alias pekerjaan yang membutuhkan keahlian untuk memengaruhi orang lain.
“Dengan tugas dalam pekerjaan yang seperti itu, otomatis kita juga mengembangkan diri untuk memiliki trik-trik tentang bagaimana cara untuk memengaruhi orang. Itu tanpa sadar berkembang menjadi sifat manipulatif di dalam diri kita,” tutur Fitri.
Contoh perilaku gaslighting
Ada beberapa contoh perilaku yang termasuk sebagai gaslighting. Di antaranya adalah jenis koersi dan trivializing.
Pertama adalah perilaku gaslighting jenis koersi, yakni perilaku yang melibatkan paksaan atau ancaman, baik verbal, emosional, fisik, maupun finansial.
Contohnya adalah teman yang cemburu memilih diam setiap kali kamu menghabiskan waktu dengan orang lain.
Ada pula jenis trivializing atau meremehkan perasaan korban, misalnya dengan mengatakan, “Kamu terlalu sensitif” atau, “Kamu gila”.
Jenis trivializing bisa terjadi dalam ranah pekerjaan. Contohnya adalah ketika kamu meminta untuk dibayar lembur, tetapi bos meresponsnya dengan menyindir. “Apakah kamu pikir kamu lebih baik dari yang lain”.
Contoh perilaku guilt tripping
Disadur dari VeryWell Mind, beberapa contoh perilaku yang termasuk guilt tripping adalah ketika seseorang mengatakan bahwa orang lain tidak bekerja sekeras mereka.
Bisa pula ketika seseorang membawa-bawa kesalahan yang pernah kamu perbuat di masa lalu untuk membuatmu semakin merasa bersalah, dan selalu mengungkit apa yang telah mereka perbuat terhadapmu.
Selanjutnya adalah bertingkah seolah-olah sedang marah tetapi menyangkal bahwa ada masalah, dan memberikan komentar sarkastik terhadap upaya atau kemajuanmu dalam melakukan sesuatu.
Tag: #sama #sama #bikin #orang #merasa #bersalah #ketahui #perbedaan #gaslighting #guilt #tripping