Benarkah Mencium Bau Kentut Pasangan Bikin Hubungan Makin Intim? Jangan Buru-Buru Denial, Ini Penjelasan Psikologisnya
Ilustrasi pasangan yang intim. (Freepik)
01:28
6 April 2025

Benarkah Mencium Bau Kentut Pasangan Bikin Hubungan Makin Intim? Jangan Buru-Buru Denial, Ini Penjelasan Psikologisnya

- Mencium bau kentut pasangan terdengar janggal, bahkan lucu bagi sebagian orang. Namun di balik keanehan itu, tersembunyi satu pertanyaan menarik: mungkinkah hal seintim dan “pribadi” ini justru mempererat hubungan?

Walau tidak ada riset eksplisit dari psikologi yang membahas efek mencium bau kentut pasangan secara langsung, konsep-konsep psikologi hubungan menawarkan penjelasan menarik mengenai bagaimana penerimaan terhadap aspek alami pasangan bisa memperkuat ikatan emosional.

Salah satu dasar teoritis yang bisa menjelaskan fenomena ini adalah teori attachment style. Dalam psikologi hubungan, seseorang yang memiliki gaya kelekatan aman (secure attachment) cenderung mampu menerima pasangan apa adanya, termasuk sisi-sisi yang mungkin memalukan atau tidak ideal—seperti kentut.

Penerimaan terhadap hal-hal ini menunjukkan tingkat kenyamanan tinggi dalam hubungan. Mencium bau kentut, jika dilakukan tanpa jijik atau marah, bisa menjadi simbol penerimaan total terhadap pasangan, termasuk aspek biologisnya yang paling manusiawi.

Lebih lanjut, aspek komunikasi juga memegang peranan penting dalam hubungan yang sehat.

Penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga menekankan bahwa assertiveness atau keterbukaan dalam mengungkapkan diri, berkaitan erat dengan kepuasan hubungan romantis.

Jika pasangan merasa cukup nyaman untuk bersikap terbuka—termasuk kentut di hadapan satu sama lain—itu bisa menjadi indikator keintiman dan kepercayaan tinggi.

Bahkan, membicarakan hal ini dengan santai bisa memancing tawa dan memperkuat rasa humor bersama dalam hubungan.

Konsep Love Language atau bahasa cinta, sebagaimana dijelaskan oleh Gary Chapman dan dibahas dalam kanal Psikologi UGM, juga dapat digunakan untuk memahami dinamika ini.

Salah satu bentuk bahasa cinta adalah Quality Time—yang tidak selalu berarti makan malam mewah atau liburan ke luar kota, tapi bisa juga berarti berbagi momen sehari-hari yang sederhana dan jujur, termasuk kebiasaan biologis yang unik.

Ketika pasangan bisa tertawa bersama atau saling memahami dalam situasi seperti ini, mereka sedang membangun kedekatan emosional yang tidak dibuat-buat.

Selain itu, adanya penerimaan terhadap bau tubuh atau aroma pasangan sebenarnya sudah cukup banyak dibahas dalam konteks psikologi evolusioner.

Meski tidak spesifik tentang kentut, aroma tubuh secara umum diyakini memiliki peran dalam memperkuat ikatan antarindividu.

Dalam ikatan pasangan, aroma dapat menciptakan perasaan akrab, nyaman, dan aman. Ini berkaitan dengan bagaimana otak manusia mengasosiasikan aroma dengan pengalaman emosional.

Hubungan yang awet biasanya ditandai dengan adanya ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Ketika seseorang bisa kentut di hadapan pasangannya tanpa rasa takut dihakimi, itu menunjukkan bahwa hubungan tersebut sudah mencapai tingkat kenyamanan yang tinggi.

Ini adalah bentuk “keintiman tanpa kata”—di mana kedua belah pihak merasa cukup aman untuk membiarkan diri mereka tampil sejujur-jujurnya, bahkan dalam kondisi yang tidak ideal.

Kesimpulannya, memang belum ada kajian ilmiah resmi dari kanal psikologi akademik yang secara langsung meneliti efek mencium bau kentut pasangan.

Tapi, konsep-konsep seperti keterikatan emosional, komunikasi terbuka, dan penerimaan penuh dalam relasi menunjukkan bahwa keintiman semacam ini bisa menjadi penanda kedalaman hubungan.

Jadi, kentut pasangan bukan tentang baunya. Tapi tentang seberapa nyaman kita bisa mencintai seseorang bahkan dalam versi paling “manusia”-nya.

Editor: Bayu Putra

Tag:  #benarkah #mencium #kentut #pasangan #bikin #hubungan #makin #intim #jangan #buru #buru #denial #penjelasan #psikologisnya

KOMENTAR