Dampak Perang Iran Kian Terasa di Indonesia, Kenapa Harga Plastik Naik Tinggi?
ilusrasi pedagang plastik. Alasan kenapa harga plastik naik imbas perang Iran?(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar via BBC Indonesia)
13:42
6 April 2026

Dampak Perang Iran Kian Terasa di Indonesia, Kenapa Harga Plastik Naik Tinggi?

 - Sebagian pedagang kecil di Indonesia terpaksa memangkas keuntungan karena kenaikan harga plastik yang pasokan bahan bakunya terganggu konflik di Timur Tengah. Mereka mengaku harus "mengalah" agar tidak membebani pengeluaran masyarakat.

Harga bahan baku plastik, yaitu nafta (senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi) naik hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir.

Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50 persen. Di sisi lain, perusahaan yang bergerak dalam rantai industri petrokimia dan plastik mengatakan sedang dalam "mode bertahan".

Baca juga: Antisipasi Krisis BBM Imbas Perang, PM Italia Safari ke Negara Teluk

Pemerintah sedang mengupayakan sumber pasokan bahan baku plastik di luar negara-negara Timur Tengah.

Selain plastik, sejumlah harga barang lain seperti suplemen, obat, dan kosmetik juga naik akibat perang di Timur Tengah.

Para ekonom memperingatkan Indonesia dapat diterjang badai PHK dan ancaman inflasi tinggi jika perang yang diawali serangan AS-Israel ke Iran ini berkepanjangan, tanpa diikuti kebijakan yang tepat.

Di sisi lain, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi dampak ekonomi dari perang Timur Tengah. Paket kebijakan ini diklaim bisa menghemat anggaran ratusan triliun rupiah, meskipun efektivitasnya dipertanyakan.

Baca juga: Krisis Energi Parah, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Sebulan


"Pedagang harus mengalah"

Sejumlah pedagang plastik di pasar tradisional di beberapa kota besar menyatakan tak bisa menahan harga lagi, tetapi mereka terpaksa mengambil keuntungan tipis demi menjaga pasar.

Ada pula sejumlah pedagang kecil yang rutin menggunakan plastik yang tetap mempertahankan harga, walau pembeli semakin sepi.

  • Kota Padang

Harga plastik dan beberapa produk turunannya, seperti gelas dan sedotan di Padang, Sumatera Barat, naik hingga 50 persen.

"Kenaikan harganya sejak lebaran lalu dan sampai saat ini harga barang-barang plastik ini harganya tidak turun lagi," kata seorang pedagang minuman keliling di Kota Padang, Meliatrisinta, Kamis (02/04).

Perempuan 29 tahun ini menuturkan, gelas plastik ukuran 16 oz (473 mililiter) biasanya dijual Rp 24.000 per 50 gelas. Sekarang harganya naik jadi Rp29.000.

Gelas plastik ukuran 400 mililiter juga naik dari Rp 14.000 menjadi Rp 21.000.

Baca juga: Berbagai Opsi Selain WFH, Solusi Krisis Energi Saat Perang Iran

Bukan hanya gelas plastik, harga bahan baku dagangan milik Meliatrisinta, seperti gula dan susu kental manis, juga naik. Melia hanya bisa menerima keadaan dan mengambil untung tipis.

"Kalau isinya dikurangi tentu nanti langganan komplain. Apalagi menaikkan harga, pembeli saya biasanya hanya para siswa Sekolah Dasar (SD) yang uang jajannya terbatas," katanya.

Melia mempertahankan harga paling mahal Rp 8.000 dan paling murah Rp 5.000 per gelas.

Tafrizal (58), pedagang minuman keliling lainnya merasakan hal yang sama. Selain harga bahan baku naik, ia berkata jumlah pembeli turun hingga 50 persen.

"Bahkan ada kemarin itu saya hanya membawa pulang uang Rp 60.000. Itu saya sudah mulai berjualan dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB," katanya.

