8 Perilaku yang Sebaiknya Ditinggalkan Jika Anda Ingin Anak-anak Tetap Menghormati Anda Saat Mereka Dewasa, Menurut Psikologi
Ilustrasi orang tua dan anak. (freepik)
10:50
26 Februari 2025

8 Perilaku yang Sebaiknya Ditinggalkan Jika Anda Ingin Anak-anak Tetap Menghormati Anda Saat Mereka Dewasa, Menurut Psikologi

 

JawaPos.Com - Mengasuh anak bukanlah tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka.

Oleh karenanya, menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan.

Salah satu harapan terbesar orang tua adalah mendapatkan penghormatan dan kasih sayang dari anak-anak mereka, bahkan setelah mereka tumbuh dewasa.

Namun tanpa disadari, ada perilaku-perilaku tertentu yang dapat merusak hubungan ini dan membuat anak-anak menjauh ketika mereka dewasa.

Ya, menjaga hubungan yang sehat dan penuh hormat dengan anak-anak di masa dewasa bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan, melainkan hasil dari pola asuh yang diterapkan sejak kecil.

Oleh karenanya, menghindari beberapa perilaku berikut ini, orang tua diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan penuh kasih dengan anak-anak mereka.

Alhasil, saat anak-anak tumbuh dewasa mereka tetap menghormati dan menghargai orang tua mereka bahkan ketika sudah dewasa.

Seperti dilansir Geediting.com, berikut adalah delapan perilaku yang sebaiknya dihindari agar anak-anak tetap menghormati Anda seiring bertambahnya usia mereka.

1. Mengabaikan Perasaan Anak

Anak-anak memiliki perasaan yang sama validnya dengan orang dewasa. Namun, sering kali orang tua mengabaikan emosi mereka dengan alasan bahwa mereka masih kecil dan belum memahami dunia.

Ketika seorang anak merasa sedih, marah, atau kecewa, penting bagi orang tua untuk mendengarkan dan mengakui perasaan mereka.

Mengabaikan emosi anak hanya akan membuat mereka merasa tidak dihargai dan cenderung menutup diri dari orang tua di masa depan.

Sebagai contoh, ketika seorang anak pulang dari sekolah dengan wajah murung dan menceritakan bahwa temannya tidak mau bermain dengannya, mengabaikan atau meremehkan perasaannya dengan mengatakan, "Ah, itu hanya masalah kecil," dapat membuat anak merasa tidak didengar.

Sebaliknya, mendengarkan dan menunjukkan empati akan membuat anak merasa dihargai dan lebih terbuka dalam berbagi perasaan di masa depan.

2. Memberikan Hukuman Tanpa Penjelasan

Disiplin adalah bagian penting dalam membesarkan anak, tetapi memberikan hukuman tanpa memberikan penjelasan hanya akan menimbulkan kebingungan dan perasaan tidak adil.

Anak-anak perlu memahami mengapa suatu tindakan dianggap salah agar mereka bisa belajar dari kesalahan tersebut.

Misalnya, jika seorang anak mendapat hukuman karena pulang terlambat, tetapi orang tua tidak menjelaskan alasan mengapa itu salah, anak mungkin hanya akan merasa dihukum tanpa belajar konsekuensinya.

Sebaliknya, menjelaskan risiko dan bahaya yang dapat terjadi jika pulang terlambat akan membantu anak memahami pentingnya aturan tersebut.

3. Mengontrol Semua Aspek Kehidupan Anak

Banyak orang tua merasa bahwa mereka tahu yang terbaik untuk anak-anak mereka dan berusaha mengontrol segala aspek kehidupan mereka, mulai dari pilihan teman, hobi, hingga karier.

Namun, sikap yang terlalu mengontrol ini dapat membuat anak merasa terkekang dan tidak memiliki ruang untuk berkembang secara mandiri.

Seorang anak yang selalu dikontrol tanpa diberi kebebasan untuk memilih sendiri cenderung tumbuh dengan perasaan tidak percaya diri dan takut mengambil keputusan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan bimbingan tanpa terlalu mengendalikan, sehingga anak dapat belajar mandiri dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

4. Tidak Konsisten dalam Bersikap

Konsistensi dalam pola asuh sangat penting dalam membangun rasa aman pada anak.

Ketika orang tua bersikap tidak konsisten, misalnya hari ini memperbolehkan sesuatu tetapi besok melarangnya tanpa alasan yang jelas, anak akan merasa bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya diharapkan dari mereka.

Misalnya, jika orang tua terkadang membolehkan anak bermain gadget sepuasnya, tetapi di lain waktu memarahinya karena bermain terlalu lama tanpa memberikan aturan yang jelas, anak akan merasa frustasi dan tidak memahami batasan yang sebenarnya.

Menetapkan aturan yang jelas dan konsisten akan membantu anak belajar disiplin dengan lebih baik.

5. Bersikap Kasar atau Menggunakan Kekerasan

Kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam pada anak.

Kata-kata kasar, teriakan, atau bahkan pukulan dapat membuat anak merasa takut dan tidak dihargai.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan cenderung mengalami masalah emosional dan memiliki hubungan yang sulit dengan orang tua mereka ketika dewasa.

Sebagai gantinya, orang tua sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih lembut dalam mendisiplinkan anak, seperti berbicara dengan nada tenang dan memberikan contoh yang baik dalam mengelola emosi.

6. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

"Lihat kakakmu, dia lebih pintar dari kamu," atau "Kenapa kamu tidak bisa seperti temanmu yang selalu mendapat nilai bagus?" adalah contoh perbandingan yang sering dilakukan orang tua tanpa sadar.

Namun, membandingkan anak dengan orang lain hanya akan membuat mereka merasa tidak cukup baik dan kehilangan rasa percaya diri.

Setiap anak unik dan memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Sebagai orang tua, lebih baik fokus pada kelebihan anak dan membantunya mengembangkan potensinya tanpa harus merasa dibandingkan dengan orang lain.

7. Mengabaikan Kehadiran Anak

Kehadiran fisik orang tua bukan satu-satunya hal yang penting bagi anak, tetapi juga kehadiran emosional.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau gadget mereka sendiri sering kali tidak menyadari bahwa anak-anak mereka merasa diabaikan.

Misalnya, seorang anak yang berusaha menunjukkan gambar hasil karyanya kepada orang tua, tetapi hanya mendapat tanggapan singkat tanpa perhatian penuh, akan merasa bahwa keberadaannya tidak begitu penting.

Mengalokasikan waktu berkualitas bersama anak, seperti berbicara dari hati ke hati atau bermain bersama, sangat penting untuk membangun kedekatan emosional.

8. Tidak Memberikan Teladan yang Baik

Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka. Jika orang tua ingin anak mereka tumbuh menjadi individu yang menghormati orang lain, jujur, dan bertanggung jawab, mereka harus menunjukkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, jika seorang orang tua sering membohongi anak dengan alasan kecil seperti, "Nanti kita beli mainan kalau kamu diam," tetapi kemudian tidak menepati janji, anak akan belajar bahwa berbohong adalah hal yang biasa.

Oleh karena itu, memberikan contoh yang baik dalam berkata dan bertindak adalah salah satu cara terbaik untuk membimbing anak menjadi pribadi yang baik.

***

 

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #perilaku #yang #sebaiknya #ditinggalkan #jika #anda #ingin #anak #anak #tetap #menghormati #anda #saat #mereka #dewasa #menurut #psikologi

KOMENTAR