Rupiah dan Rebalancing MSCI Jadi Sentimen IHSG, Ritel Bisa Simak Rekomendasi Saham dari Analis Ini
Ilustrasi IHSG. (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
07:29
13 Mei 2026

Rupiah dan Rebalancing MSCI Jadi Sentimen IHSG, Ritel Bisa Simak Rekomendasi Saham dari Analis Ini

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini Rabu (13/5/2025) mendapatkan sentimen dari rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar AS.

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pelaku pasar masih mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Selain itu, hasil evaluasi MSCI diperkirakan akan memengaruhi aliran dana asing di pasar saham domestik.

Herditya pun memperkirakan level support IHSG berada di 6.815 dan resistensi di 6.87.

Baca juga: Efek Rebalancing MSCI, Waspada Tekanan Jual pada IHSG

“Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.815 dan resistansi 6.879. Dari sisi sentimen investor akan menanti data inflasi AS dan juga rebalancing MSCI,” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (12/5/2026).

Sementara itu Investment Specialist PT Korea Investment dan Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menyebut sektor perbankan cenderung merespons negatif ketika rupiah melemah.

Hal tersebut karena pelebaran spread kurs dapat mendorong institusi asing melakukan penyesuaian portfolio atau rebalancing. Kondisi ini terjadi lantaran saham-saham perbankan memiliki bobot kepemilikan asing yang cukup besar, sehingga ketika risiko nilai tukar meningkat, investor asing cenderung mengurangi eksposur di sektor tersebut.

Tekanan jual asing pun berpotensi membuat pergerakan saham perbankan menjadi lebih volatil.

“Perbankan cenderung merespons negatif, karena spread kurs akan memaksa rebalancing bagi institusi asing yang memiliki weighting besar di saham perbankan,” tukas Faris kepada Kompas.com.

Di sisi lain, selain sektor energi, sektor pulp dinilai menjadi salah satu sektor yang menarik di tengah pelemahan rupiah. Hal ini lantaran mayoritas pendapatan perusahaan pulp diperoleh dalam mata uang dollar AS, sehingga pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai pendapatan ketika dikonversi ke rupiah dan berpotensi menopang kinerja keuangan perusahaan.

“Selain sektor energi, sektor pulp juga menjadi salah satu yang menarik karena revenue perusahaan dalam bentuk dollar AS,” lanjut dia.

Tekanan terhadap rupiah juga bisa memicu panic selling di pasar modal, terutama ketika investor asing mulai khawatir terhadap stabilitas nilai tukar dan risiko ekonomi domestik. Namun, kondisi saat ini dinilai belum tentu separah krisis finansial sebelumnya karena fundamental sektor perbankan Indonesia relatif lebih kuat dibanding periode krisis terdahulu.

Faris menilai tekanan di pasar saham mulai menunjukkan downside yang lebih terbatas jika melihat pergerakan teknikal IHSG. Menurutnya, area indeks di kisaran 6.800-6.900 menjadi level yang cukup sulit ditembus ke bawah.

“Jika dilihat dari price action, area 6.800-6.900 susah ditembus, artinya downside mulai terbatas. Sell shock mungkin akan terjadi pada rebalancing MSCI yang dinantikan pelaku pasar, namun setelah itu akan terjadi reversal price,” katanya. 

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Dampaknya ke Pasar Modal Indonesia

Rekomendasi saham

Lalu saham-saham apa saja yang bisa dicermati investor ritel pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini?

Herditya Wicaksana merekomendasikan investor untuk mencermati saham PT Blue Bird Tbk (BIRD) dengan target harga Rp 1.605- Rp 1.680, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) dengan proyeksi harga di kisaran Rp 2.370- Rp 2.410, serta PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) dengan target harga di Rp 414- Rp 474.

Adapun Head of Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki memberikan rekomendasi untuk mencermati saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) untuk buy on weakness.

Pertimbangan terhadap pergerakan saham MAPA yakni muncul spinning top black candle dengan RSI melemah dan stochastic-nya overbought namun MACD naik dan volume menurun, bisa entry buy jika bertahan di atas 630-an.

Kemudian Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda merekomendasikan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) untuk buy on weakness. Secara trend jangka pendek MTEL masih dalam trend yang sideways. Harga sedang berada di range support-nya pada 498 - 505. Jika mampu bertahan di atas level support tersebut, maka ada potensi rebound jangka pendek menuju resistance terdekatnya pada 530 - 545.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #rupiah #rebalancing #msci #jadi #sentimen #ihsg #ritel #bisa #simak #rekomendasi #saham #dari #analis

KOMENTAR