Baca juga: PM Thailand Geram Penjual BBM Main Kotor Saat Krisis, Negara Rugi Rp 26 T

Selain bahan pokok dan plastik, harga obat-obatan yang dijual di apotek-apotek Kota Padang juga mengalami peningkatan sejak beberapa pekan terakhir.

Pengelola apotek di Kota Padang, Debi Septia Nanda mengaku harga beberapa jenis suplemen dan obat naik hingga 15 persen sejak tiga pekan terakhir.

Meski tidak seluruh jenis obat-obatan mengalami peningkatan harga, tapi itu menjadi pertanyaan bagi para pelanggan.

"Biasanya mereka tanya kenapa harganya naik dan kami juga tidak bisa menjelaskan banyak, karena kenaikan harga itu memang sudah dari sananya," kata perempuan 25 tahun ini.

Di kesempatan lain, beberapa toko kosmetik juga mengaku produk yang mereka jual mengalami kenaikan meskipun "tidak terlalu signifikan".

"Kenaikan harganya itu hanya seperti Rp 1.000 hingga Rp 2.000 saja," kata Reska Yuliana, seorang pedagang kosmetik berusia 29 tahun.

"Kosmetik sudah menjadi kebutuhan, terlebih untuk perempuan. Jadi kalaupun harganya naik, mereka akan tetap membeli," ucapnya.

Baca juga: Berkaca Krisis Minyak 1970-an, Apakah Kali Ini Lebih Buruk?

  • Jakarta

Penjual seblak di Jakarta Timur, Sismiati, hanya bisa geleng kepala karena kenaikan harga plastik dan stirofoam.

Musababnya, untuk mengemas makanan dengan citra rasa pedas dan aroma kencur yang kuat ini, ia membutuhkan tiga lapisan pembungkus: Dua plastik kresek dan satu stirofoam.

"Sebelum puasa itu harganya masih Rp 20.000 (isi 100). Nah pas puasa kemarin naik jadi Rp 25.000. Pas lebaran kemarin Rp 35.000, kemarin naik lagi ada yang Rp 40.000," kata Sismiati.

Sismiati berkata, dia harus "mengalah" mengambil keuntungan yang semakin tipis dengan menahan harga dagangannya.

"Kasihan mereka nggak bisa beli. Jadi aku tetap enggak menaikkan (harga)," ujar perempuan yang menjual seblak tiga tahun terakhir.

"Pedagang harus mengalah karena melihat masyarakat juga kebingungan. Mereka gaji enggak naik, (tapi) semua harga serba naik".

Baca juga: China Blak-blakan Sebut AS-Israel Biang Keladi Krisis Selat Hormuz

  • Makassar

Keluhan yang sama disampaikan pedagang di Makassar, Sulawesi Selatan.

Salah satunya adalah Hastina, seorang pedagang kebutuhan berbahan plastik seperti gelas kopi, wadah makanan, hingga kantong plastik di Pasar Pabaeng-Baeng.

Selama berjualan 10 tahun, baru kali ini Hastina mendapat kenaikan harga barang yang begitu mahal.

"Dulu naik cuma Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Sekarang Rp 5.000 atau di atasnya lagi. Seumpama harganya (kantong plastik) Rp3.000, naik Rp 5.000. Jadi Rp 8.000," katanya. Kenaikan harga plastik kresek ini tergantung ukurang.

Sementara barang-barang lain seperti gelas plastik juga mengalami kenaikan harga.

"Saya biasa jual Rp 10.000. Kan modal Rp 8000, jadi untung Rp 2.000. Itu dulu. Kalau sekarang modalnya Rp 12.500, jadi kita mau jual berapa coba? Rp13.500, untung Rp 1.000," ujar Hastina.

Baca juga: Nepal Terhimpit Krisis Energi, Harga Avtur Meroket di Tengah Perang Timur Tengah

Mahalnya harga barang-barang tersebut juga berdampak pada pembeli di pasar, yang semakin berkurang. "Sebenarnya di pasar ini sudah lama berkurang pembeli. Sekarang tambah mahal apa-apa, lebih berkurang lagi," kata Hastina.

