



Kisah Keturunan Arab yang Dijuluki Menteri Diplomasi Publik Israel, Dianggap Pengkhianat Tapi Bangga
Pria berusia 39 tahun yang hanya memiliki satu kaki ini dijuluki sebagai Menteri Diplomasi Publik Israel de facto. Salah satu kakinya harus diamputasi setelah berperang melawan Hizbullah dalam perang Lebanon II.
Meskipun dirinya adalah keturunan Arab, Yusef mantan anggota pasukan elit IDF Golani itu terus mengkampanyekan membela tanah kelahirannya ketimbang Palestina seperti yang diperjuangan bangsa Arab lainnya di luar negeri.
Karena kondisi badannya tersebut, pria 39 tahun ini tak mampu berperang membela negaranya sebagai tentara cadangan.
Akan tetapi Hadad terus melakukan kampanye untuk Israel. Ia sering keluar masuk studio dan berdebat dengan para aktivis anti zionis yang pro Palestina.
Dia berkeliling dunia dengan ceramah yang mempromosikan Israel, yang mana dia sering dikecam dan ditegur. Bahkan ia sering bentrok dengan mereka hingga disebut sebagai pengkhianat.
Namun semakin sering terjadi perang di Gaza, semakin sulit untuk membenarkan tindakan tersebut.
Jumlah korban di Gaza telah melampaui 30.000 orang. Ribuan orang lainnya terluka, banyak lainnya yang belum ditemukan, sementara 80 persen bangunan hancur sebagian atau seluruhnya. Lebih dari satu juta warga Gaza menjadi pengungsi internal.
Tindakan beberapa tentara IDF juga tidak membantu upaya advokasi Hadad. Sejak awal perang pada 7 Oktober 2023, media sosial dipenuhi dengan video viral yang menunjukkan pejuang Israel merusak furnitur, menjarah properti, dan mempermalukan warga sipil – tindakan yang menimbulkan kegemparan internasional.
Hadad mengutuk tindakan orang-orang ini, yang “bertentangan dengan moral IDF” dan yakin mereka akan dituntut dan dihukum atas tindakan mereka.
“Kami adalah negara kecil berpenduduk sembilan juta orang dan hampir setiap keluarga di Israel terkena dampak peristiwa 7 Oktober. Jadi beberapa tentara bertindak karena marah dan keinginan untuk membalas dendam. Sangat disayangkan tetapi merupakan reaksi yang wajar,” Kata Hadad dalam wawancara telepon dengan koresponden Russia Today Elizabeth Blade.
“Namun, penting untuk diingat bahwa semangat IDF – dari prajurit berpangkat paling rendah hingga perwira tertinggi – berbeda. Kami dianggap sebagai salah satu tentara paling bermoral di dunia dan kami melakukan yang terbaik untuk tidak merugikan warga sipil.”
Namun statistik menunjukkan gambaran yang berbeda. Dari 30.000 orang yang tewas di Gaza, 10.000 di antaranya adalah teroris menurut IDF. 20.000 sisanya adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Namun Hadad mengatakan media – yang umumnya memusuhi Israel – salah arah oleh informasi yang diberikan oleh Hamas.
“Ketika saya memberi tahu mereka bahwa IDF membunuh 10.000 teroris, mereka tidak mempercayai saya. Namun mereka terus mengutip angka-angka dari kementerian kesehatan Palestina yang dikendalikan oleh kelompok teror Hamas. Maksudnya itu apa? Apakah mereka lebih percaya pada kelompok teror daripada salah satu tentara paling bermoral di dunia? Ini adalah kemunafikan,” alasan aktivis tersebut.
Hadad percaya bahwa pendekatan bias terhadap Israel ini merugikan kredibilitas jaringan berita yang “tidak memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada pemirsanya” tentang kenyataan di lapangan.
Mereka tidak berbicara tentang hidup berdampingan antara Yahudi dan Arab yang ada di Israel. Mereka juga tidak menyebutkan bahwa mayoritas warga Arab Israel menentang Hamas dan kejahatannya yang mengerikan.
