Wall Street Berakhir Bervariasi, Inflasi dan Perang Iran Bikin Nasdaq Tersungkur
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu AS.
Indeks Nasdaq dan S&P 500 melemah akibat tekanan saham teknologi, meningkatnya inflasi AS, serta kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran yang berpotensi memicu lonjakan harga energi dan memperkecil peluang penurunan suku bunga The Fed tahun ini.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengesampingkan reli pasar saham dan beralih fokus pada musim laporan keuangan kuartal pertama serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Mengutip Reuters pada Rabu (13/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 56,09 poin atau 0,11 persen ke level 49.760,56.
Baca juga: Inflasi AS Tembus 3,8 Persen, Tertinggi sejak Mei 2023
Sementara itu, indeks S&P 500 turun 11,88 poin atau 0,16 persen ke posisi 7.400,96 dan indeks Nasdaq Composite melemah 185,92 poin atau 0,71 persen menjadi 26.088,20.
Dari 11 sektor utama di indeks S&P 500, sektor barang konsumsi non-esensial dan teknologi mencatat penurunan terdalam.
Sebaliknya, sektor kesehatan dan barang konsumsi esensial menjadi penopang penguatan pasar.
Pelemahan saham-saham teknologi menjadi faktor utama yang menyeret Nasdaq ke zona merah.
Di sisi lain, penguatan saham sektor kesehatan, yang ditopang lonjakan saham Humana, membantu menjaga Dow Jones tetap berada di wilayah positif.
Meski mengalami tekanan, indeks S&P 500 dan Nasdaq masih berada dekat level tertinggi sepanjang masa.
Namun, seiring berakhirnya musim laporan keuangan, investor mulai mengalihkan perhatian pada valuasi pasar, kondisi makroekonomi, dan perkembangan geopolitik global.
Indeks PHLX Semiconductor memang turun 3 persen pada perdagangan kali ini.
Namun secara year to date, indeks tersebut masih melonjak 65,4 persen, didorong optimisme pasar terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Prediksi kami adalah agar pasar stabil karena keserakahan terjadi selama musim laporan keuangan dan ketakutan setelahnya,” ujar CEO sekaligus Manajer Portofolio InfraCap di New York, Jay Hatfield.
Dari sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan harga konsumen AS naik lebih cepat dibanding ekspektasi analis pada bulan lalu.
Kondisi tersebut dipicu terganggunya pasokan minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz yang berkaitan dengan perang Iran.
“Inflasi tidak akan membaik kecuali harga minyak turun. Itulah sejarah yang bisa Anda jadikan patokan,” kata Hatfield.
Perang Iran yang kini memasuki minggu ke-11 juga dinilai belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut gencatan senjata berada “dalam kondisi kritis” setelah Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri konflik.
Trump mengatakan Iran tetap bersikeras pada sejumlah tuntutan yang disebutnya sebagai “sampah”. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko konflik berkepanjangan yang dapat memicu lonjakan harga energi dan memperluas tekanan inflasi global.
Situasi tersebut juga hampir memupus harapan pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed tahun ini, terutama setelah Kevin Warsh resmi dikonfirmasi Senat AS sebagai anggota dewan The Fed pada Selasa.
“Warsh tidak akan mampu menurunkan suku bunga bahkan jika dia mau, dan saya rasa dia tidak akan mau,” ujar Hatfield, seraya menambahkan dirinya optimistis terhadap agenda reformasi The Fed yang diusung Warsh.
Berdasarkan alat FedWatch CME, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 meningkat menjadi 30,5 persen, naik dari 21,5 persen pada sehari sebelumnya.
Di sisi lain, pasar juga menanti agenda kunjungan Trump ke Beijing pada pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah isu penting, mulai dari tarif perdagangan, bantuan militer AS ke Taiwan, peran China dalam potensi mediasi perdamaian Iran, hingga perpanjangan perjanjian perdagangan logam kritis dan logam tanah jarang.
Pada perdagangan kali ini, saham Humana melonjak 7,7 persen setelah Bernstein menaikkan target harga saham perusahaan tersebut sebesar 36 persen.
Sementara itu, saham GameStop turun 3,5 persen setelah eBay menolak tawaran akuisisi senilai 56 miliar dollar AS dari perusahaan yang dikenal sebagai pelopor saham meme tersebut.
Saham Zebra Technologies juga melesat 11,4 persen setelah produsen pemindai kode batang itu menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunan, seiring kuatnya permintaan terhadap produk otomasi manufaktur.
Di sisi lain, saham Hims & Hers Health anjlok 14,1 persen setelah perusahaan layanan telemedis tersebut gagal memenuhi ekspektasi Wall Street untuk pendapatan kuartal pertama dan membukukan kerugian tak terduga.
Adapun saham Venture Global melonjak 14,2 persen setelah eksportir gas alam cair atau LNG tersebut menaikkan proyeksi laba inti tahunan yang telah disesuaikan.
Baca juga: Rebalancing MSCI Mei 2026: Saham-saham Prajogo Pangestu hingga AMMN Terdepak
Tag: #wall #street #berakhir #bervariasi #inflasi #perang #iran #bikin #nasdaq #tersungkur