Ronny yang berjualan bahan plastik di Pasar Panakkukang, menyiasati menaikkan harga barang secara perlahan dengan stok lama. "Saya sesuaikan dengan stok yang ada," katanya.

Untuk menjaga pasar, penjual grosiran ini pun memilih untuk mengambil "untung tipis".

"Sekarang paling kita cuma bisa untung 10 persen saja dari harga jual karena harga berubah-ubah," katanya.

Pedagang kosmetik dan obat-obatan di Makassar, Irma, mengaku belum merasakan dampak kenaikan harga tapi beberapa obat sempat naik harganya.

"Sebelum lebaran ada kenaikan beberapa biji, tapi yang lain masih sama [harganya]. Naik Rp3.000," katanya.

Baca juga: PNS Malaysia Bakal WFH di Tengah Perang Iran, Berhemat Imbas Krisis BBM

  • Papua

Kenaikan harga sejumlah obat juga mulai terjadi di tingkat apotek di Jayapura, Papua, sejak awal 2026. Meski berlangsung bertahap dan belum signifikan, perubahan ini mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Tenaga Apotek Furia Farma, Della Lestari, mengatakan bahwa tidak semua produk mengalami kenaikan. Namun, beberapa jenis obat terutama yang sering digunakan menunjukkan tren peningkatan harga dalam beberapa bulan terakhir.

Obat bebas seperti vitamin menjadi salah satu yang paling terasa kenaikannya. Selain itu, obat bermerek dan kombinasi seperti obat flu dan batuk juga mengalami peningkatan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis lain.

Obat generik cenderung lebih stabil dan belum mengalami kenaikan mencolok.

"Tidak semuanya naik. Kenaikannya juga bertahap dan masih dalam batas wajar," kata Della.

Di tengah kenaikan harga tersebut, penjualan obat di apotek mulai menunjukkan perlambatan. Della mencatat penurunan jumlah pembelian sejak pertengahan Januari, yang semakin terasa pada Februari hingga awal Maret.

Baca juga: Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?

"Konsumen sekarang lebih selektif, mereka membeli yang benar-benar dibutuhkan," ujarnya. Obat generik menjadi pilihan utama dibandingkan obat bermerek atau paten.

Seorang tenaga farmasi di Papua, Merry Cecillia, menyebut tren kenaikan ini terlihat pada sebagian obat-obatan, meski tidak merata.

"Memang ada kenaikan harga pada beberapa obat. Tidak semuanya naik drastis, tapi cukup terasa dibandingkan sebelumnya," ujarnya.

Menurut Merry, kenaikan harga mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir. Pergerakannya berlangsung perlahan, tanpa lonjakan yang mencolok, namun konsisten.

Meski harga meningkat, kebutuhan terhadap obat tidak banyak berubah. Permintaan tetap ada, terutama bagi pasien yang harus mengonsumsi obat secara rutin. "Walaupun harga naik, pasien tetap membeli karena kebutuhan," kata Merry.

Baca juga: Krisis Minyak Dunia Juga Pernah Terjadi 1970-an, Lebih Parah Mana Dibanding Sekarang?

Begitupun dengan plastik.

Darwis, pedagang plastik di Pasar Fandoi, Biak, Papua mengaku baru satu pekan terakhir terjadi kenaikan harga produk yang ia jual.

Di warungnya, ia menjual berbagai jenis plastik, mulai dari kantong bungkus ikan hingga plastik es, yang menjadi kebutuhan utama pedagang lain di pasar.

Sebelumnya, harga satu bal plastik es berada di kisaran Rp 610.000. Kini, harga tersebut naik menjadi sekitar Rp 640.000. Sementara itu, jenis plastik lain dijual dengan harga bervariasi, antara Rp 35.000 hingga Rp 60.000, tergantung ukuran dan jenisnya.