Upayanya membela Israel tersebut membuat ia tidak aman. Times of Israel memberitakan jika Hadad pernah diserang oleh beberapa seorang saat ia bersama keluarganya di Dubai.
Ia mengaku diserang secara fisik dan verbal oleh “beberapa orang dari komunitas saya” saat mereka naik pesawat menuju Bandara Ben Gurion, mengakibatkan lengan ibunya terluka hingga memerlukan perban. Dia menuduh kelompok tersebut “menyerang kami hanya karena siapa saya, pandangan saya dan pekerjaan saya untuk Negara Israel.”
“Saya ingin semua penyerang dan orang lain yang berpikir mereka akan menghentikan saya melalui kekerasan dan intimidasi mengetahui bahwa meskipun Anda, saya akan terus melanjutkan dengan seluruh kekuatan saya,” tulis Haddad dalam postingan di akun media sosialnya.
“Anda tidak akan menghentikan saya dan Anda hanya membuat saya semakin kuat,” tambahnya.
Bangga Jadi IDFYusef Hadad adalah salah satu pemuda keturunan Arab yang pertama-tama masuk IDF yaitu pada 2003 lalu. Meskipun hal itu tidak lazim, dan keturunan Arab tidak wajib ikut bergabung dengan IDF.
Ia bergabung dengan unit tempur elit, Golani, dan tiga tahun kemudian dikirim berperang melawan Hizbullah dalam perang Lebanon II.
Nahas, dalam peperangan tersebut kakinya tertembak dan ia harus merelakan kakinya tersebut diamputasi.
Meski demikian, Yusef Hadad mengaku tidak menyesal dan bahkan merasa bangga telah membela negaranya, Israel.
Saat bertempur di IDF, dia terluka dan kehilangan satu kaki tetapi mengatakan dia tidak pernah menyesal mengabdi pada Negara Israel.
“Alasan saya memutuskan untuk pergi dan mengabdi adalah karena tentara kami disebut IDF, artinya Pasukan Pertahanan Israel, bukan JDF, Pasukan Pertahanan Yahudi. Militer ini diperuntukkan bagi semua orang dan melindungi kita semua, baik orang Yahudi maupun Arab. Jadi dengan mengabdi di sana, saya tidak hanya melayani komunitas saya tetapi juga seluruh bangsa Israel.”
Mengingat hari-harinya berseragam, Hadad mengatakan dia menghadapi reaksi beragam. Dia kadang-kadang diintimidasi, dilecehkan, dan disebut pengkhianat karena mengabaikan perjuangan Palestina dan karena berpihak pada orang-orang yang dianggap sebagai penjajah. Namun orang-orang seperti itu, katanya, tidak pernah berhasil mematahkan tekad dan semangatnya.
“Saya tidak pernah malu dengan keputusan saya, dan setiap pulang dari pangkalan, saya selalu mengenakan seragam, dan saya ingat anak-anak sering mendekati saya untuk bertanya,” katanya melalui telepon.
“Pada masa itu, perbuatanku unik. Di keluarga saya sendiri, saya adalah orang pertama yang melakukannya. Tapi saya membuka jalan itu bagi banyak orang. Kakak saya mendaftar langsung setelah saya,” tambahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak warga Arab Israel yang memilih militer. Meskipun pada tahun 2018 dan 2019, masing-masing hanya 436 dan 489 orang Arab yang bertugas di IDF, pada tahun 2020 lebih dari 600 orang mengenakan seragam tersebut.
Pada tahun 2021, jumlah tentara Arab telah mencapai lebih dari seribu, termasuk di unit tempur, sementara perang yang berkecamuk di Gaza menambah jumlah tersebut.
Saat in diperkirakan jumlah serdadu Arab Israel jauh semakin besar dan kini mencapai ribuan. (Russia Today/Times of Israel)
Tag: #kisah #keturunan #arab #yang #dijuluki #menteri #diplomasi #publik #israel #dianggap #pengkhianat #tapi #bangga