"Baru satu minggu ini naik," katanya.

Kenaikan harga datang di saat yang tak tepat karena pembeli berkurang. Sebelumnya pria asal Makassar ini bisa menjual hingga tiga ikat plastik ikan per hari, tapi "sekarang satu ikat saja susah habis".

Baca juga: Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi

Mengapa harga plastik mahal?

Ronny, pedagang plastik di Pasar Tradisional Panakkukang menunjukkan barang-barang dagangannya berupa kantong plastik dan wadah makanan berbahan plastik yang mengalami kenaikan harga, Kamis (02/04).BBC Indonesia/Muhammad Aidil Ronny, pedagang plastik di Pasar Tradisional Panakkukang menunjukkan barang-barang dagangannya berupa kantong plastik dan wadah makanan berbahan plastik yang mengalami kenaikan harga, Kamis (02/04).

Oleh karena sebanyak 70 persen nafta di seluruh dunia berasal dari Timur Tengah, pasokannya terganggu sejak Iran diserang AS-Israel pada 28 Februari. Harga bahan baku plastik ini naik hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir.

Per 1 April 2026, harga nafta menyentuh 917 USD/ton dibandingkan Februari sekitar 630 USD/ton. Harga masih sangat dinamis dari hari ke hari.

Dalam industri petrokimia, nafta menjadi bahan baku berbagai macam bahan kimia, seperti butadiena (sarung tangan karet, dan ban).

Produk turunan lainnya adalah etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk rumah tangga lainnya). Dan, propilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan), dan lain-lain.

Meskipun harga BBM domestik masih ditahan pemerintah, biaya produksi sektor industri tetap naik karena bahan baku non-BBM ini tidak dilindungi kebijakan subsidi.

"Artinya itu kan enggak bisa disuplai, dan ketersediaannya enggak jelas kapan bisa di tangan kita," kata Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, Plastik (Inaplas), Kamis (2/4/2026).

Baca juga: Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah

Asosiasi ini memayungi lebih dari 80 industri dan perusahaan yang bergerak pada rantai produksi petrokimia dan plastik. Perusahaan ini berhubungan dengan produk konsumsi rumah tangga seperti kemasan minuman/makanan, kosmetik, elektronik sampai prabotan.

"Kami memang dalam kondisi survival mode [mode bertahan]. Artinya kami mempertahankan utilitas [proses produksi] di kondisi minimum untuk mencukupi kebutuhan lokal," ujar Fajar.

Saat ini, para pengusaha berupaya mencari alternatif sumber nafta lain yaitu Afrika, Asia Tengah dan Amerika Serikat "yang sudah kelihatan akan masuk".

Akan tetapi, sumber alternatif ini bukan tanpa konsekuensi. Pengiriman akan membutuhkan waktu dua kali lipat dari biasanya.

"Waktu pengiriman kalau dari Timur Tengah kan cukup sampai 15 hari. Kalau dari luar Timur Tengah paling cepat itu 50 hari," kata Fajar.

Ia enggan merinci berapa kenaikan harga bahan baku plastik ini. "Yang penting sekarang ada barang," katanya.

Baca juga: Penjualan BYD Meningkat Signifikan di Tengah Isu Krisis Energi

Siasat lain yang sedang dirancang adalah mencari alternatif selain nafta yaitu gas petroleum cair (LPG/propan) yang olahannya bisa menghasilkan resin plastik. Menurut Fajar, harga LPG akan lebih murah pada periode Juni-Agustus dibandingkan nafta.

"Tapi ada tantangan, LPG ini kan selama ini masih digunakan sebagai bahan bakar. Nah sekarang mau kita gunakan sebagai bahan baku," katanya sambil mendorong pemerintah mengurangi bea masuk LPG yang saat ini masih berlaku.

Di sisi lain, perusahaan pengguna plastik perlu melakukan inovasi untuk mengendalikan pemakaiannya, kata Fajar yaitu:

  • Meningkatkan penggunaan material daur ulang
  • Mencari alternatif pengganti plastik, seperti kombinasi dengan kertas atau material lain.
  • Melakukan pengurangan berat atau ukuran kemasan (light weighting) tanpa mengorbankan fungsi perlindungan produk.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) melaporkan harga kemasan plastik naik hingga 50 persen.

Baca juga: Atasi Krisis Energi, Kilang Minyak Filipina Borong 2,5 Juta Barrel Minyak Rusia

Ketua umumnya, Adhi S Lukman, mengatakan bahwa produk di pasar modern atau pusat perbelanjaan sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penyesuaian harga. Di beberapa gerai ritel, kenaikan sudah diterapkan pada sistem kasir meski harga di rak belum sempat diperbarui.

"Ketika ditanya, pihak ritel mengatakan sudah ada pemberitahuan dari produsen bahwa harga produk memang mengalami kenaikan," katanya seperti dikutip Harian Kompas.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengeklaim masih menjajaki pasokan bahan baku plastik dari negara lain, misalnya Afrika, India dan Amerika Serikat. Tapi ia mengakui proses peralihan pasokan ini butuh penyesuaian rantai distribusi.

"Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain," katanya, Rabu (01/04).

Baca juga: Krisis Energi, Lebih dari 400 SPBU di Filipina Tutup Sementara

Selain plastik, barang-barang apa saja yang berpotensi naik harga?

Pangan, farmasi, perangkat elektronik, logam, dan bahan kimia juga terkena imbas kenaikan harga.

  • Pangan

Dalam artikel yang dirilis BBC, ancaman kenaikan harga pangan disebabkan gangguan pasokan pupuk nitrogen yang bahan bakunya berasal dari gas alam.

Perang AS-Israel vs Iran mengancam tiga sektor penting ekonomi.

Negara negara Teluk—eksportir utama pupuk—terdampak penutupan Selat Hormuz, sedangkan China membatasi ekspor pupuknya. Akibatnya, harga pupuk melonjak tajam dan berpotensi menurunkan hasil panen, memicu kenaikan harga pangan dan risiko kelangkaan dalam satu hingga tiga bulan ke depan.

Namun, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, mengatakan pupuk urea di Indonesia tidak terdampak karena diproduksi dalam negeri. Jumlahnya mencapai 8,8 juta ton.

"Insya Allah untuk Indonesia aman, karena ureanya diproduksi dalam negeri," katanya dalam RDP dengan Komisi XI DPR RI, seperti dikutip Detik.com, Kamis (02/04).

Kata Rahmad, setelah konflik Timur Tengah, harga global urea mencapai 800 dollar AS (Rp 13,6 juta) per ton atau naik dua kali lipat dari sebelumnya 400 dollar AS (Rp 6,8 juta) per ton.

Akan tetapi, untuk jenis pupuk seperti fosfat dan potas, kata dia, harganya terdampak karena kenaikan biaya logistik, bukan gangguan produksi global.

Baca juga: Dunia Mulai Irit Parah Imbas Krisis Energi, Ada Negara Batasi Beli BBM 15 Liter

  • Farmasi

Perang merusak infrastruktur logistik di Dubai, pusat distribusi obat obatan global. Gangguan di bandara dan Pelabuhan Jebel Ali menghambat pengiriman obat dan vaksin, terutama dari India sebagai pemasok utama obat generik dunia.

Kondisi ini meningkatkan biaya distribusi dan berisiko menaikkan harga serta mengurangi ketersediaan obat.

Di lapangan, sejumlah harga obat mengalami kenaikan, khususnya suplemen. Meskipun Indonesia masih banyak impor obat, tapi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengklaim ketersediaannya masih aman.

"Kita beruntung, karena beberapa tahun lalu, kita sudah menyiapkan. Jadi, sampai sekarang menurut hitungan-hitungan kita yang tersedia, dari perusahaan-perusahaan besar farmasi kita masih punya kecukupan, jadi InsyaAllah kita tidak akan mengalami kelangkaan obat, termasuk makanan," kata Taruna.

Baca juga: 608 SPBU di Australia Kehabisan BBM akibat Perang Iran, Krisis Terburuk Sejak 1970

  • Tambang, logam, dan elektronik

Pasokan sulfur—bahan penting untuk pupuk, pemrosesan nikel, tembaga, dan semikonduktor—terganggu karena banyak negara Teluk adalah eksportir utama.

Dampaknya sudah terasa di Indonesia, di mana produsen nikel mengurangi produksi akibat kekurangan sulfur, berpotensi mengganggu rantai pasok logam dan perangkat elektronik global.

Inflasi bisa tembus 7 persen dan badai PHK jika krisis Timur Tengah berlanjut

Petugas Dinas Kesehatan Kota Surakarta memeriksa kondisi makanan ringan saat inspeksi mendadak di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/03). Banyak produk kebutuhan rumah tangga yang dikemas dengan plastik.ANTARAFOTO/Maulana Surya via BBC Indonesia Petugas Dinas Kesehatan Kota Surakarta memeriksa kondisi makanan ringan saat inspeksi mendadak di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/03). Banyak produk kebutuhan rumah tangga yang dikemas dengan plastik.

Sepanjang Maret 2025 hingga Maret 2026, inflasi (YoY) menunjukkan tren meningkat dengan lonjakan tajam pada awal 2026. Meski inflasi Maret 2026 kembali turun (3,48 persen), levelnya tetap berada di dekat batas atas target Bank Indonesia (BI) yaitu 3,5 persen.

Ekonom Anthony Budiawan melihat inflasi Indonesia berisiko memasuki fase berkepanjangan. Jika biasanya inflasi mereda setelah Lebaran, kali ini tekanan harga justru berlanjut.

Managing Director dari Political Economy and Policies Studies (PEPS) memperkirakan, inflasi berpotensi menembus 6–7 persen apabila konflik berlangsung lama. Hal ini mencerminkan pergeseran dari inflasi musiman menuju inflasi struktural yang dipicu faktor eksternal.

"Kemungkinan 7 persen saja bisa tuh kalau seandainya konflik ini berlangsung cukup lama, katanya.

Baca juga: Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran

Ia memperkirakan, Indonesia masih mampu menahan dampak konflik jika berlangsung hingga tiga bulan, meski dengan konsekuensi kenaikan beban fiskal dan pemangkasan belanja negara.

Namun, jika konflik berlanjut lebih dari tiga hingga enam bulan, risiko terhadap ekonomi akan meningkat tajam, termasuk kemungkinan kontraksi, berhentinya produksi industri, serta gelombang PHK, terutama di sektor manufaktur padat karya.

"Kalau industri ini sampai tertekan, ini bisa saja terjadi PHK sementara, yang kemudian dianggap sebagai ya akanlah ini terus-menerus baku akan menjadi PHK sungguhan," ujar Anthony.

Anthony berkata, dampak ekonomi tidak otomatis berhenti meskipun perang berakhir. Kerusakan fasilitas produksi energi dan petrokimia di Timur Tengah membuat pemulihan pasokan bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga kelangkaan bahan baku berpotensi berlanjut.

Menurut analis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, inflasi awal 2026 juga dipengaruhi diskon tarif listrik pada 2025.

Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh, WTO Wanti-wanti Krisis Pupuk Dunia

"Pengaruh terbesar inflasi tahunan pada Februari 2026 masih berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah, terutama karena hilangnya efek penurunan tarif listrik yang pada Februari 2025 menekan kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga secara signifikan," tulis LPEM UI.

Dalam simulasinya, LPEM UI mengestimasi setiap kenaikan harga komoditas 10 persen berpotensi meningkatkan inflasi energi sebesar 0,34-0,61 persen dan inflasi keseluruhan 0,03-0,06 persen.

"Dari tabel terlihat bahwa 10 persen peningkatan harga energi akan berdampak kenaikan biaya industri, yang terbesar adalah industri mineral non-logam (bahan galian industri, bahan keramik, bahan bangunan, batu mulia)," kata peneliti LPEM UI, Mohamad Dian Revindo, Kamis (02/04).

LPEM UI juga memperingatkan, APBN akan tekor lebih dari 3 persen apabila konflik Timur Tengah terus berkepanjangan.

"Terlihat bahwa fiskal Indonesia masih mampu bertahan (defisit di bawah 3 persen) jika kondisinya belum mencapai skenario krisis moderat," kata Revindo sambil menunjukkan tabel simulasi.

Baca juga: Ketika Negara Asia Kembali ke Batu Bara di Tengah Krisis Energi...

Apa yang langkah mitigasi dari pemerintah?

Akhir Maret lalu, pemerintah mengeluarkan apa yang disebut "Delapan Butir Kebijakan Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Kebijakan Energi Pemerintah".

Kebijakan efisiensi ini diambil sebagai langkah mitigasi dampak ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Kebijakan ini diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan difokuskan pada penghematan energi serta penurunan konsumsi BBM, yaitu:

  • Kerja dari rumah (WFH) untuk ASN satu hari per minggu (setiap Jumat) diterapkan di instansi pusat dan daerah, disertai transformasi tata kelola berbasis digital.
  • Pembatasan penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen, mendorong transportasi publik, serta memangkas perjalanan dinas dalam negeri 50 persen dan luar negeri 70 persen.
  • Sektor strategis dan layanan publik (kesehatan, energi, industri, pangan, logistik, keuangan) dikecualikan dari WFH dan tetap beroperasi normal.
  • Kebijakan WFH diimbau bagi sektor swasta, dengan pengaturan lanjutan melalui Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan.
  • Membatasi pembelian bensin bersubsidi 50 liter untuk kendaraan pribadi dan memulai kebijakan B50 mulai Juli 2026.
  • Mengubah fokus dan prioritas anggaran belanja kementerian dan lembaga.
  • Program Makan Bergizi Gratis dikurangi menjadi lima hari salam satu pekan (dengan pengecualian tertentu).
  • Pemerintah mendorong hemat energi masyarakat, termasuk efisiensi penggunaan listrik dan BBM serta peningkatan mobilitas cerdas.

Baca juga: Dampak Perang Iran Lebih Mengerikan dari Gabungan 3 Krisis Minyak dalam Sejarah

Menurut hitungan pemerintah, kebijakan ini bisa menghemat anggaran negara hingga Rp 200 triliun.

Mohamad Dian Revindo dari LPEM UI menilai "delapan langkah tersebut adalah suatu sinyal dan gimmick yang bagus".

"Tapi pada tataran dampak ekonomi, perlu dilihat seberapa signifikan dampak tersebut. Misalnya, kita belum tahu pasti apakah WFH justru mendorong aktivitas mobilitas luar kantor yang juga butuh banyak energi," katanya.

Ekonom Anthony Budiawan mengatakan, delapan kebijakan pemerintah merupakan "yang terbaik yang bisa dilakukan".

Namun, sejauh ini ia melihat belum ada daya paksa dari kebijakan tersebut, termasuk rincian transparansi hasil dari kebijakan-kebijakan ini untuk mengukur efektivitasnya.

Selain itu, apapun langkah mitigasi yang dilakukan akan sulit untuk menghadang dampak "faktor geopolitik".

"Yang bisa dilakukan ya mau tidak mau seperti yang sekarang, pengiritan dan penghematan… Jadi yang dikhawatirkan adalah bukan harga menurut saya, tapi kelangkaan produk," kata Anthony.

Tag:  #dampak #perang #iran #kian #terasa #indonesia #kenapa #harga #plastik #naik #tinggi

KOMENTAR